Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ternyata Gypsum Bisa Menyerap Panas

Kompas.com, 31 Maret 2026, 17:06 WIB
Muhammad Idris

Penulis

KOMPAS.com - Selama ini, gypsum dikenal luas sebagai material untuk plafon dan partisi dinding.

Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa bahan bangunan ini ternyata memiliki kemampuan menyerap panas, sehingga berperan penting dalam meningkatkan keamanan bangunan.

Dikutip dari MEKA Global, gipsum juga tidak beracun, netral secara kimia, dan kompatibel dengan banyak material lainnya. Namun, sifat yang paling diperhatikan oleh para profesional konstruksi adalah ketahanan terhadap api.

Ketika papan gipsum terkena api, air di dalam struktur kristalnya menyerap panas saat menguap. Proses ini memberikan waktu yang sangat penting dengan memperlambat perpindahan panas melalui dinding atau langit-langit.

Karena gypsum tahan panas, inilah alasan mengapa papan gipsum hampir selalu ada di setiap partisi tahan api di banyak bangunan.

Baca juga: Ini yang Bikin Gypsum Cepat Retak

Secara teknis, proses ini dikenal sebagai kalsinasi. Saat suhu meningkat, struktur kristal gypsum mulai terurai dan melepaskan air yang terikat secara kimia dalam bentuk uap.

Pelepasan uap air inilah yang menyerap energi panas dalam jumlah besar, sehingga memperlambat kenaikan suhu pada material tersebut.

Alasan Lain Gypsum Tahan Api

Sementara diikutip dari Euro Gypsum, federasi industri gipsum Eropa, secara alami gypsum tahan api, karena merupakan material anorganik yang tidak mudah terbakar.

Berbeda dengan bahan organik seperti kayu, gypsum tidak akan menyala meski terkena api secara langsung.

Hal ini menjadikannya salah satu material yang relatif aman digunakan dalam konstruksi, khususnya sebagai pelapis dinding dan plafon.

Baca juga: Apa Itu Gypsum? Material Bangunan yang Sering Jadi Plafon

Ketika terkena panas tinggi, lapisan gypsum yang telah mengalami kalsinasi akan membentuk pelindung di permukaan. Lapisan ini tetap melekat kuat pada bagian gypsum yang belum terurai, sehingga memperlambat proses kerusakan lebih lanjut.

Menariknya, selama proses tersebut berlangsung, suhu di bagian belakang permukaan yang terpapar api hanya sedikit di atas titik didih air, yakni sekitar 100 derajat Celsius.

Karena suhu di sisi yang tidak terkena api tetap relatif rendah, material lain di sekitarnya seperti rangka baja ringan atau elemen struktural tidak langsung mengalami kerusakan akibat panas ekstrem.

Setelah seluruh kandungan air dalam gypsum habis, material yang tersisa berupa kalsium sulfat masih berfungsi sebagai lapisan isolasi panas selama kondisinya tetap utuh.

Inilah yang membuat gypsum tidak hanya mampu menyerap panas, tetapi juga efektif dalam menahan penyebaran api.

Baca juga: Bingung Pilih Plafon Gypsum atau PVC? Ini Perbandingannya

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau