Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

5 Makanan Indonesia yang Terpengaruh Budaya Belanda, Pernah Makan?

Kompas.com, 10 Maret 2026, 07:30 WIB
Afif Khoirul Muttaqin,
Anggara Wikan Prasetya

Tim Redaksi

KOMPAS.COM - Pernahkah kamu terpikir kenapa beberapa makanan kita punya nama yang terdengar agak "kebarat-baratan"? 

Atau kenapa teknik memasak kue kita mirip banget dengan gaya Eropa?

Nah, sejarah panjang Indonesia ternyata nggak cuma meninggalkan bangunan tua, tapi juga warisan resep yang masih kita nikmati sampai sekarang.

Mengutip dari Tatler Asia, perpaduan budaya antara Indonesia dan Belanda melahirkan hidangan yang khas.

Makanan Indonesia yang terpengaruh budaya Belanda

Penasaran apa saja makanan yang sering kita santap tapi ternyata berasal dari budaya Belanda? Yuk, kita bedah satu-satu!

Baca juga: 5 Tempat Makan 24 Jam di Yogyakarta, Cocok untuk Wisata Kuliner Malam

1. Selat Solo (Bistik Jawa)

Kalau kamu ke Solo, hidangan ini wajib banget dicoba. Selat Solo sebenarnya adalah adaptasi dari Slacht atau bistik daging khas Eropa.

Ilustrasi selat solo. Dok. Shutterstock/Ika Rahma H Ilustrasi selat solo.

Karena lidah orang Jawa lebih suka rasa manis, saus bistik yang aslinya gurih kental diubah menjadi kuah encer yang manis gurih dengan tambahan kecap manis.

Penyajiannya pun sangat kental gaya Eropa, lengkap dengan buncis, wortel, kentang goreng, dan telur rebus. Benar-benar perpaduan ningrat Jawa dan selera kolonial!

2. Perkedel

Siapa sangka lauk pendamping nasi kuning atau soto ini punya asal-usul dari Belanda?

Cara membuat perkedel kentang, tanpa tepung tetap kokoh dan tak mudah hancur.canva.com Cara membuat perkedel kentang, tanpa tepung tetap kokoh dan tak mudah hancur.

Nama Perkedel diambil dari kata Frikadeller, yaitu bola-bola daging cincang goreng khas Belanda.

Di Indonesia, karena harga daging zaman dulu cukup mahal bagi rakyat biasa, resepnya dimodifikasi dengan memperbanyak kentang tumbuk dan hanya sedikit campuran daging atau bahkan tanpa daging sama sekali. Hasilnya? Malah jadi lauk favorit sejuta umat!

Baca juga: 6 Rekomendasi Kuliner Street Food di Surabaya yang Sayang Untuk Dilewatkan

3. Semur

Lauk manis berwarna gelap ini ternyata punya hubungan darah dengan teknik memasak Belanda bernama Smoor.

Ilustrasi hidangan semur telurDok. Sajian Sedap Ilustrasi hidangan semur telur


Dalam bahasa Belanda, Smoor berarti teknik merebus daging dalam waktu lama dengan api kecil hingga empuk.

Orang Indonesia kemudian menambahkan bumbu rempah lokal seperti pala, cengkeh, dan tentu saja kecap manis. Jadilah semur yang aromatik dan meresap sampai ke serat daging.

4. Lapis legit (Spekkoek)

Kue yang langganan ada saat hari raya ini dikenal dengan nama Spekkoek di Belanda.

Ilustrasi lapis legit.Shutterstock/Audrey C Ilustrasi lapis legit.

Nama ini merujuk pada tampilannya yang berlapis-lapis mirip dengan lemak babi (spek), meskipun bahannya sama sekali tidak menggunakan itu.

Proses pembuatannya yang butuh kesabaran ekstra (dipanggang lapis demi lapis) membuat kue ini dulunya hanya disajikan untuk acara-acara istimewa para bangsawan Belanda di tanah air. Sekarang, Lapis Legit Indonesia bahkan masuk daftar salah satu kue terenak di dunia!

Baca juga: 7 Kuliner Legendaris Madiun yang Sulit Dijumpai di Kota Lain

5. Kastengel & nastar

Dua sejoli pengisi toples Lebaran ini adalah warisan murni dari tradisi kue kering Belanda. Kastengel berasal dari kata Kaasstengels (Kaas artinya keju, Stengels artinya batang). Di negeri asalnya, kue ini dimakan sebagai camilan pendamping sup atau minuman.

Nastar, salah satu sajian saat Natal tiba.canva.com Nastar, salah satu sajian saat Natal tiba.

Sedangkan Nastar berasal dari Ananas (nanas) dan Taart. Karena dulu buah beri untuk isian kue sulit ditemukan di Indonesia, warga lokal berkreasi menggunakan selai nanas yang lebih mudah didapat.

Kenapa kuliner ini bisa bertahan?

Adaptasi kuliner ini bukan sekadar meniru, tapi bentuk kreativitas nenek moyang kita dalam memadukan bahan lokal dengan teknik luar.

Hasilnya adalah rasa yang unik nggak sepenuhnya Eropa, tapi juga punya identitas Indonesia yang kuat.

Dari kelima makanan di atas, mana nih yang baru kamu tahu kalau itu asalnya dari Belanda? Atau kamu punya makanan favorit lain yang punya sejarah unik? 

Baca juga: 7 Rekomendasi Kuliner Malam di Jakarta yang Buka 24 Jam

 
 
 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Foodplace (@my.foodplace)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau