Popcorn Brain, “Penyakit” Baru yang Diam-diam Mengintai Gen Z

Kompas.com, 1 April 2026, 10:44 WIB
Marsha Bremanda,
Reza Wahyudi

Tim Redaksi

KOMPAS.com- Generasi Z tampaknya tak henti-hentinya dihantui oleh berbagai "penyakit" dan sindrom mental akibat terlalu lama hidup di era digital.

Belum selesai kita membahas fenomena brain rot, brain fry, hingga kebiasaan doomscrolling, kini daftar tersebut bertambah panjang dengan munculnya popcorn brain alias "otak berondong jagung".

Tanpa disadari, gejala dari "penyakit" fokus ini mungkin sudah sangat akrab dengan keseharian kita.

Sebagai gambarannya, coba ingat-ingat kembali pernahkah kamu berniat menonton serial Netflix, tapi lima menit kemudian tangan kamu secara refleks mengambil ponsel, dan tiba-tiba kamu sudah  satu jam menonton video orang antre makanan viral di TikTok.

Jika kejadi di atas terasa relatable, berhati-hatilah. Otak kamu mungkin sedang mengalami fenomena popcorn brain tersebut.

Istilah ini pertama kali diciptakan oleh David Levy dalam bukunya, "Mindful Tech". Secara harfiah, bayangkan biji jagung yang meletup-letup tak beraturan di dalam microwave.

Begitulah persisnya gambaran isi kepala kita, terutama generasi Z yang sangat lekat dengan dunia digital, ketika terlalu lama menatap layar ponsel.

"Ini adalah kecenderungan pikiran kita untuk melompat dari satu hal ke hal lain dengan perhatian yang terfragmentasi, tingkat gangguan yang tinggi, dan fokus yang menurun," jelas Dr. Ashwini Nadkarni, Asisten Profesor Psikiatri di Harvard Medical School, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Business Insider.

Meski bukan istilah medis resmi, popcorn brain kini menjadi fenomena yang makin diakui di kalangan pakar neurosains. Penyebab utamanya? Tuntutan konsumsi media digital yang memaksa kita untuk terus-menerus multitasking.

Bagi Gen Z, hidup tanpa smartphone dan laptop nyaris mustahil. Namun, menurut Nadkarni, perangkat inilah yang mendorong kita untuk melakukan banyak hal sekaligus tanpa perhatian penuh.

Coba ingat, seberapa sering Anda mengetik e-mail tugas kuliah sambil membuka Shopee dan sesekali membalas WhatsApp?

Neuropsikolog Sanam Hafeez menambahkan, media sosial adalah "tersangka utama" dari fenomena ini. Platform media sosial terus menjejalkan aliran konten berdurasi pendek yang menuntut perhatian konstan secara cepat.

Kebiasaan menggulir (scrolling) tiada henti ini pada akhirnya melatih otak untuk selalu mencari gratifikasi atau kepuasan instan. Otak kita menjadi kecanduan dengan stimulasi bertempo cepat.

"Ini berujung pada rentang perhatian (attention span) yang makin pendek. Kita menjadi sangat kesulitan untuk fokus pada satu hal lebih dari beberapa menit saja," ujar Hafeez.

Karena otak selalu berada dalam kondisi waspada tinggi (high alert) menunggu konten selanjutnya, kita tak pernah punya waktu untuk sekadar melambat dan relaks.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau