Capaian tersebut terasa semakin istimewa karena diraih pada musim debutnya di ajang GP.
Konsistensinya berbuah manis di Brasil, saat ia mampu bersaing di barisan depan hingga garis akhir.
Pencapaiannya mendapat apresiasi luas, termasuk dari Doni Tata Pradita, sosok yang menjadi pelopor pembalap Indonesia di ajang internasional.
Penampilannya bukan sekadar sensasi sesaat tetapi menunjukkan proses belajar yang cepat dalam membaca persaingan di kelas Moto3 yang terkenal ketat.
“Untuk mencapai titik podium di kelas dunia sangat susah, belum ada sejarah balap Indonesia mampu menorehkan sampai podium,” ujar pembalap yang terjun di Moto3 tahun 2013 itu kepada Kompas.com.
Tapi Veda bisa tampil cukup kompetitif sejak seri 1 sudah memberi kejutan bisa fight di top "3."
Menurutnya hasil yang diraih Veda Ega di Brasil merupakan buah dari adaptasi yang matang sejak seri pertama.
“Hasil finis ke-5 seri 1 saat di Thailand dan setelah dia memahami karakter peta persaingan lawan di Moto3 jadi sudah bisa menerapkannya di seri kedua sehingga berhasil mendapat podium 3,” imbuhnya.
Kebanggaan dari Generasi Perintis
Baginya, keberhasilan pebalap berusia 17 tahun itu memiliki makna emosional tersendiri.
Sebagai pebalap Indonesia pertama yang menembus ajang dunia, ia melihat lahirnya generasi baru yang mampu melampaui capaian sebelumnya.
“Saya pribadi turut bangga karena Veda Ega berhasil di seri kedua podium 3 di kelas Moto3 Championship. Sangat bangga ada penerus dari Yogya khususnya Wonosari bisa berhasil tampil gemilang di seri kedua di Brasil ini,” tutur Doni Tata.
Ia pun berharap capaian tersebut menjadi pemantik semangat bagi pembalap muda lain di Tanah Air.
“Pesan saya untuk Veda terus berjuang mengharumkan nama Indonesia menjadi pembalap yang hebat mewakili Indonesia khususnya Yogya dan Wonosari. Kita doakan semoga makin sukses dan bisa memberikan motivasi pembalap Indonesia yang lain,” sambungnya.
Yogyakarta, Pusat Lahirnya Talenta, Fasilitas Jadi PR Besar
Di balik sukses Veda Ega, Yogyakarta kembali menegaskan diri sebagai salah satu lumbung pembalap nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah nama terus bermunculan dari daerah ini.
“Perkembangan balap motor sendiri di Yogya itu jadi barometer ya,” kata Doni Tata.
Apalagi saat ini ada nama-nama pembalap yang mengharumkan nama Indonesia, seperti Kiandra Ramadhipa yang menjuarai European Talent Cup 2025, lalu Aldi Satya Mahendra yang tampil kompetitif di World Supersport 2026.
Selain itu, Andi Gilang juga terus bersaing di Asia Road Racing Championship.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ekosistem di Yogyakarta memiliki potensi besar untuk melahirkan pembalap kelas dunia.
Meski demikian, keterbatasan fasilitas masih menjadi kendala utama. Ia menilai pembangunan sirkuit permanen menjadi kebutuhan mendesak jika ingin menjaga kesinambungan prestasi.
“Mudah-mudahan dengan adanya Veda meraih prestasi ini akan memberi perhatian lebih untuk pembalap di Yogyakarta khususnya agar diberi fasilitas. Dibangunkan sirkuit balap motor permanen disini,” tutur pemilik Data Racing School itu.
Sehingga tanpa dukungan infrastruktur, proses latihan menjadi tidak optimal.
“Jadi yang perlu diperbaiki untuk melahirkan pembalap nasional maupun internasional ya harus mempunyai fasilitas yaitu sirkuit permanen. Jadi lebih intensif lagi latihannya, kalau sekarang kan kita mau latihan kesusahan,” sambungnya.
Ia pun membandingkan dengan kondisi Veda saat ini berlatih di Eropa dengan menggunakan fasilitas sirkuit profesional.
“Jadi latihannya sudah enak, ada sirkuit-sirkuit permanen bersama Honda Asia yang ada di Eropa. Kalau di Yogya dia latihan hanya di lapangan parkir stadion Maguwoharjo tapi kadang kalau ada event kita tidak bisa latihan sehingga itu kendalanya,” pungkas Doni Tata.
Setelah mencetak sejarah di Brasil, Veda Ega akan melanjutkan perjuangannya di Circuit of the Americas (COTA), Amerika Serikat.
Tantangan dipastikan lebih berat, mengingat sebagian besar pebalap sudah familiar dengan karakter lintasan tersebut.
https://www.kompas.com/motogp/read/2026/03/27/05395028/doni-tata-apresiasi-veda-ega-podium-moto3-jadi-tonggak-baru-indonesia