Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Taufiq A Gani
Peneliti di IDCI - Indonesia Digital And Cyber Institute

Alumni Lemhannas PPRA 65, PKN II LAN RI, Ph.D Computer Science, USM, Penang, Malaysia

Kemiskinan Ekstrem Tidak Akan Selesai Tanpa Literasi

Kompas.com, 22 Desember 2025, 10:05 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KEMISKINAN ekstrem kerap dipahami sebagai persoalan ekonomi yang dapat diselesaikan melalui bantuan tunai, pangan, atau pelatihan kerja jangka pendek. Pendekatan ini memang penting, tetapi menurut saya tidak cukup.

Selama literasi tidak ditempatkan sebagai fondasi kebijakan, kemiskinan ekstrem akan terus berulang antargenerasi.

Bantuan meredakan gejala, tetapi tidak membangun kapasitas berpikir yang menentukan apakah seseorang mampu keluar dari kemiskinan secara berkelanjutan.

Literasi sebagai kapasitas berpikir

Literasi inklusif sering dipersempit menjadi kemampuan membaca dan menulis. Dalam konteks pengentasan kemiskinan ekstrem, pemahaman ini terlalu dangkal.

Bagi saya, literasi harus dipahami sebagai kapasitas berpikir—kemampuan memahami informasi, mengelola pilihan, dan mengambil keputusan yang menentukan arah hidup seseorang.

Baca juga: Paradoks Ekonomi 2026: Stabilitas ala Purbaya dan Kegelisahan Rumah Tangga

Pandangan ini menguat ketika Kementerian Sosial dan Perpustakaan Nasional menyepakati penggunaan pendekatan literasi inklusif dalam penyelesaian masalah sosial.

Kesepakatan ini menandai pergeseran penting dalam cara pandang kebijakan: dari sekadar distribusi bantuan menuju pembangunan kapasitas manusia.

Dalam kerangka Asta Cita, khususnya penguatan sumber daya manusia dan inklusi sosial, Sekolah Rakyat (SR) dirancang bukan hanya sebagai ruang belajar alternatif, tetapi sebagai ruang intervensi sosial berbasis literasi.

Urgensi pendekatan ini terlihat dari data. Badan Pusat Statistik mencatat kemiskinan ekstrem pada Maret 2025 sebesar 0,85 persen atau sekitar 2,38 juta orang. Angka ini memang menurun, tetapi belum mencapai target nol persen.

Yang sering luput diperhatikan, penurunan kemiskinan secara agregat tidak otomatis memperbaiki kondisi anak-anak dari keluarga rentan.

Laporan UNICEF Situasi Anak Indonesia 2020 menunjukkan bahwa 12 persen anak Indonesia hidup dalam kemiskinan, dan sekitar 40 persen dari seluruh penduduk miskin adalah anak-anak.

Kondisi ini paling banyak ditemukan pada keluarga pekerja informal dan masyarakat perdesaan, dengan akses terbatas terhadap fasilitas belajar dan pendampingan pendidikan.

Ketimpangan tersebut tercermin jelas dalam capaian pembelajaran. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan 59 persen siswa Indonesia belum mencapai kompetensi minimum membaca, dan 68 persen belum mencapai kompetensi minimum matematika.

Jika dilihat dari Indeks Ekonomi, Sosial, dan Budaya (ESCS), sebanyak 43 persen siswa Indonesia berada pada kuintil ESCS internasional terbawah, dengan skor matematika rata-rata 354 poin.

Skor ini lebih rendah dibandingkan siswa dengan latar sosial-ekonomi serupa di negara pembanding seperti Turkiye dan Vietnam.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau