KOMPAS.COM - Pernahkah kamu terpikir kenapa beberapa makanan kita punya nama yang terdengar agak "kebarat-baratan"?
Atau kenapa teknik memasak kue kita mirip banget dengan gaya Eropa?
Nah, sejarah panjang Indonesia ternyata nggak cuma meninggalkan bangunan tua, tapi juga warisan resep yang masih kita nikmati sampai sekarang.
Mengutip dari Tatler Asia, perpaduan budaya antara Indonesia dan Belanda melahirkan hidangan yang khas.
Penasaran apa saja makanan yang sering kita santap tapi ternyata berasal dari budaya Belanda? Yuk, kita bedah satu-satu!
Baca juga: 5 Tempat Makan 24 Jam di Yogyakarta, Cocok untuk Wisata Kuliner Malam
1. Selat Solo (Bistik Jawa)
Kalau kamu ke Solo, hidangan ini wajib banget dicoba. Selat Solo sebenarnya adalah adaptasi dari Slacht atau bistik daging khas Eropa.
Ilustrasi selat solo. Karena lidah orang Jawa lebih suka rasa manis, saus bistik yang aslinya gurih kental diubah menjadi kuah encer yang manis gurih dengan tambahan kecap manis.
Penyajiannya pun sangat kental gaya Eropa, lengkap dengan buncis, wortel, kentang goreng, dan telur rebus. Benar-benar perpaduan ningrat Jawa dan selera kolonial!
2. Perkedel
Siapa sangka lauk pendamping nasi kuning atau soto ini punya asal-usul dari Belanda?
Cara membuat perkedel kentang, tanpa tepung tetap kokoh dan tak mudah hancur.Nama Perkedel diambil dari kata Frikadeller, yaitu bola-bola daging cincang goreng khas Belanda.
Di Indonesia, karena harga daging zaman dulu cukup mahal bagi rakyat biasa, resepnya dimodifikasi dengan memperbanyak kentang tumbuk dan hanya sedikit campuran daging atau bahkan tanpa daging sama sekali. Hasilnya? Malah jadi lauk favorit sejuta umat!
Baca juga: 6 Rekomendasi Kuliner Street Food di Surabaya yang Sayang Untuk Dilewatkan
3. Semur
Lauk manis berwarna gelap ini ternyata punya hubungan darah dengan teknik memasak Belanda bernama Smoor.
Ilustrasi hidangan semur telurDalam bahasa Belanda, Smoor berarti teknik merebus daging dalam waktu lama dengan api kecil hingga empuk.
Orang Indonesia kemudian menambahkan bumbu rempah lokal seperti pala, cengkeh, dan tentu saja kecap manis. Jadilah semur yang aromatik dan meresap sampai ke serat daging.
4. Lapis legit (Spekkoek)
Kue yang langganan ada saat hari raya ini dikenal dengan nama Spekkoek di Belanda.
Ilustrasi lapis legit.Nama ini merujuk pada tampilannya yang berlapis-lapis mirip dengan lemak babi (spek), meskipun bahannya sama sekali tidak menggunakan itu.
Proses pembuatannya yang butuh kesabaran ekstra (dipanggang lapis demi lapis) membuat kue ini dulunya hanya disajikan untuk acara-acara istimewa para bangsawan Belanda di tanah air. Sekarang, Lapis Legit Indonesia bahkan masuk daftar salah satu kue terenak di dunia!
Baca juga: 7 Kuliner Legendaris Madiun yang Sulit Dijumpai di Kota Lain
5. Kastengel & nastar
Dua sejoli pengisi toples Lebaran ini adalah warisan murni dari tradisi kue kering Belanda. Kastengel berasal dari kata Kaasstengels (Kaas artinya keju, Stengels artinya batang). Di negeri asalnya, kue ini dimakan sebagai camilan pendamping sup atau minuman.
Nastar, salah satu sajian saat Natal tiba.Sedangkan Nastar berasal dari Ananas (nanas) dan Taart. Karena dulu buah beri untuk isian kue sulit ditemukan di Indonesia, warga lokal berkreasi menggunakan selai nanas yang lebih mudah didapat.
Adaptasi kuliner ini bukan sekadar meniru, tapi bentuk kreativitas nenek moyang kita dalam memadukan bahan lokal dengan teknik luar.
Hasilnya adalah rasa yang unik nggak sepenuhnya Eropa, tapi juga punya identitas Indonesia yang kuat.
Dari kelima makanan di atas, mana nih yang baru kamu tahu kalau itu asalnya dari Belanda? Atau kamu punya makanan favorit lain yang punya sejarah unik?
Baca juga: 7 Rekomendasi Kuliner Malam di Jakarta yang Buka 24 Jam
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangLihat postingan ini di Instagram