Penulis
Secara etimologis, kata "ngejalang" berkaitan dengan makna “menjaring harapan”, yang diwujudkan melalui doa-doa yang dipanjatkan untuk keluarga yang telah meninggal dunia.
Tradisi ini juga menjadi bentuk akulturasi antara ajaran Islam dan budaya lokal. Masyarakat memaknainya sebagai cara menjaga nilai religius sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.
Baca juga: Gulai Taboh, Hidangan Santan dan Ikan yang Bertapa Semalam di Dapur Tradisional Lampung
Masih diambil dari laman yang sama, pelaksanaan Ngejalang Kubokh biasanya dilakukan pada hari pertama hingga beberapa hari setelah Idul Fitri, tergantung kesepakatan masyarakat setempat.
Prosesi diawali dengan membersihkan makam keluarga sejak bulan Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan ziarah dan doa bersama pada Hari Raya.
Tradisi ini tidak hanya bersifat individual, tetapi kolektif. Warga berkumpul di area pemakaman untuk mendoakan leluhur secara bersama-sama.
Dalam praktiknya, Ngejalang Kubokh memiliki beberapa tahapan utama, antara lain:
Makanan yang dibawa biasanya disusun dalam wadah khusus dan dinikmati bersama setelah doa selesai. Tradisi makan bersama ini menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur, dicukil dari RRI.
Meski zaman terus berubah, Ngejalang Kubokh tetap dipertahankan oleh masyarakat Lampung sebagai bagian dari identitas budaya mereka.
Tradisi ini tidak hanya menjadi warisan leluhur, tetapi juga ruang sosial yang mempertemukan generasi lama dan muda dalam satu momen kebersamaan saat Lebaran.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang