Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dari Sisa Gaji ke Pasar Internasional: Kisah Sukses Ismanto dan Sawo Raksasa dari Semarang

Kompas.com, 1 April 2026, 13:07 WIB
Muchamad Dafi Yusuf,
Irfan Maullana

Tim Redaksi

SEMARANG, KOMPAS.com - Di Mijen, Kota Semarang, Jawa Tengah, terlihat seorang pria tampak telaten menyiram deretan tanaman dalam pot. Di tangannya, selang air mengalir perlahan, membasahi daun-daun lebar berwarna hijau pekat.

Dialah Ismanto (41), petani yang diam-diam membangun “kerajaan kecil” dari buah langka bernama Mamey Sapote, sawo raksasa yang ukurannya bisa sebesar semangka. Bagi Ismanto, kebun itu bukan sekadar ladang. Di situlah cerita panjangnya dimulai dari sekadar hobi, menjadi usaha bernilai puluhan juta rupiah per bulan, hingga menarik perhatian pembeli dari luar negeri.

Dari Gaji Disisihkan, Jadi Kebun Bernilai Jutaan

Dua dekade lalu, Ismanto bukan siapa-siapa di dunia pertanian. Ia masih bekerja seperti kebanyakan orang, menyisihkan gaji untuk membeli satu-dua bibit tanaman.

“Awalnya cuma hobi. Tiap ada sisa uang, beli bibit. Ditanam, tumbuh, dicangkok ternyata laku terus,” kenangnya kepada Kompas.com, Rabu (1/4/2026).

Dari situlah muncul keberanian besar meninggalkan pekerjaan sebagai sekuriti dan fokus penuh pada tanaman.

Keputusan itu sempat ditentang keluarga, yang menganggap usaha tanaman penuh ketidakpastian. Namun, keyakinannya tak goyah. Ia melihat peluang dari sesuatu yang dianggap sepele yakni bibit yang selalu habis terjual.

Baca juga: Menunggu Ramai Lebaran yang Tak Kunjung Datang, Potret Perajin Kulit di Jalan Sawo Magetan

Bertaruh pada Sawo “Tak Biasa”

Penampakan buah Mame Sapote setelah dibelah menjadi dua. KOMPAS.COM/Muchamad Dafi Yusuf Penampakan buah Mame Sapote setelah dibelah menjadi dua. 

Perjalanan Ismanto berubah saat ia mengenal Mamey Sapote, buah asal Meksiko yang masih jarang di Indonesia. Ia bahkan rela membeli bibit mahal sekitar Rp 1,5 juta pada masanya untuk mulai mengembangkannya.

Hasilnya tak sia-sia. Sawo raksasa miliknya kini dikenal karena ukuran besar, daging tebal, dan rasa manis yang lebih kuat dibanding sawo lokal. Warnanya pun unik, cenderung kemerahan. Salah satu varietas unggul yang ia kembangkan bahkan lahir dari “kesalahan” bibit yang ternyata tumbuh dengan mutasi genetik lebih baik dari induknya. Dari situlah ia menciptakan varietas baru yang kini diburu kolektor.

“Dari biji malah keluar yang lebih bagus. Itu jadi keunggulan kita,” ujarnya.

Baca juga: Apakah Buah Sawo Mengandung Gula? Ini Penjelasan dan Manfaatnya

Dari Kampung ke Pasar Internasional

Siapa sangka, kebun sederhana di pinggiran Semarang itu kini terhubung dengan pasar global. Pembeli dari Thailand, Vietnam, hingga India rutin memesan bibit dari Ismanto. Mereka mengetahui kebunnya melalui komunitas tanaman dan media sosial.

“Sekarang eranya digital. Mereka lihat di grup, tertarik, lalu datang langsung,” katanya.

Untuk bibit kecil setinggi 60 sentimeter, harga dipatok sekitar Rp 1 juta. Sementara tanaman besar bisa mencapai Rp 15 juta per pohon. Bahkan buahnya sendiri dijual hingga Rp 300 ribu per butir. Permintaan terbesar datang dari luar negeri, terutama untuk bibit. Sementara buah segarnya banyak dikirim ke Jakarta, meski produksinya masih terbatas karena masa panen yang bisa mencapai satu tahun.

Bertahan dari Badai, Bangkit Pelan-Pelan

Pandemi Covid-19 sempat menghantam usahanya. Dari memiliki 10 pekerja, usahanya sempat turun hingga nyaris tanpa karyawan. Kini, perlahan ia bangkit. Tiga pekerja kembali membantu, dan kebunnya berkembang menjadi empat titik lokasi, termasuk lahan hampir satu hektare.

Dari usaha ini, Ismanto mengaku bisa meraih omzet sekitar Rp 20 juta per bulan saat ini dan pernah menyentuh Rp 40 juta sebelum pandemi.

“Yang penting konsisten. Tanaman ini sabar, kita juga harus sabar,” katanya.

Buah “Sultan” yang Masih Misterius

Meski harganya tergolong tinggi dan sering disebut “buah sultan”, daya tarik Mamey Sapote justru ada pada rasa penasaran pasar. Banyak orang membeli bukan hanya untuk dikonsumsi, tapi untuk dibudidayakan dan rasa penasaran. Permintaan pun terus tumbuh, bahkan belum mampu sepenuhnya dipenuhi.

"Kemarin yang dari Vietnam baru datang ke sini," lanjut Ismanto.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Eks Dirut BUMD Serang Dituntut 6 Tahun Penjara, Jaksa Ungkap Transaksi 'Kickback' di Parkiran Mal
Eks Dirut BUMD Serang Dituntut 6 Tahun Penjara, Jaksa Ungkap Transaksi 'Kickback' di Parkiran Mal
Regional
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Regional
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat 'Tagging'
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat "Tagging"
Regional
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Regional
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Regional
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Regional
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Regional
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Regional
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi 'Si Apik'
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi "Si Apik"
Regional
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Regional
Dua Nelayan di Indramayu Hilang Misterius Saat Melaut, Tim SAR Dikerahkan Pencarian
Dua Nelayan di Indramayu Hilang Misterius Saat Melaut, Tim SAR Dikerahkan Pencarian
Regional
302 Dapur MBG di NTB Ditutup Sementara Lantaran Tak Penuhi Standar SLHS dan IPAL
302 Dapur MBG di NTB Ditutup Sementara Lantaran Tak Penuhi Standar SLHS dan IPAL
Regional
Seluruh Indomaret di Banyumas Bebas Parkir Mulai 1 April
Seluruh Indomaret di Banyumas Bebas Parkir Mulai 1 April
Regional
Kisah Ahmad Zaki, Guru di Bojonegoro Lari 4 Km ke Sekolah Pakai Seragam Dinas
Kisah Ahmad Zaki, Guru di Bojonegoro Lari 4 Km ke Sekolah Pakai Seragam Dinas
Regional
Karhutla Riau Belum Padam, 2,45 Juta Liter Air Dijatuhkan ke Titik Api
Karhutla Riau Belum Padam, 2,45 Juta Liter Air Dijatuhkan ke Titik Api
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Dari Sisa Gaji ke Pasar Internasional: Kisah Sukses Ismanto dan Sawo Raksasa dari Semarang
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat