Marak "Scam" Catut Nama Pemerintah, Singapura Ultimatum Google dan Apple

Kompas.com, 27 November 2025, 07:02 WIB
Bill Clinten,
Wahyunanda Kusuma Pertiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Pemerintah Singapura mengultimatum Apple dan Google untuk menertibkan penggunaan nama akun palsu di iMessage dan Google Messages.

Keduanya merupakan layanan pesan yang bisa menerima pesan singkat (SMS) melalui jaringan seluler serta pesan berbasis internet seperti iMessage dan RCS (Rich Communication Services) di Google Messages.

Langkah ini bertujuan untuk menekan maraknya penipuan (scam) di Singapura yang dilakukan lewat pesan di iMessage dan Google Messages dengan modus menyamar sebagai instansi pemerintah.

Baca juga: Awas Scam Nyamar Jadi Google, Segera Hapus Pesan Berisi Kata-kata Ini

Sejak Juli 2024 lalu, pemerintah Singapura menggunakan nama akun (sender ID) berakhiran "gov.sg" untuk menandakan bahwa pesan SMS yang diterima pengguna memang berasal dari instansi pemerintah.

Meski demikian, hal ini tak berlaku sepenuhnya di aplikasi iMessage dan Google Messages.

Sebab, kedua aplikasi ini memiliki sistem identifikasi pengirim sendiri dan tidak terhubung dengan registry sender ID (sistem pengenalan identitas pengirim) yang dimiliki pemerintah Singapura. 

Alhasil, sistem anti-spoofing (pencegah penyamaran identitas) yang berlaku untuk SMS biasa di iMessage dan Google Messages, tidak otomatis bisa memverifikasi apakah pengirim bernama gov.sg itu resmi atau palsu.

Selain itu, iMessage dan Google Messages memungkinkan pengirim menampilkan nama profil (display name), bukan hanya nomor telepon.

Para penipu bisa saja mencatut nama “gov.sg” sebagai nama akun untuk mengelabui pengguna. Sehingga, penerima bisa saja terkecoh karena sulit membedakan apakah pengirim tersebut memang benar berasal dari pemerintah atau tidak.

Baca juga: 5 Tips agar Google Bisnis Terhindar dari Scam atau Penipuan

Diberi waktu hingga akhir bulan ini

Nah, dalam pernyataan kepada media lokal Strait Times, Kementerian Dalam Negeri (MHA) Singapura mengatakan Apple dan Google diberi tenggat hingga 30 November 2025 untuk menertibkan akun yang memakai nama menyerupai lembaga pemerintah di aplikasi mereka.

Hingga waktu yang ditentukan ini, Apple dan Google juga harus memblokir akun dan grup di iMessage maupun Google Messages yang memakai nama menyerupai “gov.sg” atau lembaga pemerintah lain.

Mereka juga diwajibkan untuk menyaring (filter) pesan dari pengirim palsu, serta menampilkan nomor telepon, bukan nama profil, untuk pengirim yang tidak dikenal, sehingga identitas SMS atau pesan yang tidak terverifikasi, lebih mudah dikenali.

Apple dan Google sepakat

MHA mengeklaim Apple dan Google sepakat terkait permintaan pemerintah soal penertiban dan pemblokiran akun yang menyerupai akun pemerintah di iMessage dan Google Messages.

Permintaan pemerintah ini disahkan pada 24 November 2025 lewat Online Criminal Harms Act. Ini merupakan undang-undang yang memungkinkan pemerintah mengeluarkan perintah pembatasan guna menekan aktivitas kriminal di platform digital.

"Apple dan Google setuju mereka akan mematuhi arahan yang kami buat soal iMessages dan Google Messages," kata perwakilan MHA.

Baca juga: Apple PHK Karyawan, Aksi Korporasi Langka

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau