Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ponsel Anak Bak Bom Waktu, Ini Cara Ibu Menghadapi Dilema Keamanan Digital

Kompas.com - 18/02/2026, 14:50 WIB
Cara ibu menghadapi dilema keamanan digital yang mengintai anak-anak. Cara ibu menghadapi dilema keamanan digital yang mengintai anak-anak.
Editor Citra Narada Putri

Parapuan.co - Bagi banyak ibu di era modern ini, memegang ponsel anak terkadang terasa seperti memegang bom waktu. Ada ketakutan terhadap apa yang mungkin muncul di balik algoritma sosial media, mulai dari perundungan siber (cyber bullying), paparan konten yang belum saatnya mereka lihat, hingga predator digital yang bersembunyi di balik profil anonim.

Kegelisahan ini bukan tanpa alasan. Di meja makan atau di grup WhatsApp wali murid, topik tentang "kecanduan layar" dan "pengaruh buruk medsos" telah menjadi menu harian yang menguras energi mental. Para ibu merasa sedang berlomba dengan teknologi yang berkembang jauh lebih cepat daripada buku panduan pengasuhan mana pun.

Ada perasaan tidak berdaya saat menyadari bahwa "pagar" rumah setinggi apa pun tidak lagi mampu membendung arus informasi yang masuk langsung ke kamar tidur anak melalui sinyal Wi-Fi. Kondisi inilah yang membuat kebijakan pemerintah terkait ruang digital selalu menjadi perbincangan hangat di kalangan perempuan.

Di satu sisi, ada kelegaan karena merasa dibantu, namun di sisi lain muncul keraguan: mampukah selembar regulasi menggantikan peran pengawasan mata ibu yang paling waspada sekalipun?

Kegelisahan tersebut juga dirasakan oleh Wiwik Ningsih (44). Sebagai ibu, Wiwik berada di persimpangan yang dialami jutaan perempuan Indonesia saat ini: bagaimana menjaga anak-anak tetap aman di dunia maya tanpa harus merenggut rasa ingin tahu dan hak mereka untuk berkembang?

Keresahan ini bertepatan dengan langkah Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang tengah menggodok PP TUNAS (Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak).

Meski bertujuan membatasi akses konten negatif, Wiwik melihat regulasi ini barulah sebuah permulaan, bukan jawaban akhir bagi Generasi Emas 2045.

Bagi Wiwik, kebijakan pemerintah adalah payung besar, namun tangan orang tualah yang memegang gagangnya. Ia khawatir jika aturan ini membuat para orang tua justru menjadi lengah dan menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya pada negara.

“PP TUNAS itu memang perlu, dan saya apresiasi langkah Komdigi yang mulai mengajak platform digital untuk memiliki tanggung jawab sosial pada perlindungan remaja dan anak-anak Indonesia. Tapi jujur saja, saya khawatir,” jelas Wiwik.

Baca Juga: Menkomdigi Pastikan Stabilitas Jaringan dan Keamanan Digital Selama Mudik Lebaran 2025

Ia melanjutkan dengan nada serius, memperingatkan adanya false sense of security.

“Jangan sampai dengan adanya aturan ini, kita sebagai orang tua malah berpikir tugas kita sudah selesai. Seolah-olah kalau sudah ada hukumnya, anak kita otomatis aman. Itu pola pikir yang berbahaya.”

Wiwik berkaca pada kebijakan di Australia yang menerapkan pelarangan total media sosial bagi anak di bawah 16 tahun. Hasilnya? Anak-anak justru menjadi ahli dalam "kucing-kucingan" digital. Hal ini membuktikan bahwa algoritma dan hukum administratif memiliki keterbatasan.

“Kalau aturan sekeras itu saja tidak bisa sepenuhnya mencegah anak masuk ke media sosial, maka kita harus jujur bertanya, apa sebenarnya yang ingin kita capai? Apakah kita hanya ingin membersihkan layar ponsel anak-anak kita, atau kita ingin membangun karakter mereka?” ujarnya.

“Di sana (Australia), anak-anak tetap bisa akses dengan akun palsu atau mengakali verifikasi. Itu bukti kalau sekadar melarang itu sering kali cuma jadi simbolis, tapi belum tentu efektif di lapangan.”

Alih-alih menjadi "polisi" di rumah, Wiwik dan suaminya memilih peran sebagai sahabat dan mentor. Baginya, media sosial bukanlah monster yang harus dijauhi, melainkan ruang diskusi yang cair. Ia percaya bahwa komunikasi dua arah jauh lebih kuat daripada sekadar memutus kabel internet.

“Di rumah, saya tidak pakai cara ‘pokoknya tidak boleh’. Kami berdiskusi. Saya tanya anak saya, ‘Kamu tahu tidak risiko hoaks itu apa? Menurutmu kalau ada orang bicara kasar di kolom komentar, kamu harus gimana?’ Kami bahas topik tentang kekerasan, konten dewasa, sampai cyber bullying. Kami sepakat tentang aturan kapan dia boleh online di medsos, tapi yang paling penting adalah anak saya merasa aman untuk bercerita ke saya seandainya dia menemukan sesuatu yang mengganggu saat berselancar di medsos dan dunia maya,” tuturnya.

Wiwik pun menekankan bahwa negara memang bertindak sebagai wasit, namun keluarga adalah pelatih utamanya. Literasi digital bukan sekadar tahu cara memakai aplikasi, tapi tahu cara bersikap dengan etika.

“Menurut saya, peran negara adalah sebagai wasit bagi ekosistem, memastikan platform digital tidak nakal. Sekolah formal perlu dan sebagian telah mengajarkan etika digital. Tapi ujungujungnya, tetap orang tua yang jadi pendamping pertama dan utama. Kita tidak bisa cuma pasang pagar tinggi-tinggi karena anak-anak kita itu kreatif, mereka akan selalu menemukan cara untuk melompatinya kalau mereka tidak paham kenapa pagar itu ada,” ujarnya lagi.

Harapan Wiwik sederhana, semoga PP TUNAS tidak hanya menjadi dokumen "dingin" di atas meja birokrat saja. Tapi diharapkan bisa menjadi jembatan yang memberdayakan para ibu dan ayah untuk menjadi kompas sejati bagi anak-anak mereka di belantara digital.

(*)

Baca Juga: Larangan Media Sosial Untuk Anak Dinilai Tak Sederhana, Ini Temuannya


Terkini Lainnya
Siap Pecahkan Personal Record? Ini Kompetisi Lari Jarak Pendek Wajib Ikut di GBK
Siap Pecahkan Personal Record? Ini Kompetisi Lari Jarak Pendek Wajib Ikut di GBK
PARAPUAN
PMB 2026 Periode September Dibuka, Simak Update Biaya dan Jadwal Kuliah di Universitas Bina Sarana Informatika
PMB 2026 Periode September Dibuka, Simak Update Biaya dan Jadwal Kuliah di Universitas Bina Sarana Informatika
PARAPUAN
Mengapa Bermain Busa Saat Mandi Penting untuk Perkembangan Kognitif Balita?
Mengapa Bermain Busa Saat Mandi Penting untuk Perkembangan Kognitif Balita?
PARAPUAN
ASUS Vivobook S14 (S3407QA), Laptop AI Tipis dengan Baterai Tahan Seharian
ASUS Vivobook S14 (S3407QA), Laptop AI Tipis dengan Baterai Tahan Seharian
PARAPUAN
ASUS Zenbook S14 OLED 2026 Bawa Performa AI dalam Desain Ultra Tipis
ASUS Zenbook S14 OLED 2026 Bawa Performa AI dalam Desain Ultra Tipis
PARAPUAN
Ini Rekomendasi Desktop All-in-One Intel untuk Kerja Lebih Efisien
Ini Rekomendasi Desktop All-in-One Intel untuk Kerja Lebih Efisien
PARAPUAN
Kapan Batas Waktu Bayar Zakat Fitrah? Ini Penjelasannya
Kapan Batas Waktu Bayar Zakat Fitrah? Ini Penjelasannya
PARAPUAN
Kid’s Cavity Defense Toothpaste, Produk Baru METOO untuk Jaga Kesehatan Gigi Anak
Kid’s Cavity Defense Toothpaste, Produk Baru METOO untuk Jaga Kesehatan Gigi Anak
PARAPUAN
Memahami Cara Kerja AI Website Builder untuk Membuat Website Sendiri
Memahami Cara Kerja AI Website Builder untuk Membuat Website Sendiri
PARAPUAN
Liburan ke Resorts World Genting Lebih Hemat, Ada Promo Stay + Theme Park Diskon 62 Persen
Liburan ke Resorts World Genting Lebih Hemat, Ada Promo Stay + Theme Park Diskon 62 Persen
PARAPUAN
Zakat untuk Korban Bencana Alam, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?
Zakat untuk Korban Bencana Alam, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?
PARAPUAN
Bukan Sekadar Skincare, Inilah Era Baru Peremajaan Kulit dari Level Seluler
Bukan Sekadar Skincare, Inilah Era Baru Peremajaan Kulit dari Level Seluler
PARAPUAN
Cermati Fintech Group Buka Program Mudik Gratis #MAUDIKBersama Jelang Lebaran
Cermati Fintech Group Buka Program Mudik Gratis #MAUDIKBersama Jelang Lebaran
PARAPUAN
Ide Liburan Lebaran Bersama Keluarga di Ancol, dari Konser Musik hingga Wahana Edukatif
Ide Liburan Lebaran Bersama Keluarga di Ancol, dari Konser Musik hingga Wahana Edukatif
PARAPUAN
Perjalanan Saga Logistics: Dari Usaha Kecil Hingga Tumbuh Melayani Pengiriman di Berbagai Daerah
Perjalanan Saga Logistics: Dari Usaha Kecil Hingga Tumbuh Melayani Pengiriman di Berbagai Daerah
PARAPUAN
Rekomendasi 10 Anime Action Paling Seru yang Bisa di Tonton di Akhir Pekan
Rekomendasi 10 Anime Action Paling Seru yang Bisa di Tonton di Akhir Pekan
PARAPUAN
HUT ke-47 Hamzah Batik Diisi Kegiatan Sosial Bersama Panti Asuhan dan Pembagian Takjil
HUT ke-47 Hamzah Batik Diisi Kegiatan Sosial Bersama Panti Asuhan dan Pembagian Takjil
PARAPUAN
Panin Dai-ichi Life Dorong Literasi Keuangan Lewat Kolaborasi dengan HIPMI Kabupaten Bogor
Panin Dai-ichi Life Dorong Literasi Keuangan Lewat Kolaborasi dengan HIPMI Kabupaten Bogor
PARAPUAN
Guru Siapkan Program Sekolah Sehat melalui Workshop AIA Healthiest Schools 2026
Guru Siapkan Program Sekolah Sehat melalui Workshop AIA Healthiest Schools 2026
PARAPUAN
Rekomendasi 10 Kursi Gaming Ergonomis Terbaik dengan Desain Nyaman untuk Kerja dan Bermain Game di 2026
Rekomendasi 10 Kursi Gaming Ergonomis Terbaik dengan Desain Nyaman untuk Kerja dan Bermain Game di 2026
PARAPUAN
Cara Meningkatkan Efisiensi Biaya Disposal Limbah B3 Tanpa Melanggar Regulasi
Cara Meningkatkan Efisiensi Biaya Disposal Limbah B3 Tanpa Melanggar Regulasi
PARAPUAN
Bukan Sekadar Cepat, Ini Tips Memilih Layanan Internet Rumah yang Mendukung Produktivitas Keluarga
Bukan Sekadar Cepat, Ini Tips Memilih Layanan Internet Rumah yang Mendukung Produktivitas Keluarga
PARAPUAN
Tak Perlu Cari SIM Lokal Saat Traveling, BazTel Hadirkan Travel eSIM Mulai Rp 16.900
Tak Perlu Cari SIM Lokal Saat Traveling, BazTel Hadirkan Travel eSIM Mulai Rp 16.900
PARAPUAN
Lebih dari Sekadar Estetika, Intip Tren Furnitur Multifungsi untuk Kenyamanan Keluarga
Lebih dari Sekadar Estetika, Intip Tren Furnitur Multifungsi untuk Kenyamanan Keluarga
PARAPUAN
Panduan Memilah Limbah Kertas Daur Ulang, Ketahui Hal Ini Dulu
Panduan Memilah Limbah Kertas Daur Ulang, Ketahui Hal Ini Dulu
PARAPUAN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau