Penulis
Ia menekankan bahwa pandangan bullish tersebut tidak bergantung pada premi risiko perang semata.
Baca juga: Harga Emas Dunia Sepekan Terburuk Sejak 1983 di Tengah Geopolitik
“Sebaliknya, hal ini dibangun di atas latar belakang yang lebih luas berupa ketidakpastian geopolitik yang terus-menerus, permintaan bank sentral yang berkelanjutan, dan arus masuk yang berkelanjutan dari investor ETF emas Asia,” imbuh dia.
Ilustrasi emas. Lin menilai permintaan struktural, khususnya dari bank sentral negara berkembang yang ingin mendiversifikasi cadangan devisa, berpotensi menjadi penopang harga.
Ia juga melihat adanya kemungkinan yang besar bahwa bank sentral meningkatkan pembelian setelah koreksi tajam, sehingga membantu menstabilkan pasar.
Standard Chartered juga mempertahankan pandangan konstruktif terhadap emas dalam jangka panjang.
Baca juga: Harga Emas Loyo, Saham Tambang Tertekan Konflik di Timur Tengah
Senior Investment Strategist bank tersebut Rajat Bhattacharya mengatakan faktor struktural seperti permintaan bank sentral negara berkembang dan diversifikasi investor di tengah risiko geopolitik tetap menjadi pendorong utama.
“Kami tetap optimistis terhadap emas dalam jangka panjang, didukung oleh faktor-faktor struktural, termasuk permintaan yang kuat dari bank sentral negara-negara berkembang dan diversifikasi investor di tengah risiko geopolitik,” terang Bhattacharya.
Bank tersebut memperkirakan harga emas dunia berpotensi rebound menuju 5.375 dollar AS per ons dalam tiga bulan ke depan setelah fase deleveraging mereda. Level dukungan teknikal diperkirakan berada di sekitar 4.100 dollar AS.
Ia juga menilai pelemahan dollar AS dapat menjadi katalis penting bagi pemulihan harga.
Baca juga: Harga Emas Dunia Anjlok ke Level Terendah 4 Bulan saat Harga Minyak Naik
“Dollar AS yang lebih lemah seharusnya sekali lagi mendukung harga emas,” tutur Bhattacharya.
Di sisi lain, perkembangan harga minyak tetap menjadi variabel penting bagi arah emas. Penurunan harga energi berpotensi meredakan tekanan inflasi global, yang pada gilirannya dapat meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Dengan kombinasi faktor moneter, geopolitik, dan dinamika pasar komoditas, pergerakan harga emas dalam waktu dekat diperkirakan akan tetap sensitif terhadap ekspektasi suku bunga, kekuatan dollar AS, serta perkembangan negosiasi konflik di Timur Tengah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang