JAKARTA, KOMPAS.com - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu jalur distribusi energi global masih membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dalam skenario terburuk, indeks diproyeksikan turun hingga ke level 6.800-6.900 dalam jangka pendek.
Tekanan terhadap pasar saham domestik dinilai belum sepenuhnya mereda. Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan saat ini pasar berada dalam fase risk off, di mana investor global cenderung menghindari aset berisiko akibat meningkatnya ketidakpastian.
Menurutnya, eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang mendorong perubahan sentimen tersebut, terutama jika berdampak pada penutupan atau terganggunya jalur strategis seperti Selat Hormuz, yang merupakan salah satu arteri utama distribusi minyak dunia.
“Tekanan terhadap IHSG saat ini memang belum sepenuhnya berakhir karena pasar sedang berada dalam fase risk off akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi menutup Selat Hormuz,” ujar Hendra kepada Kompas.com, Senin malam (30/3/2026).
Baca juga: IHSG Ditutup Melemah ke Level 7.091, Mayoritas Saham di Zona Merah
Jika konflik berkepanjangan dan mendorong harga minyak melonjak hingga di atas 130 dollar AS sampai 150 dollar AS per barrel, maka risiko yang dihadapi tidak hanya terbatas pada sektor energi, tetapi juga menjalar ke stabilitas ekonomi global.
“Jika skenario terburuk terjadi, yaitu perang berlangsung lebih lama dan harga minyak naik ke atas 130-150 dollar AS per barrel, maka risiko yang muncul adalah lonjakan inflasi global, suku bunga bertahan tinggi lebih lama, dan rupiah tertekan,” paparnya.
Dalam kondisi tersebut, nilai tukar rupiah berisiko mengalami tekanan lanjutan, yang pada akhirnya dapat memicu arus keluar dana asing dari pasar saham domestik. Dampaknya, IHSG berpotensi kembali melemah dan menguji level psikologis di 7.000.
Bahkan, dalam skenario terburuk, indeks diperkirakan bisa turun lebih dalam ke area 6.800-6.900. Meski demikian, Hendra menilai bahwa penurunan di bawah 7.000 kemungkinan hanya bersifat sementara saja.
Baca juga: IHSG Terkoreksi, Dana Asing Keluar Rp 3,8 Triliun Saat Harga Minyak Melonjak
Hal itu karena fundamental ekonomi Indonesia masih relatif solid, ditopang oleh konsumsi domestik yang terjaga, inflasi yang relatif terkendali, serta kebijakan moneter yang cenderung stabil.
“Penurunan ke bawah 7.000 kemungkinan hanya bersifat sementara karena secara fundamental ekonomi Indonesia masih relatif stabil, sehingga level 6.800-6.900 bisa menjadi area support kuat IHSG dalam skenario krisis geopolitik berkepanjangan,” beber Hendra.
Di tengah tekanan global tersebut, terdapat sejumlah faktor domestik yang dapat menjadi penahan laju penurunan IHSG. Stabilitas inflasi dalam negeri menjadi salah satu kunci, di samping kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang masih berada dalam koridor terjaga.
Selain itu, potensi belanja pemerintah juga diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat, sehingga aktivitas konsumsi tetap berjalan dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca juga: Prediksi IHSG Pekan Ini: Volatilitas Tinggi, Sektor Energi Jadi Penyelamat?