Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bali Mulai Goyang Dominasi Dubai, Menuju Safe Haven Kapital Global

Kompas.com, 10 Maret 2026, 09:20 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

DENPASAR, KOMPAS.com – Maret 2026 mencatatkan narasi baru dalam buku besar ekonomi Bali.

Pada saat peta geopolitik dunia sedang membara dengan eskalasi konflik antara Iran versus Israel-Amerika Serikat, yang mengubah langit Timur Tengah menjadi zona terlarang bagi penerbangan sipil, denyut properti di Pulau Dewata justru menunjukkan anomali.

Secara teori, Bali seharusnya meredup akibat terganggunya konektivitas global. Namun, realitas di lapangan berbicara lain.

Profil risiko investasi properti di Bali kini dinilai jauh lebih menjanjikan dibandingkan Dubai atau Riyadh yang tengah dibayangi ancaman peluru kendali.

Baca juga: Bali Darurat Tata Ruang, Sanksi Pidana Mengintai Pelaku Alih Fungsi Lahan

Para pemilik modal global kini memutar haluan, menatap Bali bukan lagi sekadar destinasi pelesir, melainkan pelabuhan aman atau safe haven bagi kapital mereka.

CEO Nuanu Creative City, Lev Kroll, mengakui, krisis di Timur Tengah memang berdampak langsung pada kalkulasi pasar.

Gangguan wilayah udara di Dubai, Arab Saudi, dan Oman telah memicu gelombang pembatalan kunjungan wisatawan kelas atas dari Eropa yang biasanya mengandalkan transit di hub-hub raksasa tersebut.

"Investor potensial dari Eropa harus melewati Dubai atau Doha untuk sampai ke Bali. Saat rute itu dianggap tidak aman, pembatalan kunjungan menjadi konsekuensi logis," ujar Lev secara eksklusif kepada Kompas.com, Senin (9/3/2026).

Namun, Lev mencatat fenomena menarik bahwa pembatalan kunjungan jangka pendek ternyata tidak menyurutkan minat investasi jangka panjang.

Baca juga: Alih Fungsi Sawah Jadi Vila di Bali Kini Berujung Pidana

Bali kini berada dalam radar persaingan ketat dengan Dubai untuk memperebutkan likuiditas global.

Saat stabilitas di Teluk goyah, investor melihat Bali menawarkan imbal hasil (yield) tinggi dengan risiko geopolitik yang jauh lebih rendah.

Data riset Colliers Indonesia memperkuat tesis tersebut. Hingga akhir 2025, pasokan hotel di Bali menembus 63.000 kamar dengan tingkat hunian yang terjaga solid di angka 68-72 persen.

Di sisi lain, sektor ritel tetap ekspansif yang ditandai jenama internasional terus merangsek ke kawasan Seminyak dan Canggu. Optimisme ini membuktikan bahwa daya tarik Bali melampaui ketakutan akan krisis global.

Pembersihan Domestik

Namun, optimisme pasar ini segera berbenturan dengan pagar regulasi domestik yang kian ketat.

Kehadiran Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengendalian Alih Fungsi Lahan Produktif dan Larangan Alih Kepemilikan Lahan secara Nominee menjadi sinyal bahwa Bali sedang melakukan "bersih-bersih" internal.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau