Penulis
Goldman Sachs menilai koreksi harga emas belakangan masih sejalan dengan pola historis. Bank investasi tersebut menyebut ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dan volatilitas pasar sebagai faktor utama penekan harga.
“Kami rasa penurunan ini tidak mengejutkan mengingat kerangka penetapan harga kami yang ada,” ujar Co-Head of Global Commodities Research Goldman Sachs Daan Struyven, dikutip dari CNBC.
Ia menambahkan, kenaikan ekspektasi suku bunga telah menekan permintaan investor, terutama melalui exchange-traded fund (ETF) berbasis emas.
Menurut Struyven, periode tekanan pasar ekstrem juga dapat menekan harga emas karena investor yang menghadapi margin call cenderung menjual emas bersama aset lain.
Baca juga: Harga Emas Dunia Terus Melemah, Tertekan Ekspektasi Suku Bunga Tinggi Global
Ia juga menyebut reli harga emas sebelumnya sempat melampaui fundamental, sehingga sebagian koreksi mencerminkan sedikit normalisasi.
Meski demikian, Goldman Sachs tetap mempertahankan pandangan bullish secara struktural terhadap harga emas dunia.
Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini. Bank tersebut memproyeksikan harga emas dunia mencapai sekitar 5.400 dollar AS per ons pada akhir tahun 2026, didukung pembelian berkelanjutan oleh bank sentral yang berupaya melakukan diversifikasi ke aset dengan risiko geopolitik dan finansial yang lebih rendah.
Pandangan optimistis jangka panjang juga datang dari Presiden Yardeni Research Ed Yardeni. Ia menegaskan tetap mempertahankan target harga emas 10.000 dollar AS per ons pada akhir dekade.
Baca juga: Gejolak Global Dorong Bitcoin (BTC) Ungguli Emas dan Saham
“Kami tetap berpegang pada angka 10.000 dollar AS pada akhir dekade ini,” kata Yardeni melalui e-mail kepada CNBC.
Meski demikian, ia menurunkan proyeksi harga akhir tahun menjadi 5.000 dollar AS per ons dari sebelumnya 6.000 dollar AS, yang masih sekitar 15 persen di atas level saat ini.
Bagi banyak strategist, pelemahan harga emas lebih mencerminkan dislokasi jangka pendek dibanding perubahan fundamental. Risiko geopolitik yang persisten, permintaan kuat dari bank sentral, serta prospek pelemahan dollar AS dinilai tetap menjadi fondasi bullish bagi logam mulia.
Emas secara tradisional dipandang sebagai aset safe haven oleh investor pada periode ketidakstabilan global.
Baca juga: Harga Emas Turun di Tengah Perang Iran, Ini Penyebabnya
Strategist investasi Global X ETFs Justin Lin menyebut koreksi harga saat ini justru menjadi peluang masuk bagi investor.
Ia mempertahankan proyeksi dasar harga emas mencapai 6.000 dollar AS per ons pada akhir tahun dan menggambarkan penurunan terbaru sebagai “titik masuk yang menarik bagi investor.”
“Aksi jual tampaknya dipicu oleh kombinasi sensitivitas jangka pendek terhadap suku bunga yang lebih tinggi, penyeimbangan kembali portofolio di tengah pelemahan pasar ekuitas, dan tingkat rasa puas diri seputar konflik yang sedang berlangsung di Iran,” ungkap Lin.