Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengurai Benang Kusut Hunian Kumuh: 'Keroyokan' di Kawasan Senen

Kompas.com, 30 Maret 2026, 23:50 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com – Kawasan kumuh di sepanjang bantaran rel kereta api wilayah Senen, Jakarta Pusat, akhirnya menemui titik terang.

Langkah konkret diambil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, saat meninjau lahan seluas 1,61 hektar di Jalan Kramat Raya, Minggu (29/3/2026).

Baca juga: 1.000 Huntara Modular Siap Berdiri di Pasar Senen-Tanah Abang

Lahan milik PT Angkasa Pura Indonesia tersebut kini disiapkan menjadi lokasi pembangunan Rumah Susun (Rusun) relokasi.

Proyek ini merupakan manifestasi dari instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk mengoptimalkan aset negara demi kepentingan rakyat kecil.

Melawan Ego Sektoral

Selama ini, penyediaan hunian di Jakarta kerap terbentur masalah lahan dan birokrasi yang tumpang tindih. Namun, proyek di Senen ini mencoba mendobrak pola lama tersebut.

Maruarar menegaskan bahwa skema pembangunan kali ini melibatkan kolaborasi masif antara kementerian, BUMN, pemerintah daerah, hingga sektor swasta.

"Kita bersinergi antara pemerintah pusat, Danantara, BP BUMN, hingga pemerintah provinsi dan kota. Perizinan akan dibantu sepenuhnya oleh pemerintah daerah," ujar pria yang akrab disapa Ara tersebut.

Kepastian mengenai skema pembiayaan dan teknis pembangunan akan difinalisasi dalam rapat koordinasi lintas kementerian yang dijadwalkan pada Rabu mendatang.

Baca juga: Prabowo Mau Bikinkan Rumah-MCK buat Warga Pinggir Rel Senen

Saat ini, pemerintah tengah menimbang dua alternatif skema yang memiliki keunggulan masing-masing.

Opsi pertama, pembangunan oleh Perum Perumnas dengan kapasitas 1.000 unit dalam dua tower. Skema ini mengandalkan kucuran APBN dengan dukungan utilitas penuh dari Pemprov DKI Jakarta.

Opsi kedua, kolaborasi dengan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang menawarkan pembangunan sembilan tower setinggi empat lantai.

Dengan total 690 unit, opsi ini menonjolkan konsep hunian manusiawi yang dilengkapi ruang komunal dan gedung serbaguna.

Terlepas dari opsi mana yang dipilih, target groundbreaking dimulai pada Mei 2026.

Replikasi Aset BUMN

Ambisi pemerintah tidak berhenti di Senen. Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN), Dony Oskaria, membeberkan pola pemanfaatan aset BUMN untuk hunian rakyat akan direplikasi secara nasional.

Baca juga: Pemesanan Lift Bikin Renovasi JPO Polda Metro Jaya dan Senen Lama

"Kami sedang memetakan aset BUMN di kota-kota besar seperti Bandung, Surabaya, Medan, hingga Makassar. Ini adalah dukungan konkret terhadap program prioritas Presiden," tegas Dony.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau