Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Emas Melemah di Tengah Negosiasi AS-Iran, Tetap Diprediksi Naik

Kompas.com, 25 Maret 2026, 15:11 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

Goldman Sachs menilai koreksi harga emas belakangan masih sejalan dengan pola historis. Bank investasi tersebut menyebut ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dan volatilitas pasar sebagai faktor utama penekan harga.

“Kami rasa penurunan ini tidak mengejutkan mengingat kerangka penetapan harga kami yang ada,” ujar Co-Head of Global Commodities Research Goldman Sachs Daan Struyven, dikutip dari CNBC

Ia menambahkan, kenaikan ekspektasi suku bunga telah menekan permintaan investor, terutama melalui exchange-traded fund (ETF) berbasis emas.

Menurut Struyven, periode tekanan pasar ekstrem juga dapat menekan harga emas karena investor yang menghadapi margin call cenderung menjual emas bersama aset lain.

Baca juga: Harga Emas Dunia Terus Melemah, Tertekan Ekspektasi Suku Bunga Tinggi Global

Ia juga menyebut reli harga emas sebelumnya sempat melampaui fundamental, sehingga sebagian koreksi mencerminkan sedikit normalisasi.

Meski demikian, Goldman Sachs tetap mempertahankan pandangan bullish secara struktural terhadap harga emas dunia.

Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini. DOK. Shutterstock. Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini.

Bank tersebut memproyeksikan harga emas dunia mencapai sekitar 5.400 dollar AS per ons pada akhir tahun 2026, didukung pembelian berkelanjutan oleh bank sentral yang berupaya melakukan diversifikasi ke aset dengan risiko geopolitik dan finansial yang lebih rendah.

Pandangan optimistis jangka panjang juga datang dari Presiden Yardeni Research Ed Yardeni. Ia menegaskan tetap mempertahankan target harga emas 10.000 dollar AS per ons pada akhir dekade.

Baca juga: Gejolak Global Dorong Bitcoin (BTC) Ungguli Emas dan Saham

“Kami tetap berpegang pada angka 10.000 dollar AS pada akhir dekade ini,” kata Yardeni melalui e-mail kepada CNBC.

Meski demikian, ia menurunkan proyeksi harga akhir tahun menjadi 5.000 dollar AS per ons dari sebelumnya 6.000 dollar AS, yang masih sekitar 15 persen di atas level saat ini.

Bagi banyak strategist, pelemahan harga emas lebih mencerminkan dislokasi jangka pendek dibanding perubahan fundamental. Risiko geopolitik yang persisten, permintaan kuat dari bank sentral, serta prospek pelemahan dollar AS dinilai tetap menjadi fondasi bullish bagi logam mulia.

Emas secara tradisional dipandang sebagai aset safe haven oleh investor pada periode ketidakstabilan global.

Baca juga: Harga Emas Turun di Tengah Perang Iran, Ini Penyebabnya

Strategist investasi Global X ETFs Justin Lin menyebut koreksi harga saat ini justru menjadi peluang masuk bagi investor.

Ia mempertahankan proyeksi dasar harga emas mencapai 6.000 dollar AS per ons pada akhir tahun dan menggambarkan penurunan terbaru sebagai “titik masuk yang menarik bagi investor.”

 “Aksi jual tampaknya dipicu oleh kombinasi sensitivitas jangka pendek terhadap suku bunga yang lebih tinggi, penyeimbangan kembali portofolio di tengah pelemahan pasar ekuitas, dan tingkat rasa puas diri seputar konflik yang sedang berlangsung di Iran,” ungkap Lin.

Halaman:


Terkini Lainnya
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau