KOMPAS.com - Fajri Hidayatullah saat ini dipercaya menjadi Tim Ahli Staf Khusus Menteri Bidang Manajemen, Kelembagaan, dan Reformasi Birokrasi Kemendikdasmen.
Sebagai disabilitas tuna netra Fajri melalui lika-liku untuk bisa merasakan pendidikan tinggi.
Ia menceritakan perjalanannya dari kampung halaman di Sumatera Selatan hingga akhirnya bisa lulus kuliah di Jakarta.
Pria kelahiran tahun 1991 ini sempat merasakan sulit berdamai dengan diri sendiri dan keadaan.
Di usia sekolah Fajri hanya berdiam diri di rumah selama tujuh tahun. Kala itu di wilayahnya juga belum ada sistem ujian paket.
Baca juga: Disabilitas Bukan Batas, Kisah Ika Mahasiswi Tuli yang Jadi Juru Bahasa Isyarat di TV
"Mau masuk SLB sudah terlambat usianya, jadi cukup banyak yang dipertimbangkan sehingga pada saat itu memilih di rumah saja," ucap Fajri dalam acara Coffee Morning Hari Disabilitas Internasional yang digelar Kemendikdasmen di sebuah cafe di Jakarta Selatan, Jumat (28/11/2025).
Tahun 2011 Fajri bertekad pindah ke Jakarta. Ia sempat mendapat penolakan untuk bisa mengenyam pendidikan di daerah Jakarta Timur.
"Undang-undang penyandang disabilitas belum ada pada saat itu. Saya advokasi sendiri, saya bertekad untuk bisa diterima di sana. Alhamdulillah diterima," tutur Fajri.
Dari sana ia mengikuti ujian kejar paket di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Depok.
Baca juga: Prabowo: Guru Harus Tegas pada Siswa Nakal, sekalipun Anak Jenderal
Fajri kemudian kuliah di Universitas Muhammadiyah Jakarta pada prodi Ilmu Politik. Namun, ketidakyakinan muncul bukan dari dirinya.
"Saat itu juga ada beberapa kali momen, memang karena belum ada sama sekali di dunia bahkan di Indonesia, seorang disabilitas yang tidak melihat mengambil program studi Ilmu Politik. Dan pada saat itu diragukan, benar-benar ditanya setiap hari 'Mas, apakah mau pindah prodi?'," ungkap Fajri.
Fajri mengaku ia tidak bisa menjawab dengan kata-kata.
"Tapi dengan pengujian semester awal IPK saya di atas 3,00. Baru berhenti pertanyaan itu," tutur Fajri.
Ia lulus dalam waktu tiga tahun dua bulan kemudian diminta oleh Rektor saat itu untuk lanjut kuliah S2. Hingga saat ini Fajri juga masih aktif berorganisasi.
"Kalau masih memiliki tekad saya kira tidak ada yang mustahil itu bisa dilalui sampai detik ini. Kita terus memotivasi adik-adik kita untuk terus melakukan advokasi di dunia pendidikan," pesan Fajri.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang