JAKARTA, KOMPAS.com - Kemacetan yang terjadi di Jalan Tol Layang Mohammed Bin Zayed (MBZ) saat arus mudik Lebaran 2026 beberapa waktu lalu, hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat yang hendak balik ke Jakarta.
Untuk itu, PT Jasa Marga (Persero) Tbk mengimbau pemudik untuk mengatur perjalanan dan menghindari waktu puncak arus mudik yang diprediksi terjadi pada 29 Maret 2026.
Ada pun kepadaran yang sempat terjadi di Tol MBZ dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari ketidakpatuhan pengguna jalan hingga keterbatasan kapasitas ruas tol.
Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk Rivan Achmad Purwantono mengungkapkan, salah satu penyebab utama kemacetan adalah tidak seimbangnya jumlah kendaraan dengan kapasitas jalan yang tersedia.
“Harus dipahami berapa sisi sebuah kendaraan dan berapa sisi ruas yang tersedia. Karena, ruas yang tersedia itu tidak bisa ditambah,” ujarnya usai konferensi pers Pantauan Arus Balik Bersama di Bekasi, Jawa Barat, Rabu (25/3/2026).
Rivan menjelaskan, Tol MBZ memiliki panjang 39 kilometer tanpa akses keluar (exit), dan sejak awal dirancang khusus untuk kendaraan golongan I demi faktor keselamatan.
Baca juga: Mengapa Tol Layang MBZ Tidak Punya Rest Area?
“MBZ itu 39 kilometer, tidak ada exit, dan sudah diatur untuk kendaraan golongan I. Karena itu adalah safety (keamanan). Kalau ada apa-apa di ruas tanpa exit, risikonya tinggi,” kata dia.
Namun demikian, masih ditemukan kendaraan golongan II ke atas yang melintas. Berdasarkan catatan, sekitar 12 persen kendaraan yang masuk merupakan golongan tersebut, dan berkontribusi besar terhadap kecelakaan.
“Catatan kami, 12 persen golongan II ke atas, ternyata 84 persen penyebab kecelakaan,” ujarnya.
Selain itu, perilaku pengguna jalan juga menjadi faktor penyebab kemacetan, termasuk kecenderungan berhenti di bahu jalan atau memaksakan diri masuk ke rest area tertentu.
Menurut dia, kondisi pengemudi juga turut memengaruhi kelancaran lalu lintas. Sebab, sejumlah pengendara mengalami kelelahan hingga tertidur saat berkendara.
“Kepolisian dan patroli kami menemukan lebih dari lima orang yang tertidur saat berkendara dan harus dibangunkan. Artinya, fisik pengemudi harus dijaga,” kata dia.
Dia menambahkan, faktor kelelahan seperti microsleep menjadi salah satu penyebab utama kecelakaan di jalan tol.
Untuk mengurai kepadatan, berbagai rekayasa lalu lintas telah dilakukan, mulai dari contraflow (lawan arus) satu lajur hingga diperluas menjadi tiga lajur. Bahkan, ruas tol yang seharusnya tidak digunakan untuk arus mudik turut difungsikan.
“Secara normal contraflow satu lajur seharusnya cukup, tapi ternyata tidak. Ditarik sampai tiga lajur baru terurai. Bahkan Cipularang yang seharusnya tidak digunakan untuk mudik terpaksa digunakan,” ujarnya.
Baca juga: Mobil Terbakar di Jalan Layang MBZ, Begini Kronologinya
Selain itu, ruas fungsional seperti Tol Jakarta-Cikampek (Japek) II Selatan yang awalnya dipersiapkan untuk arus balik juga sempat digunakan untuk mendukung arus mudik.
Rivan menegaskan, penanganan kemacetan tidak hanya bergantung pada rekayasa lalu lintas, tetapi juga pada kepatuhan dan kesadaran pengguna jalan.
Ke depan, peningkatan kapasitas jalan menjadi salah satu solusi yang perlu didorong, termasuk penyelesaian proyek-proyek infrastruktur yang masih berjalan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang