HOUSTON, KOMPAS.com - Harga minyak dunia melemah pada akhir perdagangan Selasa (31/3/2026) waktu setempat atau Rabu (1/4/2026) pagi WIB, setelah muncul laporan media yang menyebut Iran siap mengakhiri perang dengan sejumlah syarat.
Mengutip Reuters, kontrak minyak Brent untuk pengiriman Juni turun 3,42 dollar AS ke level 103,97 dollar AS per barrel, tertekan oleh laporan bahwa Presiden Iran Masoud Pezeshkian membuka peluang mengakhiri konflik jika ada jaminan tertentu.
Sementara harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) jenis West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,50 dollar AS atau 1,46 persen ke posisi 101,38 dollar AS per barrel.
Di sisi lain, kontrak Brent untuk Mei, yang telah berakhir, justru ditutup naik 5,57 dollar AS atau 4,94 persen ke level 118,35 dollar AS per barrel.
Adapun sepanjang Maret, harga minyak tercatat mengalami lonjakan tajam. Brent mencatat kenaikan bulanan hingga 64 persen, tertinggi sejak 1988. Sementara WTI melonjak sekitar 52 persen, terbesar sejak Mei 2020.
Kenaikan ini dipicu eskalasi konflik Iran yang mengganggu infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah dan menyebabkan gangguan pasokan minyak dan gas terburuk dalam sejarah.
Baca juga: Wall Street Menguat Imbas Optimisme Perang Iran-AS Mereda
Analis Again Capital, John Kilduff, mengatakan bahwa pernyataan Presiden Iran berpotensi menekan harga jika konflik benar-benar mereda.
"Sekali lagi, pasar seperti kehilangan pijakan akibat pernyataan yang diduga dari Presiden Iran. Jika permusuhan segera berakhir, maka Selat Hormuz bisa dibuka kembali dan pasokan akan kembali ke pasar, sehingga menghilangkan sebagian besar premi risiko dalam harga," ujarnya.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, sehingga setiap gangguan langsung memicu lonjakan harga.
Survei Reuters juga menunjukkan produksi minyak OPEC anjlok 7,3 juta barrel per hari pada Maret menjadi 21,57 juta barrel per hari, level terendah sejak puncak pandemi Covid-19 pada Juni 2020, akibat pemangkasan ekspor secara paksa.
Meski demikian, pasar masih diliputi ketidakpastian. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperingatkan bahwa jika Iran tidak mencapai kesepakatan damai, konflik akan berlanjut dengan intensitas lebih tinggi dalam beberapa hari ke depan.
Baca juga: Trump Ingin Kuasai Minyak Iran, Harga Minyak Dunia Melonjak
Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Iran mengancam akan menargetkan perusahaan-perusahaan AS di kawasan mulai Rabu, sebagai balasan atas serangan terhadap Iran.
"Dengan cadangan penyangga pasar yang semakin menipis, kerentanan terhadap penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan membuat kita semakin dekat pada potensi kekurangan minyak fisik di berbagai wilayah, dan momentum kenaikan harga kemungkinan akan semakin menguat," ujar Analis Rystad Energy, Lin Ye.
Di tengah sinyal diplomatik yang masih beragam, pelaku pasar menilai ketidakpastian akan tetap tinggi. Selain itu, insiden serangan terhadap kapal tanker minyak Kuwait di pelabuhan Dubai serta lonjakan persediaan minyak mentah AS turut menambah volatilitas pasar dalam beberapa hari terakhir.
"Meskipun ada sinyal diplomatik, realitas di lapangan menunjukkan ketidakpastian akan terus berlanjut. Bahkan jika terjadi de-eskalasi, pemulihan infrastruktur yang rusak akan memakan waktu sehingga pasokan tetap ketat," ujar pendiri SS WealthStreet, Sugandha Sachdeva.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang