Penulis
KOMPAS.com - Google mengumumkan proyek ambisius baru bernama Suncatcher. Proyek ini diumumkan langsung oleh Chief Executive Officer (CEO) Google Sundar Pichai.
Dengan Project Suncatcher, Google berencana meluncurkan chip AI Tensor Processing Unit (TPU) miliknya ke luar angkasa. Proyek ini akan bekerja sama dengan pihak lain, yakni Planet Labs.
Untuk tahap awal, Project Suncatcher rencananya akan meluncurkan dua satelit pada tahun 2027. Peluncuran ini bertujuan untuk meneliti potensi pembangunan kluster pusat data berskala besar di ruang angkasa.
Baca juga: Drama 5 Tahun Gugatan Selesai, Google dan Epic Games Sepakat Damai
Dalam sebuah unggahan di X, Pichai mengatakan proyek ini terinspirasi dari portofolio proyek moonshot alias Moonshot Factory atau Google X, yakni fasilitas riset rahasia Google yang fokus pada proyek-proyek ambisius.
"Sebagaimana proyek moonshot lainnya, ini akan menuntut kami untuk memecahkan banyak tantangan rekayasa yang sangat kompleks," jelas Pichai di akun X pribadinya.
Our TPUs are headed to space!
Inspired by our history of moonshots, from quantum computing to autonomous driving, Project Suncatcher is exploring how we could one day build scalable ML compute systems in space, harnessing more of the sun’s power (which emits more power than 100… pic.twitter.com/aQhukBAMDp
— Sundar Pichai (@sundarpichai) November 4, 2025
Pichai menjelaskan, dalam penelitian awal yang dilakukan, menunjukkan bahwa chip TPU generasi Trilium, yakni prosesor khusus untuk AI buatan Google, mampu bertahan tanpa kerusakan, setelah diuji di akselerator partikel yang mensimulasikan tingkat radiasi orbit rendah bumi.
Kendati demikian, Google mengaku masih menemui tantangan besar lain yang harus dihadapi, seperti pengelolaan panas dan kemampuan sistem saat berada di orbit.
Sebagai bagian dari risetnya, Google juga menerbitkan makalah tentang Project Suncatcher.
Makalah itu menguraikan visi untuk membangun sistem komputasi di ruang angkasa yang bisa ditingkatkan skalanya untuk machine learning, dengan memanfaatkan armada satelit yang dilengkapi panel surya, koneksi antar-satelit berbasis free-space optics, serta chip akselerator TPU.
Selain itu, Google juga mengungkap rancangan dasar untuk pembangunan kluster berisi 81 satelit yang beroperasi di radius sekitar 1 kilometer.
Namun, Google menegaskan masih banyak tantangan teknis dan logistik besar yang harus diatasi, di mana skala akhirnya bisa saja berubah seiring waktu.
Pichai mengatakan, sebelum Google, sudah ada sejumlah proposal untuk membangun pusat data monolitik di luar angkasa, di mana satu pesawat luar angkasa ukurannya jauh melebihi roket peluncur terbesar yang ada saat ini.
Pusat data monolitik yang dimaksud merujuk pada pusat data yang terpadu yang dibangun sebagai satu struktur tunggal dan utuh, bukan beberapa unit kecil yang terpisah. Namun, konsep besar seperti itu disebut punya risiko besar.
Baca juga: Google Translate Kini Bertenaga Gemini AI, Hasil Terjemahan Lebih Cepat dan Akurat
Sebab, struktur raksasa harus dirakit di luar angkasa oleh manusia atau robot. Hal ini dinilai menimbulkan risiko tabrakan yang lebih rumit dan membutuhkan struktur penopang yang lebih kompleks.
Oleh karena itu, gagasan lain yang dicanangkan Google adalah menggunakan pendekatan lebih modular, yakni meluncurkan banyak satelit kecil yang saling berdekatan di orbit rendah.