Penulis
KOMPAS.com - Nama Ir Sedyatmo dikenal luas sebagai pelopor teknologi pondasi yang mampu mengatasi tantangan pembangunan di atas tanah lunak.
Salah satu karyanya adalah sistem pondasi cakar ayam, sebuah inovasi yang hingga kini masih digunakan dalam berbagai proyek infrastruktur di Indonesia maupun luar negeri.
Pondasi cakar ayam diperkenalkan Sedyatmo pada 1962 dan menjadi puncak pencapaiannya dalam dunia teknik sipil.
Inovasi ini dinilai sebagai terobosan besar karena mampu menjawab persoalan konstruksi di lahan lembek yang sebelumnya sulit dibangun dengan metode konvensional.
Mengutip Buku Prof Ir Sedyatmo Karya dan Pengabdian terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1984), teknik pondasi cakar ayam memungkinkan pembangunan dilakukan di atas tanah lembek dengan lebih efisien.
Baca juga: Siapa Ir Sedyatmo dan Kenapa Namanya Dijadikan Jalan Tol?
Selain lebih stabil, sistem ini juga dapat menekan biaya konstruksi serta mempercepat waktu pengerjaan proyek.
Pada awal penerapannya, pondasi cakar ayam digunakan untuk pembangunan apron Pangkalan Udara TNI AL Juanda di Surabaya.
Keberhasilan tersebut kemudian mendorong penerapan teknologi serupa pada landasan Bandara Polonia di Medan, serta taxiway dan apron Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.
Seiring waktu, pondasi cakar ayam semakin dikenal luas dan diadopsi dalam berbagai proyek infrastruktur, baik di dalam maupun luar negeri.
Inovasi Sedyatmo bahkan banyak digunakan di luar negeri melalui paten yang terdaftar di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Perancis, Italia, Inggris, Belgia, Belanda, Jerman Barat, Jerman Timur, Denmark, hingga Brasil.
Keunggulan pondasi cakar ayam tidak hanya terletak pada kemampuannya menopang bangunan di tanah lembek, tetapi juga ketahanannya terhadap genangan air dan banjir. Sistem ini dapat digunakan pada tanah yang baik maupun tanah dengan daya dukung rendah.
Baca juga: Serba-serbi Keunggulan dan Kekurangan Fondasi Cakar Ayam
Menurut Sedyatmo, biaya pembangunan pondasi cakar ayam tidak lebih mahal dibandingkan konstruksi jalan raya berskala besar, seperti proyek Jakarta Bypass.
Teknologi ini juga diterapkan pada pondasi tiang listrik bertegangan tinggi di kawasan Tanjung Priok. Tiang-tiang tersebut dibangun di atas bekas tambak ikan, sehingga seluruh struktur pondasinya berada di bawah permukaan air.
Selain itu, pondasi jalan dengan sistem cakar ayam terbukti mampu menahan beban kendaraan berat, termasuk truk dan trailer dengan muatan besar, tanpa mengalami penurunan tanah yang signifikan.
Gagasan pondasi cakar ayam berawal dari pengalaman Sedyatmo saat menjabat sebagai Direktur Konstruksi Perusahaan Listrik Negara (PLN).