Penulis
NEW YORK, KOMPAS.com — Risiko ekonomi global akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran dinilai dapat meningkat tajam apabila Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali dalam satu hingga tiga minggu ke depan.
Sejumlah pimpinan industri minyak dan analis menilai, bahkan jika jalur tersebut kembali beroperasi, dampak gangguan pasokan energi berpotensi bertahan lebih lama dan mendorong harga tetap tinggi.
Sejauh ini, risiko tersebut belum sepenuhnya tercermin pada sejumlah indikator pasar utama, termasuk pergerakan saham global dan harga minyak acuan Brent.
Baca juga: Update Terkini: Iran Beri Lampu Hijau Kapal Pertamina di Selat Hormuz
Ilustrasi Selat Hormuz.Berbagai langkah sementara untuk meredam dampak penghentian pasokan minyak masih menjaga harga relatif lebih rendah di pasar AS dan Eropa.
Namun, analis memperingatkan bahwa efektivitas langkah-langkah tersebut diperkirakan akan memudar pada awal hingga pertengahan April 2026.
Ketika itu terjadi, pemerintah AS maupun negara lain dinilai memiliki ruang terbatas untuk menahan lonjakan harga energi.
Dikutip dari CNBC, Sabtu (28/3/2026), gangguan pasokan dipicu oleh serangan Iran terhadap kapal sipil dan infrastruktur energi di kawasan sekitarnya, yang menyebabkan lalu lintas di Selat Hormuz terhenti.
Baca juga: Selat Hormuz Diblokade, RI Negosiasi Agar Kapal Pertamina Bisa Melintas
Jalur laut sepanjang sekitar 160 kilometer tersebut merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global.
Sebagian pasokan minyak memang dialihkan melalui jalur pipa, tetapi kapasitasnya terbatas. AS bersama negara lain juga telah melepas sekitar 400 juta barrel minyak dari cadangan strategis, yang menjadi pelepasan terbesar sepanjang sejarah.
Selain itu, Washington untuk sementara melonggarkan sanksi terhadap sebagian ekspor minyak Rusia dan Iran guna memberi ruang bagi pasar.
Ilustrasi harga minyak dunia.Pemerintah AS menyatakan strategi militer Presiden Donald Trump diyakini akan segera mengakhiri ancaman dari Iran, sehingga tekanan harga energi dapat mereda.
Baca juga: Iran Izinkan 10 Kapal Lewat Selat Hormuz, Harga Minyak Terkoreksi
Meski demikian, pelaku industri menilai tidak ada pengganti bagi pembukaan kembali Selat Hormuz.
CEO Chevron Mike Wirth mengatakan, dampak penutupan jalur tersebut sudah mulai terasa secara nyata di berbagai belahan dunia.
“Ada manifestasi fisik yang sangat nyata dari penutupan Selat Hormuz yang dampaknya terasa di seluruh dunia,” ujar Wirth dalam forum energi CERAWeek yang digelar oleh S&P Global di Houston, Texas, AS.
Senada, CEO Shell Wael Sawan menyebut gangguan yang awalnya terjadi di Asia Selatan kini telah meluas.
Baca juga: Iran Buka Akses, Kapal Tanker Malaysia Diizinkan Lewati Selat Hormuz