Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Era Hoaks AI dan Deepfake, Guru Besar: Pendidikan Etika Digital Harus Dimulai Sejak Dini

Kompas.com, 1 November 2025, 10:10 WIB
Davina Keisha Salsabila,
Ayunda Pininta Kasih

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Di tengah derasnya arus informasi digital, kemunculan teknologi kecerdasan buatan (AI) membawa tantangan baru dalam membedakan mana yang benar dan mana yang manipulatif.

Video hasil rekayasa AI kini mampu meniru wajah, suara, dan gerak tubuh seseorang dengan sangat realistis, sehingga masyarakat seringkali kesulitan membedakan antara fakta dan hoaks.

Fenomena ini memunculkan kebutuhan mendesak akan literasi digital sebagai benteng pertahanan utama masyarakat.

Baca juga: Penggunaan AI di Sekolah, Stephanie Riady Ingatkan Bahayanya bagi Proses Berpikir Anak

Literasi digital bukan hanya soal kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup kecakapan berpikir kritis, etika bermedia, serta tanggung jawab sosial dalam menyebarkan informasi.

Keni, Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Tarumanagara (Untar), menegaskan bahwa teknologi, termasuk AI, hanyalah alat.

Namun, yang terpenting adalah bagaimana manusia memanfaatkannya secara bijak.

Menurutnya, para pembuat konten atau content creator memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan setiap karya yang disebarluaskan mengandung nilai, kejujuran, dan tidak menyesatkan publik.

Keni menekankan pentingnya membangun budaya digital yang beretika dan bertanggung jawab di tengah pesatnya perkembangan teknologi AI.

Baca juga: SCH Ingatkan Transformasi Pendidikan Era AI Perlu Siapkan Siswa untuk Pekerjaan yang Belum Ada

Etika, Kejujuran, dan Kredibilitas Jadi Fondasi Dunia Digital

Menurut Keni, kecanggihan teknologi tidak dapat menggantikan nilai-nilai moral yang menjadi dasar kehidupan bermedia.

Teknologi hanyalah alat, sementara penggunaannya bergantung pada karakter dan kebijaksanaan manusia di baliknya.

“Teknologi itu adalah satu alat, AI itu hanya alat. Tapi bagaimana manusia itu harus menyesuaikan, harus dalam beretika, terutama bagi para content creator,” ujarnya saat acara Pengukuhan Guru Besar Ilmu Manajemen Untar, Kamis (30/10/2025).

Dalam era dimana video hasil rekayasa AI bisa viral dalam hitungan detik, kejujuran dan kredibilitas menjadi benteng utama yang harus dimiliki oleh pembuat konten digital.

“Content creator harus menjaga kredibilitasnya, terutama dalam isi dan etika. Jangan memunculkan sesuatu yang tidak terjadi atau membuat kegaduhan di masyarakat,” tegasnya.

Keni menilai, penyebaran hoaks bukan hanya disebabkan oleh teknologi, melainkan juga oleh lemahnya tanggung jawab moral penggunanya.

Karena itu, pendidikan etika digital perlu ditekankan sejak dini agar generasi muda memahami risiko di balik penyebaran informasi palsu.

Baca juga: Tinjau CH School, Wamen Kemdikdasmen dan Kepala BSKAP Sebut Kolaborasi AI Bisa Jadi Bagian Pendidikan

Tiga Pilar Pembentuk Perilaku Digital Masyarakat

Dalam hasil penelitiannya yang dipaparkan dalam orasi, Keni mengidentifikasi tiga pilar utama yang memengaruhi perilaku masyarakat dalam mengonsumsi dan memproduksi konten digital, yaitu attitude (sikap), subjective norm (norma sosial), dan perceived content quality (kualitas konten yang dirasakan).

Ketiga pilar tersebut berperan penting dalam membentuk preferensi masyarakat terhadap konten di media digital.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau