JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran sulaiman, menyebut bahan baku nabati untuk mencukupi kebutuhan etanol 20 persen (E20) cukup.
Adapun E20 menjadi substitusi untuk bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin yang masih didominasi impor.
“Sudah pasti cukup. Kita tanam. Kita akan tanam sekarang. Penanaman tebu, penanaman singkong, penanaman sawit,” kata Amran dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Senin (30/3/2026).
Baca juga: Bahlil Wajibkan BBM Campur Etanol 20 Persen pada 2028 untuk Tekan Impor Bensin
Ilustrasi BBM dengan campuran etanolAmran mengatakan, saat ini Indonesia bahkan mengekspor molases atau tetes tebu hingga 3 juta ton yang bisa digunakan untuk bahan baku etanol.
“Ini bisa dijadikan dan bisa meng-etanol 300 ribu,” ujar Amran.
Amran lantas menyebut, Brasil saat ini telah berhasil menerapkan E27 persen.
Adapun pemerintah Indonesia mewajibkan E20 pada 2028.
Baca juga: Purbaya Tanggapi Aduan Pertamina Soal Cukai Etanol, Pangkas Aturan Ribet
Menurut Amran, penerapan substitusi bahan bakar berbasis nabati terus berkembang dan menuju 100 persen.
Sebab, produsen kendaraan bermotor telah mengembangkan mesin Flexible Fuel Vehicle (FFV) Engine atau mesin yang bisa beroperasi menggunakan bensin, etanol, maupun campuran keduanya.
“Arahan Bapak Presiden ini enggak boleh putus. Ini kalau konsisten. 10 tahun. Ini bisa kita mandiri. Karena etanol ini bisa dengan engine-nya flexi,” tutur Amran.
Selain etanol, minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebagai bahan baku biodiesel untuk substitusi solar 40 persen (B40) juga sudah cukup.
Ilustrasi pencampuran bahan bakar nabati jenis biodiesel ke dalam bahan bakar minyak jenis solar 40 persen atau B40Baca juga: Dilirik untuk Etanol, Industri Pati Ubi Kayu Digenjot
Ekspor CPO pada 2025 tercatat mencapai 32 juta ton atau naik 6 juta ton pada 2025.
Menurutnya, kenaikan tersebut tidak terlepas dari kebijakan Presiden Prabowo Subianto.
Sementara, harga CPO di pasar dunia saat ini sedang terkerek naik.
“Karena harga naik dunia. Petani berproduksi. surplus 6 juta ton. Jadi hebat kebijakan. Itu baru kebijakan,” ujar Amran.
Baca juga: Curhat Bahlil: Ke Mana-mana Saya Dibilang Mr. Menteri Etanol
Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku nabati pada substitusi BBM, Kementan menggelar rapat dengan Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) yang diikuti sejumlah perusahaan pelat merah.
Dalam waktu ke depan, Kementan akan mempererat kolaborasi dengan BUMN untuk mendukung swasembada energi.
Menurutnya, kebijakan ini merupakan tindak lanjut sikap berani Prabowo dalam mengambil keputusan strategis untuk negara.
“Sudah tetapkan masing-masing BUMN pangan, kita kolaborasi. Karena pangan selesai kita beralih ke energi,” ucap Amran.
Baca juga: Wamen Investasi Bahas Pengolahan Etanol dengan Toyota, Apa Hasilnya?
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah akan mewajibkan campuran E20 persen mulai 2028.
Kebijakan itu ditetapkan untuk menekan ketergantungan impor BBM jenis bensin.
Pada 2025, produksi bensin Indonesia mencapai 14,27 juta kiloliter. Sementara, konsumsi bensin tanah air mencapai 37,3 juta kiloliter.
Artinya, Indonesia masih mengimpor 23,03 juta kiloliter.
Baca juga: Pemerintah Pastikan Program Etanol Tak Korbankan Kebutuhan Pangan Masyarakat
“Kami akan mendorong yang namanya etanol, E20 pada 2028,” ujar Bahlil dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/3/2026).
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang