Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenal Pondasi Cakar Ayam, Teknik Konstruksi Lokal yang Mendunia

Kompas.com, 5 Januari 2026, 23:06 WIB
Muhammad Idris

Penulis

KOMPAS.com - Nama Ir Sedyatmo dikenal luas sebagai pelopor teknologi pondasi yang mampu mengatasi tantangan pembangunan di atas tanah lunak.

Salah satu karyanya adalah sistem pondasi cakar ayam, sebuah inovasi yang hingga kini masih digunakan dalam berbagai proyek infrastruktur di Indonesia maupun luar negeri.

Pondasi cakar ayam diperkenalkan Sedyatmo pada 1962 dan menjadi puncak pencapaiannya dalam dunia teknik sipil.

Inovasi ini dinilai sebagai terobosan besar karena mampu menjawab persoalan konstruksi di lahan lembek yang sebelumnya sulit dibangun dengan metode konvensional.

Mengenal pondasi cakar ayam

Mengutip Buku Prof Ir Sedyatmo Karya dan Pengabdian terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1984), teknik pondasi cakar ayam memungkinkan pembangunan dilakukan di atas tanah lembek dengan lebih efisien.

Baca juga: Siapa Ir Sedyatmo dan Kenapa Namanya Dijadikan Jalan Tol?

Selain lebih stabil, sistem ini juga dapat menekan biaya konstruksi serta mempercepat waktu pengerjaan proyek.

Pada awal penerapannya, pondasi cakar ayam digunakan untuk pembangunan apron Pangkalan Udara TNI AL Juanda di Surabaya.

Keberhasilan tersebut kemudian mendorong penerapan teknologi serupa pada landasan Bandara Polonia di Medan, serta taxiway dan apron Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.

Seiring waktu, pondasi cakar ayam semakin dikenal luas dan diadopsi dalam berbagai proyek infrastruktur, baik di dalam maupun luar negeri.

Inovasi Sedyatmo bahkan banyak digunakan di luar negeri melalui paten yang terdaftar di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Perancis, Italia, Inggris, Belgia, Belanda, Jerman Barat, Jerman Timur, Denmark, hingga Brasil.

Keunggulan pondasi cakar ayam tidak hanya terletak pada kemampuannya menopang bangunan di tanah lembek, tetapi juga ketahanannya terhadap genangan air dan banjir. Sistem ini dapat digunakan pada tanah yang baik maupun tanah dengan daya dukung rendah.

Baca juga: Serba-serbi Keunggulan dan Kekurangan Fondasi Cakar Ayam

Menurut Sedyatmo, biaya pembangunan pondasi cakar ayam tidak lebih mahal dibandingkan konstruksi jalan raya berskala besar, seperti proyek Jakarta Bypass.

Teknologi ini juga diterapkan pada pondasi tiang listrik bertegangan tinggi di kawasan Tanjung Priok. Tiang-tiang tersebut dibangun di atas bekas tambak ikan, sehingga seluruh struktur pondasinya berada di bawah permukaan air.

Selain itu, pondasi jalan dengan sistem cakar ayam terbukti mampu menahan beban kendaraan berat, termasuk truk dan trailer dengan muatan besar, tanpa mengalami penurunan tanah yang signifikan.

Awal mula ide pondasi cakar ayam

Gagasan pondasi cakar ayam berawal dari pengalaman Sedyatmo saat menjabat sebagai Direktur Konstruksi Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau