JAKARTA, KOMPAS.com - Jeddah Tower atau juga dikenal Kingdom Tower di Arab Saudi digadang-gadang akan menggeser posisi Burj Khalifa sebagai gedung terjangkung di dunia.
Sebab, Jeddah Tower direncanakan memiliki ketinggian 3.281 kaki atau 1.000 meter (1 kilometer), atau lebih tinggi dibandingkan Burj Khalifia yang menjulang 828 meter.
Baca juga: Konstruksi Calon Gedung Tertinggi di Dunia Sentuh Lantai ke-73, Hampir 300 Meter
Informasi itu diketahui melalui lembaga internasional yang memiliki spesialisasi di bidang gedung pencakar langit dan desain perkotaan berkelanjutan, Council on Tall Buildings and Urban Habitat (CTBUH).
Proyek ambisius tersebut dimiliki Jeddah Economic Company Ltd. (JEC) yang dirancang oleh Adrian Smith dan Gordon Gill dari Adrian Smith + Gordon Gill Architecture.
Dilansir dari laman resmi JEC, perusahaan tersebut berdiri pada tahun 2009 dan merupakan usaha patungan antara para raksasa real estat dan pengembang Arab Saudi.
Mereka terdiri dari Kingdom Holding Company (pemegang saham mayoritas), Abrar Holding Company, Qila'a Jeddah Company, dan Saudi Bin Laden Group.
Aliansi perusahaan ini terinspirasi oleh ambisi Pangeran Al Waleed Bin Talal, anggota keluarga Kerajaan Arab Saudi, serta pemilik Kingdom Holding Company.
Artinya, bisa dikatakan pemilik Jeddah Tower aalah Pangeran Al Waleed Bin Talal.
Sebagai informasi, Pangeran Al Waleed Bin Talal merupakan paman dari Pangeran Al Waleed Bin Khaled yang dijuluki Sleeping Prince dan meninggal pada 17 Juli 2025 lalu.
Baca juga: Desain dan Spesifikasi Calon Gedung Tertinggi di Dunia, Jeddah Tower
Setelah selesai dibangun, gedung pencakar langit ini akan bergabung dengan keajaiban arsitektur lain di Jeddah, seperti Masjid Terapung Penang dan Al Balad, pusat bersejarah kota yang menampilkan rumah-rumah dari koral.
Sesuai dengan namanya, proyek yang berlokasi di Jeddah, Arab Saudi, ini direncanakan menjadi gedung multifungsi, menawarkan perkantoran, hunian, area komersial, dan hotel.
Selain itu, juga akan ada dek observasi direncanakan menjadi yang tertinggi di dunia, serta balkon luar ruangan berdiameter 29,8 meter persegi, yang awalnya dirancang sebagai helipad.
Bangunan ini dirancang dengan gaya neo-futuristik, sebuah estetika avant-garde yang seringkali ditopang oleh penggunaan teknologi kelas dunia dan pemikiran ulang terhadap bentuk dan fungsi bangunan.
Gambar render menunjukkan sebuah menara tunggal yang ramping, yang sedikit meruncing ke arah puncaknya.
Baca juga: Calon Gedung Tertinggi Dunia di Jeddah Dilengkapi Hotel Supermewah
Sebagaimana dijelaskan Smith dan Gill, bentuknya terinspirasi oleh daun palem, yang banyak terdapat di Arab Saudi.
Meski dimaksudkan untuk menghormati asal-usulnya di Arab Saudi, desain ini juga mewakili puncak desain supertinggi dan evolusi teknologi yang memungkinkan desain monumental tersebut menjadi kenyataan.
"Geometri menara, yang dimulai dari dasar sebagai bentuk tripod tunggal, kemudian secara bertahap terpisah di puncak menara, berkaitan dengan karakteristik kinerja angin menara, sebuah analogi pertumbuhan baru yang dipadukan dengan teknologi," tambah Smith dan Gill.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang