
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
DI tengah gencarnya iklan kepemilikan rumah—dari billboard jalan tol hingga konten media sosial yang menjanjikan “hidup mapan” melalui cicilan properti—muncul satu fenomena laten namun signifikan, di mana generasi muda, khususnya Gen-Z, justru tidak lagi menempatkan properti sebagai prioritas utama kehidupan.
Apakah ini sekadar ilusi gaya hidup atau FOMO? Ataukah sebuah pergeseran struktural yang sedang berkecamuk dalam realitas sosial Gen-Z?
Harus kita akui, selama beberapa dekade, kepemilikan rumah diposisikan sebagai simbolisasi keberhasilan hidup. Rumah bukan sekadar tempat tinggal, tetapi representasi stabilitas, kedewasaan, bahkan moralitas sosial.
Dalam narasi lama, seseorang dianggap “jadi” ketika ia memiliki rumah. Namun tampaknya hari ini, narasi itu mulai pecah.
Baca juga: Di Antara Mimpi dan Cicilan, Ujian Kelas Menengah Indonesia Wujudkan Kepemilikan Rumah
Menanggapi fenomena ini, seorang mahasiswa Indonesia di luar negeri—alumni ITB— mengajukan pertanyaan sederhana namun mengguncang tentang isu ini. Benarkah Gen-Z tidak ingin memiliki rumah, atau sebenarnya mereka tidak mampu?
Ia lalu menghitung, secara rasional, rasio pendapatan terhadap harga properti di kota-kota besar Indonesia. Hasilnya tidak mengejutkan. Bagi sebagian besar kelas menengah muda, rumah bukan lagi mimpi yang rasional, melainkan mimpi utopis yang justru menjadi beban finansial.
Data dari berbagai laporan perumahan menunjukkan bahwa tingkat kepemilikan rumah pada kelompok usia muda (20–35 tahun) cenderung lebih rendah dibanding generasi sebelumnya pada usia yang sama.
Di sisi lain, harga properti—khususnya di kawasan urban seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya—melonjak jauh melampaui pertumbuhan pendapatan.
Sementara Bank Indonesia mencatat harga properti yang terus tumbuh, berbagai kajian—termasuk laporan World Bank—menunjukkan bahwa rasio harga rumah terhadap pendapatan di Indonesia telah melampaui ambang keterjangkauan, bahkan mencapai dua hingga tiga kali lipat standar ideal di kota-kota besar.
Di titik ini, kita perlu jujur melihat bahwa sebagian dari “ketidakminatan” Gen-Z terhadap properti memang berakar pada keterbatasan kapasitas ekonomi.
Baca juga: Gen Z Prioritaskan Self-Reward, Konsep Kemewahan Bergeser ke Belanja Kecil
Namun tentu saja berhenti pada analisis ini saja adalah penyederhanaan. Dalam sejumlah diskusi dengan Gen-Z yang telah bekerja tetap dan berada pada usia matang untuk berumah tangga, muncul jawaban yang lebih kompleks. Ya, ada faktor kemampuan. Tetapi ada pula faktor preferensi, bahkan filsafat hidup.
Meski tidak mengagetkan, terkonfirmasi bahwa bagi mereka, rumah tidak lagi menjadi prioritas utama. Ini bukan berarti mereka tidak membutuhkan tempat tinggal. Mereka tetap membutuhkan ruang untuk hidup. Namun, “tempat tinggal” tidak lagi identik dengan kepemilikan properti.
Sewa apartemen, co-living space, bahkan mobilitas antar kota menjadi pilihan yang lebih fleksibel dan rasional.
Di sini terlihat perubahan cara pandang yang mendasar. Di mana rumah tidak lagi dilihat sebagai investasi jangka panjang yang sakral, melainkan sebagai beban finansial yang membatasi mobilitas.
Dalam logika Gen-Z, hidup bukan tentang “menetap”, melainkan “bergerak” untuk menelusuri setiap detil pengalaman berbasis ruang dan waktu.
Baca juga: Wamen Fahri Hamzah Sebut Banyak Gen Z Pilih Sewa Ketimbang Beli Rumah, Pasar Harus Disiapkan
Perubahan ini juga berkaitan dengan transformasi struktur sosial. Dalam masyarakat tradisional, rumah adalah pusat kehidupan komunal. Rumah adalah tempat membangun relasi bertetangga, membesarkan anak, dan menjaga kontinuitas sosial.
Namun bagi Gen-Z urban, fungsi ini mengalami dekonstruksi. Relasi sosial tidak lagi berbasis kedekatan geografis, tetapi kedekatan digital dan kesamaan minat. Bertetangga bukan lagi kebutuhan eksistensial. Bahkan, dalam banyak kasus, ia menjadi beban sosial yang tidak diinginkan.
Sebagai gantinya, muncul konsep my time—ruang privat untuk pemulihan diri, eksplorasi, dan rekreasi. Akhir pekan tidak lagi diisi dengan interaksi sosial lokal, tetapi perjalanan, hiburan, atau sekadar isolasi yang disengaja.
Dalam kerangka ini, maka rumah kehilangan makna simboliknya. Ia direduksi menjadi fungsi minimal: tempat tidur, mandi, dan beristirahat.
Namun demikian, tentu saja tidak semua Gen-Z sepenuhnya meninggalkan ide kepemilikan properti. Ada strategi alternatif yang menarik: sebagian dari mereka memilih membeli tanah—seringkali di pinggiran kota atau desa—sebagai bentuk “cadangan masa depan”.
Tanah dipandang lebih fleksibel, lebih terjangkau, dan tidak mengikat seperti rumah jadi di kompleks perumahan. Ia bukan simbol status, tetapi potensi. Rumah, jika kelak dibangun, adalah proyek hidup masa depan—bukan kewajiban masa kini.
Fenomena ini mengungkap sesuatu yang lebih besar dari sekadar preferensi generasi. Ia adalah krisis paradigma. Selama ini, kita membangun asumsi bahwa kesejahteraan harus diwujudkan dalam bentuk kepemilikan aset tetap. Namun Gen-Z, secara sadar atau tidak, sedang menggugat asumsi tersebut.
Mereka hidup dalam ekonomi yang lebih cair, dunia kerja yang lebih tidak pasti, dan ekosistem digital yang memungkinkan mobilitas tanpa batas. Dalam konteks ini, fleksibilitas lebih berharga daripada stabilitas.
Ironisnya, sistem ekonomi dan kebijakan publik kita masih berpijak pada paradigma lama seperti subsidi perumahan, KPR jangka panjang, dan narasi “rumah pertama” sebagai tujuan hidup. Ada jurang antara struktur dan kesadaran.
“Generasi tanpa Properti” bukan sekadar generasi yang malas atau tidak ambisius. Mereka adalah generasi yang hidup dalam realitas baru—di mana kepemilikan tidak lagi identik dengan kebebasan, dan stabilitas tidak selalu berarti kemajuan.
Sebagian dari mereka memang tidak mampu membeli rumah. Namun sebagian lainnya secara sadar memilih untuk tidak terikat olehnya. Ini bukan akhir dari peradaban properti, tetapi transformasi maknanya.
Pertanyaannya bukan lagi: mengapa Gen-Z tidak ingin memiliki rumah? Melainkan: apakah konsep “rumah” yang kita wariskan masih relevan bagi masa depan?
Baca juga: Kebiasaan Ngopi Bisa Bikin Gen Z Sulit Punya Rumah?
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang