Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Emas Dunia Bersiap Catat Penurunan Bulanan Terbesar Sejak 2008

Kompas.com, 31 Maret 2026, 19:43 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

Sumber CNBC

NEW YORK, KOMPAS.com - Harga emas dunia menguat pada perdagangan Selasa (31/3/2026) pagi waktu setempat, namun logam mulia tersebut masih berada di jalur untuk mencatat penurunan bulanan terbesar dalam hampir 17 tahun terakhir.

Dikutip dari CNBC, pada pukul 03.30 waktu setempat, harga spot emas AS tercatat naik sekitar 1 persen ke level 4.553,69 dollar AS per ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas bulan terdepan naik 0,6 persen menjadi sekitar 4.553 dollar AS.

Kenaikan ini terjadi di tengah ketidakpastian yang masih berlanjut terkait konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang telah memasuki pekan kelima.

Baca juga: Antam Daftar Lelang Blok Emas di Arab Saudi

Ilustrasi emas. Freepik Ilustrasi emas.

Laporan The Wall Street Journal menyebutkan, Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada para penasihatnya bahwa ia bersedia mengakhiri aksi militer terhadap Iran meskipun Selat Hormuz tetap sebagian besar tertutup.

Dalam unggahan di Truth Social, Trump juga menyatakan bahwa Washington tengah melakukan “diskusi serius” dengan pejabat Iran.

Namun, ia memperingatkan bahwa jika kesepakatan tidak segera tercapai, pasukan AS akan menyerang fasilitas listrik, sumur minyak, serta Pulau Kharg yang menjadi infrastruktur penting.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kepada Al Jazeera bahwa tujuan Washington di Iran dapat tercapai dalam “hitungan minggu, bukan bulan”.

Baca juga: Prospek Emas hingga 2026: Tinjauan Inflasi AS dan Kebijakan Bank Sentral

Sementara itu, Reuters melaporkan sekitar 2.500 marinir AS telah tiba di Timur Tengah pada akhir pekan lalu. Pejabat yang tidak disebutkan namanya menyebut pasukan tersebut berasal dari Divisi Lintas Udara ke-82.

Konflik di Timur Tengah turut menekan harga emas, seiring lonjakan harga minyak dan gas yang meningkatkan ekspektasi lonjakan inflasi global. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan kenaikan suku bunga di berbagai negara.

Ilustrasi emas. Harga emas dunia bergerak stabil di kisaran 4.500 dollar AS per ons seiring pasar mencermati perbedaan sikap AS dan Iran dalam upaya mengakhiri perangs.DOK. Pixabay/Global_Intergold. Ilustrasi emas. Harga emas dunia bergerak stabil di kisaran 4.500 dollar AS per ons seiring pasar mencermati perbedaan sikap AS dan Iran dalam upaya mengakhiri perangs.

Secara bulanan, harga emas spot kini berada di jalur penurunan sebesar 14,6 persen. Jika terealisasi, ini akan menjadi penurunan bulanan terbesar sejak Oktober 2008, ketika harga emas jatuh 16,8 persen.

Investment Manager Shackleton Advisers, Wayne Nutland, mengatakan bahwa dalam empat tahun terakhir terjadi perubahan signifikan dalam pola perdagangan emas.

Baca juga: Harga Emas Pegadaian Hari Ini (31/3) Kompak Menguat, UBS-Galeri 24 Naik Rp 38.000

“Sebelum perang Ukraina, harga emas cenderung berbanding terbalik dengan imbal hasil obligasi riil dan dollar AS, dengan harga emas naik ketika metrik tersebut turun, dan harga emas turun ketika metrik tersebut naik,” ujarnya.

Ia menambahkan, setelah perang Ukraina, hubungan tersebut sempat berubah, terutama sepanjang 2025 hingga awal 2026 ketika harga emas melonjak tajam melampaui pola historisnya.

“Periode setelah perang Ukraina mengubah hubungan ini secara drastis, khususnya pada tahun 2025 dan awal 2026 ketika harga emas naik sangat tajam, jauh melebihi pergerakan yang disarankan oleh hubungan historis tersebut,” kata Nutland.

Namun, menurut dia, pasca konflik di Timur Tengah, harga emas kembali mengikuti pola tradisionalnya.

Baca juga: Harga Emas Dunia Naik, Dipicu Ketegangan AS-Iran

“Imbal hasil obligasi dan dollar AS sama-sama meningkat, dan di tengah kondisi ini, emas menunjukkan sensitivitas terbalik tradisionalnya terhadap metrik-metrik tersebut, sehingga harganya turun,” ujarnya.

“Penurunan harga emas mungkin juga diperparah oleh kuatnya harga emas menjelang tahun 2026 dan kemungkinan keinginan para investor untuk melikuidasi posisi yang menguntungkan," terang dia.

Chief Investment Officer Netwealth, Iain Barnes, mengatakan volatilitas harga emas dalam beberapa bulan terakhir meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan rata-rata historis, didorong oleh meningkatnya partisipasi investor finansial.

Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini. DOK. Shutterstock. Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini.

“Bank sentral internasional yang berupaya mendiversifikasi cadangan mereka dari dollar AS mungkin telah memulai pasar bullish emas dalam beberapa tahun terakhir, tetapi pada akhirnya pasar kehabisan pembeli keuangan baru dan malah menyaksikan aksi ambil untung yang meluas karena ketidakpastian yang lebih luas melanda pasar dan dollar AS pulih,” tulisnya dalam e-mail kepada CNBC.

Baca juga: Harga Emas Turun Saat Dunia Bergejolak: Ada Apa Sebenarnya?

Barnes juga menilai terdapat kemiripan dengan kondisi tahun 2008, meskipun latar belakang ekonomi dan pasar berbeda.

“Pada paruh pertama tahun 2008, investor semakin memperkuat investasi mereka pada prospek pertumbuhan pasar negara berkembang, yang memicu kenaikan harga komoditas seiring dengan pelemahan dollar AS bahkan ketika ekonomi negara-negara Barat mengalami kemerosotan,” ucapnya.

Ia melanjutkan, ketika krisis keuangan global meluas, selera risiko investor anjlok dan harga emas ikut terdampak bersamaan dengan komoditas lain seperti minyak dan tembaga akibat penguatan dollar AS.

“Tahun ini, pasar kembali menemukan di mana investor paling terekspos: posisi berlebihan pada emas karena dianggap sebagai aset safe haven terakhir yang tersisa,” kata Barnes.

Baca juga: Harga Emas Diproyeksi Menguat hingga Akhir 2026, Apa Alasannya?

Dalam catatan terpisah, analis Goldman Sachs menyatakan tetap optimistis terhadap prospek emas meskipun terjadi aksi jual akibat konflik Iran.

Mereka mencatat pasar telah menyesuaikan ekspektasi kebijakan moneter The Fed menjadi satu kali atau bahkan tanpa pemangkasan suku bunga tahun ini.

“(Namun) kami terus memperkirakan harga emas akan mencapai 5.400 dollar AS per ons pada akhir tahun 2026, seiring dengan berlanjutnya diversifikasi bank sentral, normalisasi posisi spekulatif yang saat ini rendah, dan The Fed memberikan pemotongan suku bunga sebesar 50 basis poin seperti yang diharapkan oleh para ekonom kami,” tulis analis Goldman Sachs.

Meski demikian, mereka juga mengingatkan, risiko jangka pendek masih cenderung ke arah penurunan, terutama jika gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut dan memicu likuidasi lebih lanjut di pasar emas.

Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini (31/3), Wajib Tahu Sebelum Beli

“Dalam jangka menengah, risiko cenderung meningkat jika episode Iran, bersamaan dengan perkembangan geopolitik yang lebih luas (misalnya, Greenland, Venezuela), mempercepat diversifikasi ke emas dan membebani persepsi keberlanjutan fiskal Barat,” tulis mereka.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
 KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
Ekbis
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
Ekbis
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau