Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

WFH ASN, antara Produktivitas, Energi, dan Risiko Tersembunyi

Kompas.com, 31 Maret 2026, 16:38 WIB
Suci Rahayu,
Glori K. Wadrianto

Tim Redaksi

SURABAYA, KOMPAS.com - Kebijakan work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Provinsi Jawa Timur akan berlaku mulai 1 April 2026. Namun perubahan pola kerja terkait efisiensi energi ini menghadirkan harapan sekaligus pertanyaan.

Bagi sebagian orang, bekerja dari rumah terasa lebih fokus dan fleksibel. Namun di balik itu, tersimpan dinamika yang jauh lebih rumit menyentuh ekonomi rumah tangga, kesenjangan digital, hingga denyut usaha kecil di sekitar perkantoran.

Kebijakan yang digagas oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa ini memang dirancang sebagai solusi cepat. Tetapi, seperti diingatkan oleh akademisi, dampaknya tidak sesederhana yang terlihat di permukaan.

Dosen School of Business and Management Universitas Kristen Petra, Surabaya, Pwee Leng menilai, kebijakan WFH menyimpan apa yang disebut sebagai “silent risk” atau risiko tersembunyi.

Dampaknya tidak langsung terasa, tetapi berpotensi besar dalam jangka panjang. Menurut dia, salah satu risiko utama adalah pergeseran beban energi dari negara ke individu.

Baca juga: Langkah Khofifah Antisipasi Dampak Perang Timur Tengah untuk Ekonomi Jatim

“Pergeseran beban energi ke rumah tangga, di mana biaya ditanggung individu, bukan negara. Dampaknya mengarah pada inflasi mikro rumah tangga ASN dan ketidakpuasan kebijakan (ini hidden resistance),” ujar dosen yang biasa disapa Pwee Leng ini kepada Kompas.com.

Dalam konteks ini, efisiensi yang tampak di tingkat Pemerintah justru bisa menjadi beban tambahan bagi pegawai. Tagihan listrik meningkat, kebutuhan internet bertambah, dan semua ditanggung secara pribadi.

Tidak hanya itu, persoalan lain muncul dalam bentuk ketimpangan akses digital. “Tidak semua ASN punya internet stabil dan punya ruang kerja layak. Dampaknya produktivitas tidak merata dan bias kinerja antar daerah,” imbuh dia.

Sebab, perbedaan kualitas jaringan dan fasilitas kerja di rumah berpotensi menciptakan ketidakadilan baru.

ASN di kota besar mungkin lebih mudah beradaptasi, sementara di daerah lain, kondisi bisa jauh berbeda.

Dampak ke ekonomi lokal dan ilusi efisiensi

Selain itu kebijakan WFH juga berdampak pada aktivitas ekonomi di sekitar kawasan perkantoran. Dengan berkurangnya mobilitas pegawai berarti menurunnya perputaran uang di sektor informal.

“Risiko ketiga berdampak pada ekonomi lokal (urban consumption shock). WFH menyebabkan mobilitas turun dan berujung pada menurunya konsumsi transportasi, pasar UMKM yang ada di sekitar kantor dan kantin, parkir, retail kecil."

"Bila berkelanjutan maka berefek memimbilkan kontraksi ekonomi mikro di kawasan perkantoran,” tutur Pwee Leng.

Mulai warung makan, jasa parkir, hingga pelaku usaha kecil yang selama ini bergantung pada aktivitas kantor menjadi pihak yang paling terdampak. Sehingga ia juga mengingatkan adanya potensi ilusi kebijakan.

“Risiko keempat menimbulkan terjadinya false sense of security (policy illusion risk). Pemerintah merasa sudah ‘hemat energi’. Padahal akar masalah (ketergantungan BBM, transportasi publik lemah) belum tersentuh."

Halaman:


Terkini Lainnya
Banyuwangi Uji Coba ASN Bersepeda ke Kantor, Dorong Pola Hidup Aktif dan Efisien
Banyuwangi Uji Coba ASN Bersepeda ke Kantor, Dorong Pola Hidup Aktif dan Efisien
Surabaya
Polemik Pengosongan Gedung di Balai Pemuda, Pemkot Surabaya Sebut untuk Penataan
Polemik Pengosongan Gedung di Balai Pemuda, Pemkot Surabaya Sebut untuk Penataan
Surabaya
Wagub Emil Dardak Pastikan Alih Fungsi Hutan untuk Perumahan di Prigen Belum Kantongi Izin
Wagub Emil Dardak Pastikan Alih Fungsi Hutan untuk Perumahan di Prigen Belum Kantongi Izin
Surabaya
Banyuwangi Tak Buru-buru Terapkan WFH, Pelayanan Publik Jadi Pertimbangan Utama
Banyuwangi Tak Buru-buru Terapkan WFH, Pelayanan Publik Jadi Pertimbangan Utama
Surabaya
WFH Jumat di Kota Blitar, ASN Harus Absen dan Lapor Progres Kerja
WFH Jumat di Kota Blitar, ASN Harus Absen dan Lapor Progres Kerja
Surabaya
ASN Kota Batu WFH Setiap Jumat, Pemkot Juga Buka Opsi Bersepeda ke Kantor
ASN Kota Batu WFH Setiap Jumat, Pemkot Juga Buka Opsi Bersepeda ke Kantor
Surabaya
Ikuti Arahan Pusat, Pemprov Jatim Siapkan Skema Pemangkasan Perjalanan Dinas
Ikuti Arahan Pusat, Pemprov Jatim Siapkan Skema Pemangkasan Perjalanan Dinas
Surabaya
Sopir Truk Blokade Jalur ke Pelabuhan Ketapang, Kesal Aksi Serobot Antrean
Sopir Truk Blokade Jalur ke Pelabuhan Ketapang, Kesal Aksi Serobot Antrean
Surabaya
Kronologi Pengunjung Mikutopia Pingsan saat Antre Tiket hingga Meninggal, Punya Riwayat Darah Tinggi
Kronologi Pengunjung Mikutopia Pingsan saat Antre Tiket hingga Meninggal, Punya Riwayat Darah Tinggi
Surabaya
Eri Cahyadi Marah TPS di Surabaya Jadi Parkir Gerobak hingga Rongsokan
Eri Cahyadi Marah TPS di Surabaya Jadi Parkir Gerobak hingga Rongsokan
Surabaya
BBM Aman tapi Warga Tetap Antre: Kisah Cemas di SPBU Jatim
BBM Aman tapi Warga Tetap Antre: Kisah Cemas di SPBU Jatim
Surabaya
Pondok Gontor Larang Pengajar di Bawah 30 Tahun Naik Motor, Ini Aturan Lengkapnya
Pondok Gontor Larang Pengajar di Bawah 30 Tahun Naik Motor, Ini Aturan Lengkapnya
Surabaya
Skema Dirombak, Pemkab Sumenep Pindah WFH ke Jumat
Skema Dirombak, Pemkab Sumenep Pindah WFH ke Jumat
Surabaya
Hari Pertama WFH, Khofifah Larang ASN Jatim Nonaktifkan Ponsel
Hari Pertama WFH, Khofifah Larang ASN Jatim Nonaktifkan Ponsel
Surabaya
Teror Buaya di Sungai Tunjung Bangkalan dan Misteri Hilangnya Ibu Anak di Lokasi yang Sama
Teror Buaya di Sungai Tunjung Bangkalan dan Misteri Hilangnya Ibu Anak di Lokasi yang Sama
Surabaya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau