Penulis
KOMPAS.com - Gypsum merupakan salah satu material bangunan yang banyak digunakan, terutama untuk plafon dan dinding. Meski praktis dan serbaguna, gypsum juga dikenal cukup rentan mengalami retak jika tidak digunakan atau dirawat dengan tepat. Kenapa gypsum retak?
Dirangkum dari beberapa laman produsen gypsum board, salah satu penyebab utama gypsum cepat retak adalah faktor kelembapan. Material ini bersifat berpori, sehingga mudah menyerap air dari lingkungan sekitarnya.
Ketika terpapar kelembapan tinggi atau air secara berulang, inti gypsum maupun lapisan sambungannya dapat melemah.
Dalam kondisi tersebut, gypsum cenderung mengalami perubahan bentuk. Material bisa mengembang saat menyerap air, lalu menyusut kembali ketika mengering.
Proses ini, jika terjadi berulang, akan menimbulkan tekanan pada struktur gypsum dan akhirnya memicu retakan.
Baca juga: Ternyata Plafon Gypsum Tahan Api, Ini Penjelasan Teknisnya
Tidak hanya itu, paparan kelembapan berlebih juga dapat menyebabkan gypsum melorot atau kehilangan kekakuannya. Akibatnya, permukaan menjadi tidak stabil dan lebih mudah mengalami kerusakan, termasuk retak halus hingga retak besar.
Masalah ini akan semakin parah jika lingkungan juga mengalami fluktuasi suhu. Kombinasi antara perubahan suhu dan kelembapan tinggi dapat mempercepat degradasi material, sehingga daya tahan gypsum semakin menurun.
Untuk mencegah hal tersebut, penting menjaga tingkat kelembapan ruangan tetap stabil. Penggunaan ventilasi yang baik menjadi kunci agar sirkulasi udara lancar dan kelembapan tidak terperangkap di dalam ruangan.
Selain itu, hindari pemasangan gypsum di area yang rawan lembap tanpa perlindungan tambahan.
Baca juga: Apa Itu Gypsum? Material Bangunan yang Sering Jadi Plafon
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang