JAKARTA, KOMPAS.com - PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) mengatakan penyaluran kredit masih akan berfokus pada industri bisnis yang ada di sekitar Jawa Timur.
Direktur Keuangan, Treasury, and Global Services Bank Jatim RM Wahyukusumo Wisnubroto mengatakan, industri di Jawa Timur dinilai sangat resilien dibandingkan dengan industri yang ada di kawasan Jawa Barat dan Bekasi (Jababeka).
"Kita kan banyak industri seperti consumer goods, kemudian food and beverage dan sebagainya yang relatif lebih resilien dibandingkan dengan industri seperti elektronik, otomotif, dan lain-lain," kata dia dalam Pemaparan Publik Kinerja Keuangan Bank Jatim Tahun 2025, Senin (30/3/2026).
Ia menambahkan, penyaluran kredit ke sektor usaha di Jawa Timur juga masih akan menyasar segmen pertanian.
"Jawa Timur juga merupakan lumbung pangan nasional, sebagai lumbung pangan nasional, pertanian dan perternakan itu rata-rata menjadi penyuplai nasional baik di pertanian seperti padi dan di peternakan ayam, sapi, susu," terang dia.
Baca juga: Bank Jatim Bukukan Laba Bersih Rp 1,54 Triliun, Tumbuh 20,65 Persen
Dengan demikian, Wahyukusumo memproyeksikan penyaluran kredit ke industri yang ada Jawa Timur masih akan bertumbuh tahun ini.
Terkait dengan kondisi geopolitik, Bank Jatim mengaku dampak yang dirasakan tidak begitu signifikan terhadap aktivitas bisnis perbankan.
"Tidak sesignifikan beberapa bank yang ada berorientasi terhadap hubungan ekonomi dengan luar negeri, misalnya ekspor impor," ungkap dia.
Sebaliknya, Bank Jatim memiliki orientasi penyaluran kredit ke segmen konsumer dan kredit mikro.
"Memang nanti ada dampaknya juga ke segmen mikro dan kecil, tapi dengan penguatan yang sudah disampaikan, kondisi resiliensinya Jawa Timur," ungkap dia.
Baca juga: Bank Jatim (BJTM) Resmi Kendalikan Bank Lampung, Disetujui OJK
Wahyukusumo bilang, Bank Jatim memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan perbankan yang tidak bermain di sektor kecil dan mikro.
Sebagai informasi, Bank Jatim mencatat penyaluran kredit (bank only) senilai Rp 67,24 triliun sepanjang 2025.
Angka tersebut tumbuh konservatif 4,98 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama dibandingkan tahun lalu.
Kendati mencatat pertumbuhan single digit, Bank Jatim mampu meraup laba bersih senilai Rp 1,54 triliun sepanjang 2025. Angka ini naik 20,65 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Baca juga: Suntik Rp 100 M, Bank Jatim (BJTM) Jadi Pemegang Saham Pengendali Bank NTT
Direktur Utama Bank Jatim Winardi Legowo menjelaskan alasan di balik laba bersih Bank Jatim yang tumbuh tinggi meskipun pertumbuhan kredit cederung konservatif.
Ia menjabarkan, pendapatan laba bersih merupakan turunan dari revenue (pendapatan) dikurangi biaya.
Salah satu aspek yang mendorong pendapatan adalah kredit atau pendapatan bunga kredit.
"Ini pun masih kami tumbuhkan. Namun di sisi yang lainnya kami lakukan penguatan atau penghematan dari sisi biaya. Caranya kami mendorong pertumbuhan dana murah," ungkap dia.
Ia menambahkan, komposisi penyaluran kredit tersebut terdiri dari kredit konsumer Rp 36,54 triliun atau meningkat 6,20 persen secara tahunan atau year to year (yoy) dan kredit produktif sebesar Rp 30,7 triliun atau meningkat 3,55 persen secara tahunan (yoy).
Winardi menjelaskan, pada 2025, fokus manajemen menitikberatkan pada penetrasi dana murah dengan menggunakan pola pendekatan transaction banking dan juga berbasis pada bisnis ekosistem untuk meningkatkan jumlah dana dan juga jumlah nasabah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang