iPhone Bisa Rilis Bareng Singapura dan Pixel Resmi Masuk Indonesia

Kompas.com, 23 Februari 2026, 09:03 WIB
Yudha Pratomo,
Reza Wahyudi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Rencana pemerintah untuk membebaskan produk asal Amerika Serikat (AS) dari aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) melalui perjanjian tarif timbal balik membawa angin segar untuk fanboy Apple dan penggemar Android murni.

Jika kebijakan pembebasan TKDN ini benar-benar direalisasikan, lanskap pasar smartphone flagship di Indonesia akan berubah drastis.

Dampak paling nyata diprediksi akan langsung dirasakan oleh konsumen lini iPhone dan Google Pixel.

Peluncuran iPhone generasi terbaru di Indonesia berpotensi bisa sama dengan negara tetangga, Singapura. Tak hanya itu, ponsel idaman para tech enthusiast, Google Pixel, akhirnya punya jalan mulus untuk dijual resmi di Tanah Air.

Baca juga: Apple Investasi Rp 15,95 Triliun Bangun Pabrik AirTag di Batam

Selamat tinggal "nunggu lama" iPhone baru

Selama ini, konsumen Indonesia harus bersabar menunggu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan setelah peluncuran global untuk bisa meminang iPhone seri terbaru secara resmi.

Alasannya tak lain karena Apple harus melalui proses pemenuhan sertifikasi nilai TKDN yang cukup panjang.

Seperti diketahui, Apple selama ini memenuhi syarat TKDN melalui jalur investasi riset dan pengembangan (R&D) dengan membangun Apple Developer Academy, bukan merakit hardware secara lokal.

Dengan adanya wacana pembebasan TKDN untuk produk AS, birokrasi pemenuhan syarat tersebut praktis terpangkas.

Artinya, jadwal ketersediaan iPhone di distributor resmi dalam negeri berpotensi masuk ke gelombang pertama (tier 1) layaknya Singapura.

Pengguna tidak perlu lagi repot-repot menggunakan jasa titip (jastip) atau terbang ke luar negeri dan membayar pajak IMEI yang mahal demi menjadi yang pertama memiliki iPhone baru.

Pengamat gadget Herry SW turut mengamini prospek ini. Menurut dia, selain memangkas waktu, biaya yang biasanya timbul dalam proses pemenuhan TKDN juga bisa ditekan.

Namun, Herry menilai kebijakan ini berpotensi menciptakan persaingan tidak sehat. Ia menyoroti sejumlah merek, seperti Samsung, Vivo, Realme, Xiaomi, dan Oppo yang telah membangun pabrik di Indonesia. 

"Kenapa merek lain harus susah-susah bikin pabrik, sementara yang satu bisa lebih longgar," ujarnya.

Baca juga: Ini Keuntungan untuk Apple Fanboy jika Toko Fisik Apple Store Dibuka di Indonesia

Titik terang bagi Google Pixel

Selain Apple, raksasa teknologi AS lainnya yang paling diuntungkan dari pelonggaran regulasi ini adalah Google. Sejak generasi pertama hingga seri Pixel teranyar, ponsel pintar besutan Google ini tidak pernah merumput secara resmi di pasar Indonesia.

Kendala utamanya disinyalir kuat adalah aturan perakitan lokal.

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau