Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Selat Hormuz Diblokade, RI Negosiasi Agar Kapal Pertamina Bisa Melintas

Kompas.com, 27 Maret 2026, 18:16 WIB
Yohana Artha Uly,
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan Indonesia masih terus bernegosiasi dengan pihak Iran agar dua kapal tanker milik Pertamina bisa melewati Selat Hormuz.

Saat ini terdapat dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) masih tertahan di Teluk Arab.

"Kita masih komunikasi terus. Memang tidak mudah untuk kita bisa melakukan bagaimana caranya agar kapal kita keluar dari Selat Hormuz," ujar Bahlil di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (27/3/2026).

Baca juga: Iran Beri Syarat Lintasi Selat Hormuz, Dua Kapal Pertamina Masih Tertahan di Teluk Arab

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat ditemui di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (27/3/2026).KOMPAS.com/YOHANA ARTHA ULY Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat ditemui di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (27/3/2026).

Diketahui, Iran masih memblokade akses pelayaran di Selat Hormuz seiring memanasnya konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel di kawasan tersebut.

Hanya kapal dari beberapa negara yang baru diizinkan lewat.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dunia.

Bahlil pun menegaskan bahwa koordinasi intensif masih terus dibangun pemerintah Indonesia dengan Iran untuk mengeluarkan dua kapal RI dari kawasan konflik tersebut.

Baca juga: Iran Buka Terbatas Selat Hormuz, Begini Keadaan Dua Kapal Pertamina di Teluk Arab

"Tapi komunikasi terus kita bangun," ucap dia.

Adapun dua kapal tanker Indonesia yang masih berada di Teluk Arab adalah VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro.

Kapal Gamsunoro melayani kargo milik konsumen pihak ketiga (third party), sedangkan VLCC Pertamina Pride mengangkut pasokan minyak mentah (light crude oil) untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

Sementara itu, Iran baru-baru ini sudah mengizinkan kapal-kapal dari negara tetangga, seperti Thailand dan Malaysia untuk melewati Selat Hormuz.

Ilustrasi Selat Hormuz.Google Maps Ilustrasi Selat Hormuz.

Baca juga: 2 Kapal Pertamina Tertahan di Timteng, Bahlil: Masih Negosiasi, Antrean Panjang

Kapal tanker milik Bangchak Corporation, perusahaan asal Thailand telah melintasi Selat Hormuz dengan aman pada Senin (23/3/2026), setelah Bangkok dan Iran melakukan koordinasi diplomatik.

Pelayaran aman kapal tanker Thailand ini terjadi dua minggu setelah kapal pengangkut berbendera Thailand, Mayuree Naree, sempat diserang proyektil di selat tersebut.

Menurut Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow, dirinya melakukan pembicaraan dengan Duta Besar Iran untuk Thailand, Nasereddin Heydari, dan meminta agar kapal-kapal asal negaranya bisa dibantu melewati selat dengan aman.

"Mereka menjawab bahwa mereka akan mengurusnya dan meminta kami menyampaikan daftar kapal yang akan melintas," ujar Sihasak sebagaimana dikutip Bangkok Post.

Baca juga: Pertamina Cari Sumber Impor Minyak Alternatif di Tengah Ketegangan Selat Hormuz

Sementara Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim menyatakan kapal-kapal Malaysia kini telah diizinkan melintas di Selat Hormuz, setelah melakukan komunikasi dengan sejumlah pemimpin kawasan, termasuk Iran, Mesir, dan Turki.

Pemerintah Malaysia saat ini tengah memproses pembebasan kapal tanker minyak negaranya, beserta para pekerjanya agar dapat melanjutkan perjalanan pulang.

"Kami sekarang sedang dalam proses membebaskan kapal tanker minyak Malaysia dan para pekerja yang terlibat agar mereka dapat melanjutkan perjalanan pulang," ujar Anwar, dikutip dari Reuters, Jumat (27/3/2026).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau