Dipaksa Kembali WFO, Karyawan Google “Nyinyir” Pakai Meme

Kompas.com, 16 Juni 2023, 08:30 WIB
Caroline Saskia,
Yudha Pratomo

Tim Redaksi

Sumber CNBC

KOMPAS.com - Raksasa teknologi Google mulai menerapkan kebijakan work from home (WFH), alias bekerja di rumah kepada seluruh karyawannya sejak pandemi Covid-19. Namun, baru-baru ini, keluar aturan baru dari perusahaan yang “memaksa” karyawan untuk bekerja di kantor.

Guna menarik karyawannya kembali ke kantor, Google menjadikan aspek “kehadiran langsung” sebagai bagian dari peninjauan kerja. Jelasnya, kebijakan WFO yang baru dijadikan sebagai penilaian yang krusial untuk karyawannya.

Menanggapi aturan tersebut, sejumlah karyawan resah. Kekhawatiran utama yang dialami pegawai Google adalah aturan bekerja di kantor membuat mereka tidak dapat menyeimbangkan kehidupan pribadi dan pekerjaan dengan baik.

Bekerja dari rumah menjadi opsi yang paling baik karena jam kerja karyawan menjadi lebih fleksibel.

Baca juga: Cara Google “Paksa” Karyawannya agar Kembali Ngantor

Akan tetapi, dengan kembalinya para pekerja ke kantor, mereka harus melakukan penyesuaian jadwal ulang, memikirkan jarak rumah-kantor yang cukup jauh, dan sebagainya.

Hal ini dikarenakan ada banyak karyawan yang tinggal di kota dan daerah lain sejak pandemi Covid-19. Nah, keputusan untuk kembali ke kantor akan menyusahkan mereka yang bertempat tinggal cukup jauh.

Dirangkum KompasTekno dari CNBC, Jumat (16/6/2023), sejumlah staf mengaku mereka tampak diperlakukan sebagai anak sekolah.

Tidak ada kepastian juga bagi karyawan yang tinggal di luar kota, dan harus kembali pindah rumah ke dekat kantor demi WFO (work from office).

Ketidaksetujuan kebijakan tersebut pun dilontarkan dalam meme (baca: mim) ke Memegen,  meme generator yang digunakan karyawan untuk berbagi lelucon di kalangan internal perusahaan.

Salah satu unggahan meme yang paling populer berbunyi seperti ini: “Jika Anda tidak bisa menghadiri kantor hari ini, orangtua harus memberi surat izin tidak hadir”.

Kemudian, tulisan meme popular lainnya di kalangan pekerja Google adalah menyindir aspek “kehadiran langsung” sebagai bagian dari peninjuan kerja. Meme yang diunggah adalah “periksalah pekerjaan saya, bukan jabatan atau pencapaian saya".

Baca juga: Elon Musk: WFH Tidak Adil untuk Karyawan yang Wajib WFO

Dianggap merusak budaya kerja Google

Chief People Officer Google, Fiona Cicconi, sempat mengirimkan pengumuman melalui e-mail perusahaan. Pengumuman tersebut mengatakan bahwa karyawan hanya diperkenankan bekerja WFH seminggu penuh jika mendapat pengecualian.

Jika tidak mendapat pengeculian tersebut, karyawan wajib mengantor sebanyak tiga kali dalam seminggu. Kebijakan ini dikeluarkan karena Cicconi mengungkapkan karyawan yang bekerja di kantor bisa merasa “terhubung” dengan karyawan lain.

“Efek ini lebih besar ketika rekan satu tim bekerja di lokasi yang sama,” ungkap Cicconi di email.

Kendati begitu, kebijakan baru ini justru dinilai merusak kebudayaan yang sudah dipupuk perusahaan.

Google dikenal sebagai perusahaan yang menjunjung nilai kolaboratif dan inovatif, sedangkan, menurut karyawan, aturan WFO kerap mereka sulit bekerja bersama dan berbagi ide baru.

Baca juga: Setahun WFH, Karyawan Kantor Pusat Microsoft Ngantor Lagi Minggu Depan

Dikarenakan banyak karyawan yang menolak menjalankan kebijakan WFO yang baru, Google dilaporkan tengah meninjau ulang dan memberi beberapa pelonggaran terhadap aturan tersebut.

Pihak perusahaan mengatakan bahwa karyawan yang memiliki kondisi medis tertentu atau tinggal jauh dari kantor dapat bekerja WFH sepenuhnya.

Namun, Google masih berkomitmen dan mengharapkan sebagian besar karyawannya untuk bekerja di kantor. Ringkasnya, Google masih ingin menguji coba apakah kebijakan baru tersebut bakal efektif dan berhasil atau tidak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau