Saat Ringtone Microsoft Teams Bikin Party Jadi Anxiety...

Kompas.com, Diperbarui 04/02/2026, 15:50 WIB
Wahyunanda Kusuma Pertiwi

Penulis

KOMPAS.com - Ada banyak cara untuk melepas penat usai bekerja. Salah satunya berpesta atau party. Namun, apa jadinya jika di tengah-tengah party, mendadak teringat akan kerjaan?

Kemungkinan, mood yang sebelumnya happy bisa mendadak "anxiety". Kemungkinan hal itu yang terjadi pada sebuah pesta kantor di India.

Dalam sebuah video yang viral, seorang disk jockey (DJ) mendadak memutar ringtone Microsoft Teams.

Orang-orang yang awalnya berdansa santai pun mendadak berhenti ketika mendengar bunyi yang familiar dengan pekerjaan itu. Mereka melongok ke sang DJ, sambil meneriakinya. 

Microsoft Teams cukup populer di kalangan pekerja. Platform ini dirancang untuk profesional, yang biasa digunakan untuk komunikasi perkantoran.

Baca juga: Perancis Pakai Aplikasi Lokal untuk Rapat Pemerintah, Tendang Zoom dan Teams Buatan AS

Aplikasi ini memiliki beragam fitur, seperti telekonferensi video mirip Zoom, chat real-time, , berbagi file, dan sebagainya. Sebagian perusahaan, memang mengandalkan Microsoft Teams untuk berkomunikasi di internal kantor.

Biasanya, ringtone Microsoft Teams menandakan bahwa ada panggilan untuk meeting mendadak, atau notifikasi lain yang berkaitan dengan pekerjaan.

Oleh karena itu, ketika para pekerja mendengar ringtone Microsoft Teams saat asyik berpesta, mereka langsung terpantik untuk mengingat deadline pekerjaan, meeeting, dan hal lain yang memicu stres di tengah-tengah party.

Pesta berlanjut. Ringtone Microsoft Team itu dilanjutkan dengan potongan audio meme populer di India berjudul "Malik Thora Si Galti Ho Gayi".

Meme itu aslinya berupa video, di mana seorang pekerja yang tengah mengalami kecelakaan besar, menelepon bosnya dan mengatakan bahwa ada "masalah kecil", kontradiktif dengan kejadiaan sebenarnya yang ia alami.

Perpaduan audio meme "Malik Thora Si Galti Ho Gayi" dan ringtone Microsoft Team itu memancing keresahan namun juga gelak tawa, dirangkum KompasTekno dari Times of India.

 

Fenomena psikologis

Merasa stres atau resah kala mendengar notifikasi tertentu, seperti ringtone Microsoft teams, menunjukkan suatu kondisi psikologis.

Hal ini biasa disebut dengan Classical Conditioning, yakni sebuah konsep psikologis yang menjelaskan respons emosi terhadap stimulasi tertentu. Fenomena ini juga kadang dikenal sebagai kondisi Pavlov atau teori Pavlov.

Melansir dari Better Up, salah satu prinsip dasar teori ini adalah "respons kondisi". Sebagai gambaran, dalam sebuah proses pengkondisian, Anda mengubah perilaku dari waktu ke waktu untuk beradaptasi.

Baca juga: Skype Resmi Pensiun Hari Ini, Pengguna Diimbau Beralih ke Teams

Nantinya, proses ini akan mendorong Anda untuk merespos hal yang sama dengan cara serupa, sesuai proses yang sudah dialami.

Misalnya, ketika Anda terbiasa mendengar notifikasi chat di ponsel atau ringtone Microsoft Teams, atau Slack, Anda akan otomatis mengecek ponsel atau membuka aplikasi terkait untuk memeriksanya.

Apa yang Anda lakukan adalah hasil dari proses pengkondisian yang sudah dilakukan berulang-ulang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau