JAKARTA, KOMPAS.com - Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) mengapresiasi terobosan kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan setiap daerah memiliki tim arsitektur untuk mengembangkan pariwisata di wilayah masing-masing agar devisa meningkat.
Menurut Ketua Umum (Ketum) IAI Georgius Budi Yulianto atau kerap disapa Boegar, kehadiran arsitek sampai pada tingkat paling dasar pemerintahan akan menjadi benchmark (tolok ukur) baru dalam pembangunan nasional.
"Karena, profesi ini benar-benar dilibatkan langsung hingga ke akar rumput masyarakat perdesaan dan kampung-kampung kota yang selama ini sering berada di pinggiran proses perencanaan," jelasnya kepada Kompas.com, Selasa (23/12/2025).
Baca juga: AHY Respons Prabowo yang Ingin Tiap Wilayah Bersih agar Devisa Naik
Boegar berpendapat, arsitek pada level desa bukan hanya hadir sebagai perancang bangunan, tetapi mitra strategis dalam membangun lingkungan hidup layak, sehat, dan berkelanjutan.
Dengan keterlibatan sejak awal, pembangunan dapat dirancang lebih kontekstual, sesuai karakter sosial, budaya, geografis, dan risiko lingkungan setempat, bukan sekadar bersifat seragam dan top-down.
Saat ini, kata Boegar, IAI telah hadir di 36 provinsi dengan jumlah anggota mendekati 30.000 arsitek.
Sebaran ini merupakan modal sosial dan profesional yang sangat kuat, dan secara organisasi dapat digerakkan secara terkoordinasi dengan satu komando untuk mendukung agenda pembangunan nasional lebih merata dan berkeadilan.
Secara keilmuan, arsitek tidak hanya bekerja pada aspek fisik bangunan, tetapi juga pada pembentukan peradaban.
Arsitektur hadir untuk membangun kohesi sosial, menciptakan ruang hidup yang manusiawi, serta memastikan pembangunan berwawasan keberlanjutan.
Baca juga: Wujudkan Rumah Impian Cukup Klik Generate? Realita AI yang Bikin Arsitek Waspada
Ini di dalamnya termasuk pengelolaan sumber daya, efisiensi energi, hingga penciptaan ruang publik inklusif dan produktif bagi masyarakat.
Lebih jauh, arsitek memiliki peran penting dalam mitigasi kebencanaan. Sebab, Indonesia sebagai negara rawan bencana membutuhkan pendekatan desain adaptif terhadap risiko, mulai dari gempa, banjir, hingga bencana hidrometeorologi.
"Arsitek berkontribusi melalui perencanaan tata bangunan, pemilihan material, serta strategi desain yang mengurangi dampak bencana dan mempercepat pemulihan," lanjutnya.
"Sejalan dengan itu, Pengurus Nasional IAI selama lebih dari 40 tahun telah memiliki Badan Pengabdian Profesi di tingkat nasional, yang kemudian diturunkan secara terstruktur hingga tingkat provinsi. Bidang pengabdian profesi ini dirancang agar setiap saat dapat di-deploy (disebarkan) untuk berbagai kepentingan sosial, kemasyarakatan, dan pembangunan berbasis kebutuhan nyata di lapangan," tutur Boegar.
Khusus dalam konteks kebencanaan, IAI juga telah membentuk Tim IAI HADIR yang bersiaga di setiap provinsi.
Peran tim ini tidak hanya terbatas pada fase tanggap darurat dan rekonstruksi pascabencana, tetapi juga pada fase mitigasi melalui riset, pendampingan, dan edukasi masyarakat tentang bagaimana hidup berdampingan dengan bencana secara lebih aman dan berkelanjutan.
Sebagai organisasi profesi, IAI pada prinsipnya sangat terbuka dan siap untuk berdialog secara langsung dengan Presiden.
Baca juga: Berapa Biaya Jasa Arsitek? Berikut Acuan Perhitungannya
"IAI menunggu undangan resmi guna memastikan secara komprehensif apa yang menjadi visi Presiden dalam pembangunan hingga tingkat desa," kata dia.
Sehingga, visi tersebut dapat diterjemahkan secara tepat ke dalam kerangka teknis, kebijakan operasional, serta mekanisme implementasi yang terukur dan dapat dijalankan secara berkelanjutan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang