Ini Dia "Bird of Prey", Drone Pembasmi Drone yang Bisa Kejar dan Hancurkan Target Sendiri

Kompas.com, Diperbarui 01/04/2026, 06:09 WIB
Reska K. Nistanto

Penulis

Sumber Airbus

KOMPAS.com - Airbus menguji drone interceptor bernama “Bird of Prey” yang mampu mencari, melacak, dan menghancurkan drone kamikaze secara otonom, tanpa kendali langsung manusia.

Dalam uji coba perdana yang dilakukan di area latihan militer di Jerman utara, drone ini berhasil menjalankan misi realistis menghadapi ancaman udara.

Dalam demonstrasi tersebut, Bird of Prey mampu secara mandiri mencari, mendeteksi, dan mengklasifikasikan target berupa drone serangan satu arah (kamikaze).

Setelah target teridentifikasi, drone ini langsung meluncurkan rudal udara-ke-udara Mark I untuk menghancurkan sasaran.

Baca juga: Drone Buatan Asing Dilarang Masuk Amerika, DJI Protes

Rudal tersebut dikembangkan oleh perusahaan mitra, Frankenburg Technologies, dan dirancang sebagai solusi intersepsi berbiaya rendah.

CEO Airbus Defence and Space, Mike Schoellhorn mengatakan bahwa ancaman drone kamikaze kini menjadi prioritas utama dalam konflik modern.

Menurut dia, melalui Bird of Prey dan rudal Mark I dari Frankenburg yang terjangkau, Airbus menghadirkan solusi interceptor yang efektif dan efisien bagi militer, sekaligus menutup celah kemampuan penting dalam konflik asimetris saat ini.

"Integrasi Bird of Prey ke dalam sistem manajemen pertempuran pertahanan udara Airbus (IBMS) juga berfungsi sebagai pengganda kekuatan (force multiplier)," tutur Schoellhorn.

Drone ini juga terintegrasi dengan sistem manajemen pertahanan udara milik Airbus, sehingga dapat beroperasi sebagai bagian dari jaringan pertahanan yang lebih luas.

Satu drone bisa lawan banyak target

Bird of Prey dikembangkan dari drone target Do-DT25 yang dimodifikasi, dengan bentang sayap 2,5 meter dan bobot lepas landas maksimum sekitar 160 kilogram.

Drone Bird of Prey Airbus luncurkan misil Mk. I.Airbus. Drone Bird of Prey Airbus luncurkan misil Mk. I.

Prototipe yang diuji membawa empat rudal Mark I, sementara versi operasional nantinya dapat membawa hingga delapan rudal.

Rudal ini memiliki jangkauan hingga 1,5 kilometer, bersifat “fire-and-forget”, serta menggunakan hulu ledak fragmentasi untuk menghancurkan target dalam jarak dekat.

Setelah menembakkan rudal dan misi dianggap selesai, drone bisa mendarat kembali menggunakan parasut yang tersimpan di ekor.

Dengan kemampuan tersebut, satu drone Bird of Prey dapat digunakan kembali untuk menghadapi beberapa target dalam satu misi, dengan biaya yang relatif lebih rendah dibanding sistem pertahanan konvensional.

Baca juga: Ayah dan Anak Pecahkan Rekor Drone Terkencang, Tembus 480 Km Per Jam

Drone ini dirancang untuk dapat beroperasi dalam sistem pertahanan udara terintegrasi NATO melalui sistem komando dan kendali yang sudah ada.

Dengan demikian, Bird of Prey dapat menjadi salah satu komponen penting dalam sistem pertahanan berlapis untuk menghadapi ancaman drone.

Airbus dan Frankenburg Technologies berencana melanjutkan uji coba sepanjang 2026, termasuk pengujian dengan hulu ledak aktif.

Langkah ini dilakukan untuk menyempurnakan kemampuan operasional drone serta menarik minat calon pengguna dari kalangan militer.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau