SEMARANG, KOMPAS.com - Di Mijen, Kota Semarang, Jawa Tengah, terlihat seorang pria tampak telaten menyiram deretan tanaman dalam pot. Di tangannya, selang air mengalir perlahan, membasahi daun-daun lebar berwarna hijau pekat.
Dialah Ismanto (41), petani yang diam-diam membangun “kerajaan kecil” dari buah langka bernama Mamey Sapote, sawo raksasa yang ukurannya bisa sebesar semangka. Bagi Ismanto, kebun itu bukan sekadar ladang. Di situlah cerita panjangnya dimulai dari sekadar hobi, menjadi usaha bernilai puluhan juta rupiah per bulan, hingga menarik perhatian pembeli dari luar negeri.
Dua dekade lalu, Ismanto bukan siapa-siapa di dunia pertanian. Ia masih bekerja seperti kebanyakan orang, menyisihkan gaji untuk membeli satu-dua bibit tanaman.
“Awalnya cuma hobi. Tiap ada sisa uang, beli bibit. Ditanam, tumbuh, dicangkok ternyata laku terus,” kenangnya kepada Kompas.com, Rabu (1/4/2026).
Dari situlah muncul keberanian besar meninggalkan pekerjaan sebagai sekuriti dan fokus penuh pada tanaman.
Keputusan itu sempat ditentang keluarga, yang menganggap usaha tanaman penuh ketidakpastian. Namun, keyakinannya tak goyah. Ia melihat peluang dari sesuatu yang dianggap sepele yakni bibit yang selalu habis terjual.
Baca juga: Menunggu Ramai Lebaran yang Tak Kunjung Datang, Potret Perajin Kulit di Jalan Sawo Magetan
Penampakan buah Mame Sapote setelah dibelah menjadi dua. Perjalanan Ismanto berubah saat ia mengenal Mamey Sapote, buah asal Meksiko yang masih jarang di Indonesia. Ia bahkan rela membeli bibit mahal sekitar Rp 1,5 juta pada masanya untuk mulai mengembangkannya.
Hasilnya tak sia-sia. Sawo raksasa miliknya kini dikenal karena ukuran besar, daging tebal, dan rasa manis yang lebih kuat dibanding sawo lokal. Warnanya pun unik, cenderung kemerahan. Salah satu varietas unggul yang ia kembangkan bahkan lahir dari “kesalahan” bibit yang ternyata tumbuh dengan mutasi genetik lebih baik dari induknya. Dari situlah ia menciptakan varietas baru yang kini diburu kolektor.
“Dari biji malah keluar yang lebih bagus. Itu jadi keunggulan kita,” ujarnya.
Baca juga: Apakah Buah Sawo Mengandung Gula? Ini Penjelasan dan Manfaatnya
Siapa sangka, kebun sederhana di pinggiran Semarang itu kini terhubung dengan pasar global. Pembeli dari Thailand, Vietnam, hingga India rutin memesan bibit dari Ismanto. Mereka mengetahui kebunnya melalui komunitas tanaman dan media sosial.
“Sekarang eranya digital. Mereka lihat di grup, tertarik, lalu datang langsung,” katanya.
Untuk bibit kecil setinggi 60 sentimeter, harga dipatok sekitar Rp 1 juta. Sementara tanaman besar bisa mencapai Rp 15 juta per pohon. Bahkan buahnya sendiri dijual hingga Rp 300 ribu per butir. Permintaan terbesar datang dari luar negeri, terutama untuk bibit. Sementara buah segarnya banyak dikirim ke Jakarta, meski produksinya masih terbatas karena masa panen yang bisa mencapai satu tahun.
Pandemi Covid-19 sempat menghantam usahanya. Dari memiliki 10 pekerja, usahanya sempat turun hingga nyaris tanpa karyawan. Kini, perlahan ia bangkit. Tiga pekerja kembali membantu, dan kebunnya berkembang menjadi empat titik lokasi, termasuk lahan hampir satu hektare.
Dari usaha ini, Ismanto mengaku bisa meraih omzet sekitar Rp 20 juta per bulan saat ini dan pernah menyentuh Rp 40 juta sebelum pandemi.
“Yang penting konsisten. Tanaman ini sabar, kita juga harus sabar,” katanya.
Meski harganya tergolong tinggi dan sering disebut “buah sultan”, daya tarik Mamey Sapote justru ada pada rasa penasaran pasar. Banyak orang membeli bukan hanya untuk dikonsumsi, tapi untuk dibudidayakan dan rasa penasaran. Permintaan pun terus tumbuh, bahkan belum mampu sepenuhnya dipenuhi.
"Kemarin yang dari Vietnam baru datang ke sini," lanjut Ismanto.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang