Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Strategi Polri Urai Macet, Ubah One Way Nasional Jadi One Way Sepenggal

Kompas.com, 25 Maret 2026, 17:30 WIB
Suhaiela Bahfein,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menerapkan strategi rekayasa lalu lintas (lalin) dengan mengubah skema one way (satu arah) nasional menjadi one way sepenggal untuk mengurai kepadatan arus balik Lebaran 2026 di jalan tol.

Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengatakan, perubahan skema tersebut mulai dilakukan di Gerbang Tol (GT) Kalikangkung sebagai respons terhadap dinamika volume kendaraan yang melintas.

“Untuk Gerbang Tol Kalikangkung saat ini kita sedang bergeser dari one way nasional akan kita ubah menjadi one way sepenggal. Artinya, dari prediksi yang ada di visi rasio, kita sudah mulai melakukan perubahan rekayasa,” ujarnya dalam konferensi pers Pantauan Arus Balik Bersama di Bekasi, Jawa Barat, Rabu (25/3/2026).

Baca juga: Dua Arah Padat, Mobilitas Lebaran Masih Tinggi

Dia menjelaskan, langkah tersebut diambil setelah melihat puncak arus balik yang terjadi pada Selasa malam dengan jumlah kendaraan mencapai 256.338 unit.

Angka tersebut dinilai lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 223.163 kendaraan.

Meski demikian, Polri tetap mewaspadai potensi lonjakan lanjutan. Pasalnya, arus balik diprediksi masih akan mengalami puncak berikutnya pada 28 Maret 2026 dan 29 Maret 2026.

2 Juta Kendaraan Balik ke Jakarta

Hingga saat ini, sekitar 2.040.000 kendaraan telah kembali ke Jakarta. Sementara sekitar 2.521.229 kendaraan belum kembali dan berpotensi menambah kepadatan.

“Ini menjadi pekerjaan rumah kita untuk bisa kita urai di kegiatan yang terkait dengan puncak arus balik,” tegas Listyo.

Dia menegaskan, rekayasa lalin akan terus disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Jika terjadi peningkatan volume kendaraan secara signifikan, tidak menutup kemungkinan skema akan kembali diubah.

Selain rekayasa lalu lintas, Polri juga mengimbau masyarakat untuk mengatur waktu perjalanan serta memanfaatkan sisa periode arus balik guna menghindari kepadatan.

Listyo pun turut mengingatkan pentingnya keselamatan selama perjalanan, termasuk tidak memaksakan diri saat kelelahan dan memanfaatkan fasilitas istirahat yang tersedia di sepanjang jalur tol maupun arteri.

Baca juga: Jalan Tol Jagorawi KM 12 Tergenang Air, Lalu Lintas Tersendat

“Mohon untuk terus diingatkan agar tidak memaksakan diri. Kalau ngantuk agar beristirahat sebentar, baik di rest area maupun tempat-tempat yang sudah disiapkan,” ujarnya.

Upaya ini dilakukan untuk memastikan arus balik berjalan lancar sekaligus menekan angka kecelakaan lalu lintas hingga seluruh kendaraan kembali ke Jakarta dengan aman.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau