Editor
JAKARTA, KOMPAS.com – PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC), emiten teknologi informasi, menyiapkan langkah pendanaan baru melalui right issue untuk menjaga likuiditas jelang jatuh tempo obligasi pada 2026.
Langkah ini diambil setelah perusahaan menghadapi kewajiban obligasi yang akan jatuh tempo pada 11 Juli 2026 dengan nilai sekitar Rp 559,99 miliar.
Keputusan strategis tersebut dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Jumat (27/03/2026), yang juga menyetujui pengunduran diri Ignasius Jonan dari posisi Presiden Komisaris sekaligus Komisaris Independen.
Pengunduran diri ini akan efektif setelah masa transisi hingga pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST).
“Merupakan sebuah kehormatan bagi saya dapat menjadi bagian dari perjalanan transformasi Anabatic Technologies,” ujar Ignasius Jonan, melalui keterangan pers, Minggu (29/3/2026).
“Dalam beberapa tahun terakhir, kita bersama-sama membangun fondasi lebih kuat melalui penguatan tata kelola, disiplin keuangan, serta fokus pada pertumbuhan yang berkelanjutan.”
Baca juga: Tak Perpanjang Tender Offer, PIPA Siapkan Rebranding dan Right Issue
Manajemen menilai, transformasi yang dilakukan sejak 2021 telah memperkuat fondasi bisnis perusahaan.
Selama periode tersebut, Anabatic mencatat perbaikan tata kelola, peningkatan disiplin operasional, serta pembenahan struktur keuangan. Kinerja perusahaan pun menunjukkan tren pertumbuhan positif selama empat tahun berturut-turut, dengan kondisi neraca yang semakin membaik dan laba ditahan yang mendekati titik impas.
“Anabatic Technologies menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya atas kontribusi dan kepemimpinan Ignasius Jonan selama kurang lebih lima tahun terakhir,” ujar Presiden Direktur Anabatic Technologies Harry Surjanto Hambali.
“Kami berterima kasih atas bimbingan dan kontribusi terbaik yang telah beliau berikan selama masa kepemimpinannya.”
Baca juga: Minat Investor Tinggi, Right Issue Saham INET Oversubscribe
Tekanan likuiditas muncul setelah pemegang obligasi, TIS Inc., memilih skema pembayaran tunai atas obligasi yang dimiliki.
Konfirmasi tersebut diterima pada 29 Januari 2026, atas obligasi dengan saldo sekitar Rp 559,99 miliar yang akan jatuh tempo pada Juli 2026.
Di sisi lain, posisi kas perusahaan per September 2025 tercatat sekitar Rp 445,29 miliar. Kondisi ini menjadi pertimbangan utama manajemen untuk menjaga kecukupan dana operasional sekaligus memenuhi kewajiban keuangan.