Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Fajri Hidayatullah, Disabilitas Tuna Netra yang Jadi Tim Ahli Stafsus Menteri

Kompas.com, 29 November 2025, 15:48 WIB
Melvina Tionardus,
Ayunda Pininta Kasih

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Fajri Hidayatullah saat ini dipercaya menjadi Tim Ahli Staf Khusus Menteri Bidang Manajemen, Kelembagaan, dan Reformasi Birokrasi Kemendikdasmen.

Sebagai disabilitas tuna netra Fajri melalui lika-liku untuk bisa merasakan pendidikan tinggi.

Ia menceritakan perjalanannya dari kampung halaman di Sumatera Selatan hingga akhirnya bisa lulus kuliah di Jakarta.

Pria kelahiran tahun 1991 ini sempat merasakan sulit berdamai dengan diri sendiri dan keadaan.

Di usia sekolah Fajri hanya berdiam diri di rumah selama tujuh tahun. Kala itu di wilayahnya juga belum ada sistem ujian paket.

Baca juga: Disabilitas Bukan Batas, Kisah Ika Mahasiswi Tuli yang Jadi Juru Bahasa Isyarat di TV

"Mau masuk SLB sudah terlambat usianya, jadi cukup banyak yang dipertimbangkan sehingga pada saat itu memilih di rumah saja," ucap Fajri dalam acara Coffee Morning Hari Disabilitas Internasional yang digelar Kemendikdasmen di sebuah cafe di Jakarta Selatan, Jumat (28/11/2025).

Tahun 2011 Fajri bertekad pindah ke Jakarta. Ia sempat mendapat penolakan untuk bisa mengenyam pendidikan di daerah Jakarta Timur.

"Undang-undang penyandang disabilitas belum ada pada saat itu. Saya advokasi sendiri, saya bertekad untuk bisa diterima di sana. Alhamdulillah diterima," tutur Fajri.

Dari sana ia mengikuti ujian kejar paket di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Depok.

Baca juga: Prabowo: Guru Harus Tegas pada Siswa Nakal, sekalipun Anak Jenderal

Sering diragukan, tapi pantang menyerah

Fajri kemudian kuliah di Universitas Muhammadiyah Jakarta pada prodi Ilmu Politik. Namun, ketidakyakinan muncul bukan dari dirinya.

"Saat itu juga ada beberapa kali momen, memang karena belum ada sama sekali di dunia bahkan di Indonesia, seorang disabilitas yang tidak melihat mengambil program studi Ilmu Politik. Dan pada saat itu diragukan, benar-benar ditanya setiap hari 'Mas, apakah mau pindah prodi?'," ungkap Fajri.

Fajri mengaku ia tidak bisa menjawab dengan kata-kata.

"Tapi dengan pengujian semester awal IPK saya di atas 3,00. Baru berhenti pertanyaan itu," tutur Fajri.

Ia lulus dalam waktu tiga tahun dua bulan kemudian diminta oleh Rektor saat itu untuk lanjut kuliah S2. Hingga saat ini Fajri juga masih aktif berorganisasi.

"Kalau masih memiliki tekad saya kira tidak ada yang mustahil itu bisa dilalui sampai detik ini. Kita terus memotivasi adik-adik kita untuk terus melakukan advokasi di dunia pendidikan," pesan Fajri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau