Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

7 Rekomendasi Ketupat dari Berbagai Daerah di Indonesia, Cocok untuk Lebaran Ketupat 28 Maret 2026

Kompas.com, 25 Maret 2026, 13:30 WIB
Afif Khoirul Muttaqin,
Wahyu Adityo Prodjo

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Momen Hari Raya Idul Fitri rasanya belum lengkap tanpa kehadiran ketupat di meja makan. Ikon kuliner khas Lebaran ini seolah menjadi pendamping wajib bagi opor ayam, rendang, hingga gulai.

Menariknya, tradisi menyantap ketupat tidak hanya berhenti di hari H Lebaran saja. Di banyak daerah di Indonesia, terdapat tradisi Lebaran Ketupat yang biasanya dirayakan seminggu setelah hari kemenangan.

Untuk menyambut Lebaran Ketupat yang jatuh pada 28 Maret 2026 mendatang, tak ada salahnya kita mengenal lebih dekat kekayaan variasi ketupat di nusantara. Ternyata, setiap daerah punya cara unik dalam mengolah beras di dalam anyaman janur ini.

Mengutip dari laman Kompas.com, sejarah ketupat sendiri sebenarnya sudah ada jauh sebelum Islam masuk ke Indonesia.

Namun, adalah Sunan Kalijaga yang kemudian menggunakan ketupat sebagai media dakwah. Sunan Kalijaga memperkenalkan istilah ba'da Lebaran (prosesi Shalat Id) dan ba'da Kupat (tradisi berbagi ketupat seminggu setelah Lebaran).

Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai lambang Idul Fitri saat beliau memperkenalkan istilah ba'da di Pulau Jawa... ba'da Kupat merupakan tradisi membuat ketupat dan membagikannya kepada tetangga dan keluarga seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri.

Nah, buat kamu yang ingin variasi berbeda untuk Lebaran Ketupat 2026 nanti, berikut adalah 7 rekomendasi jenis ketupat khas dari berbagai daerah yang dihimpun dari berbagai sumber:

Baca juga: Jangan Buang Ketupat Sisa Lebaran, Sajikan dengan Sayur Padang Ini

1. Ketupat Bareh (Minangkabau)

Ragam jenis ketupat yang dibuat oleh masyarakat Jawa Tondano (Jaton) di Desa Yosonegoro Kabupaten Gorontalo. Nama jenis ketupat ini antara lain ketupat panggang, sintok, jantung, luwar dan bawang.KOMPAS.COM/ROSYID A AZHAR Ragam jenis ketupat yang dibuat oleh masyarakat Jawa Tondano (Jaton) di Desa Yosonegoro Kabupaten Gorontalo. Nama jenis ketupat ini antara lain ketupat panggang, sintok, jantung, luwar dan bawang.
Jika biasanya ketupat hanya direbus dengan air biasa, Ketupat Bareh asal Sumatera Barat ini punya cita rasa yang lebih gurih. 

Bahannya menggunakan beras putih yang direbus bersama santan. Tak jarang, ketupat ini juga bisa ditemukan di daerah pesisir Sibolga, Sumatera Utara. Cocok banget disantap bareng sambal kelapa atau ikan asam padeh yang segar!

2. Ketupat Palas atau Ketupat Pulut (Medan)

Geser sedikit ke Medan, ada Ketupat Palas. Berbeda dengan ketupat umumnya yang berbentuk belah ketupat, jenis ini berbentuk segitiga. 

Pembungkusnya pun bukan janur kelapa, melainkan daun palas (palem). Karena menggunakan bahan dasar pulut atau beras ketan, teksturnya lebih legit. 

Ketupat ini sangat nikmat jika dimakan dengan daging rendang maupun sirup gula merah.

Baca juga: Bukan Sekadar Enak, Ini Makna Spiritual di Balik Duet Maut Ketupat Opor

3. Ketupat Bebanci (Betawi)

Ilustrasi ketupat betawi. SHUTTERSTOCK/Maharani afifah Ilustrasi ketupat betawi.
Warga Jakarta punya jagoan sendiri, yaitu Ketupat Bebanci. Ini adalah hidangan legendaris yang kini mulai langka.

Penyajiannya sangat mewah dengan kuah santan kaya rempah seperti kemiri, cabai, dan potongan daging sapi yang empuk. Nama Bebanci konon merujuk pada sifat masakannya yang sulit dikategorikan, bukan gulai tapi juga bukan soto.

4. Ketupat Glabed (Tegal)

Kupat glabed, makanan khas Kota Tegal yang kuahnya terkenal kental dan gurih. TRIBUN JATENG/FAJAR BAHRUDDIN ACHMAD Kupat glabed, makanan khas Kota Tegal yang kuahnya terkenal kental dan gurih.
Bagi pencinta kuah kental, Ketupat Glabed dari Tegal wajib dicoba. Ketupat ini disajikan dengan potongan tempe goreng dan siraman kuah kuning kental (glabed).


Sebagai pelengkap yang bikin makin nagih, biasanya disajikan bareng sate ayam atau sate kerang serta taburan kerupuk mie kuning di atasnya.

Baca juga: Cara Menghangatkan Ketupat agar Tidak Cepat Basi, Tetap Awet dan Enak

5. Ketupat Cabuk Rambak (Solo)

Ilustrasi cabuk rambak. Dok. Dinas Pariwisata Solo Ilustrasi cabuk rambak.
Solo selalu punya kejutan kuliner. Ketupat Cabuk Rambak adalah sajian ketupat nasi yang diiris tipis-tipis, lalu disiram sambal wijen yang dicampur kemiri dan kelapa parut sangrai.

Rasanya sangat khas, perpaduan antara gurih dan pedas. Jangan lupa tambahkan karak (kerupuk nasi) biar makin mantap!

6. Ketupat Kandangan (Kalimantan Selatan)

Terbang ke Kalimantan Selatan, ada Ketupat Kandangan yang sangat populer. Keunikannya terletak pada lauk pendampingnya, yaitu ikan haruan (ikan gabus) yang dibakar terlebih dahulu sebelum dimasak. 

Kuah santannya sangat kental dengan racikan rempah seperti kayu manis, pala, dan cengkeh yang aromatik.

Baca juga: Tips Membuat Ketupat Lebaran agar Tahan Lama dan Tidak Cepat Basi

7. Ketupat Jembut (Semarang)

Puluhan anak-anak warga Pedurungan Kota Semarang merayakan tradisi Syawalan dengan berburu ketupat jembut di rumah tetangga, Rabu (17/4/2024) pagi.KOMPAS.COM/Titis Anis Fauziyah Puluhan anak-anak warga Pedurungan Kota Semarang merayakan tradisi Syawalan dengan berburu ketupat jembut di rumah tetangga, Rabu (17/4/2024) pagi.
Jangan kaget dengan namanya! Ketupat unik dari Pedurungan, Semarang ini hanya muncul saat momen khusus seperti Syawalan atau Lebaran Ketupat. 

Bentuknya seperti ketupat biasa, namun bagian tengahnya terbelah dan sudah diisi dengan tauge atau sayuran lainnya. Tradisi membagikan ketupat ini sudah berlangsung turun-temurun dan selalu dinanti oleh warga setempat.

Itu dia 7 rekomendasi ketupat yang bisa jadi inspirasi menu Lebaran Ketupat pada 28 Maret 2026 nanti. Mana yang paling bikin kamu penasaran?

Baca juga: Bosan Ketupat dan Opor? Coba 7 Kuliner Timur Tengah dan Sekitarnya untuk Lebaran

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau