JAKARTA, KOMPAS.com - Saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tertekan akibat sentimen perang di Timur Tengah, analis merekomendasikan sejumlah saham berbasis komoditas dan energi untuk strategi trading pada perdagangan Selasa (31/3/2026).
Saham-saham yang direkomendasikan dinilai berpotensi outperform di tengah volatilitas pasar.
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, memandang bahwa tekanan terhadap IHSG belum sepenuhnya berakhir seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong pasar masuk ke fase risk off.
Menurutnya, risiko utama berasal dari potensi terganggunya jalur distribusi energi global seperti Selat Hormuz. Jika skenario terburuk terjadi, yakni konflik berlangsung lebih lama dan harga minyak melonjak ke kisaran 130- 150 dollar AS per barrel, maka dampaknya akan signifikan terhadap perekonomian global.
Baca juga: Trading Tak Hanya Soal Arah Harga, Biaya Tersembunyi Jadi Penentu
Dalam kondisi seperti itu, bukan tidak mungkin IHSG bisa kembali turun dan menguji level psikologis 7.000, bahkan dalam skenario terburuk bisa turun ke kisaran 6.800-6.900.
“Namun penurunan ke bawah 7.000 kemungkinan hanya bersifat sementara karena secara fundamental ekonomi Indonesia masih relatif stabil, sehingga level 6.800-6.900 bisa menjadi area support kuat IHSG dalam skenario krisis geopolitik berkepanjangan,” ujar Hendra kepada Kompas.com, Senin malam (30/3/2026).
Menurutnya, ketika harga minyak, batu bara, dan komoditas energi naik, Indonesia justru diuntungkan dari sisi ekspor komoditas, sehingga saham-saham energi dan tambang menjadi penopang IHSG.
Baca juga: Mengenal Tren Algorithmic Trading: Saat Sistem Otomatis Membaca Pasar
“Itu sebabnya kita melihat terjadi dikotomi di pasar, dimana saham energi naik tetapi saham perbankan dan consumer turun. Artinya IHSG tidak jatuh terlalu dalam karena ditopang oleh sektor komoditas yang sedang menikmati supercycle akibat perang,” paparnya.
Untuk perdagangan Selasa (31/3/2026), Hendra merekomendasikan investor untuk tetap selektif dan tidak agresif. Strategi bertahap dinilai lebih relevan ketika volatilitas pasar sedang tinggi.
Ia menyarankan investor fokus pada saham-saham yang diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas, memiliki fundamental kuat, serta menawarkan dividen yield yang menarik.
Baca juga: IHSG Ditutup Melemah ke Level 7.091, Mayoritas Saham di Zona Merah
Beberapa saham yang dapat dicermati antara lain:
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan strategi trading buy dan target harga di level Rp 3.500, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dengan rekomendasi speculative buy dan target Rp 2.100, serta PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan speculative buy dan target 280.
Selain itu, saham sektor perkebunan seperti PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) juga direkomendasikan dengan strategi trading buy dan target harga di level Rp 1.600.
“Saham-saham ini berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga energi dan komoditas serta pelemahan rupiah, sehingga berpotensi menjadi outperform di tengah IHSG yang masih berfluktuasi,” pungkasnya.
Baca juga: Asing Borong Saham Energi dan Tambang, AADI hingga PTBA Pimpin Net Buy
Saham lain yang juga masuk dalam direkomendasikan analis sebagai berikut: