Penulis
KOMPAS.com - Selama ini, gypsum dikenal luas sebagai material untuk plafon dan partisi dinding.
Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa bahan bangunan ini ternyata memiliki kemampuan menyerap panas, sehingga berperan penting dalam meningkatkan keamanan bangunan.
Dikutip dari MEKA Global, gipsum juga tidak beracun, netral secara kimia, dan kompatibel dengan banyak material lainnya. Namun, sifat yang paling diperhatikan oleh para profesional konstruksi adalah ketahanan terhadap api.
Ketika papan gipsum terkena api, air di dalam struktur kristalnya menyerap panas saat menguap. Proses ini memberikan waktu yang sangat penting dengan memperlambat perpindahan panas melalui dinding atau langit-langit.
Karena gypsum tahan panas, inilah alasan mengapa papan gipsum hampir selalu ada di setiap partisi tahan api di banyak bangunan.
Baca juga: Ini yang Bikin Gypsum Cepat Retak
Secara teknis, proses ini dikenal sebagai kalsinasi. Saat suhu meningkat, struktur kristal gypsum mulai terurai dan melepaskan air yang terikat secara kimia dalam bentuk uap.
Pelepasan uap air inilah yang menyerap energi panas dalam jumlah besar, sehingga memperlambat kenaikan suhu pada material tersebut.
Sementara diikutip dari Euro Gypsum, federasi industri gipsum Eropa, secara alami gypsum tahan api, karena merupakan material anorganik yang tidak mudah terbakar.
Berbeda dengan bahan organik seperti kayu, gypsum tidak akan menyala meski terkena api secara langsung.
Hal ini menjadikannya salah satu material yang relatif aman digunakan dalam konstruksi, khususnya sebagai pelapis dinding dan plafon.
Baca juga: Apa Itu Gypsum? Material Bangunan yang Sering Jadi Plafon
Ketika terkena panas tinggi, lapisan gypsum yang telah mengalami kalsinasi akan membentuk pelindung di permukaan. Lapisan ini tetap melekat kuat pada bagian gypsum yang belum terurai, sehingga memperlambat proses kerusakan lebih lanjut.
Menariknya, selama proses tersebut berlangsung, suhu di bagian belakang permukaan yang terpapar api hanya sedikit di atas titik didih air, yakni sekitar 100 derajat Celsius.
Karena suhu di sisi yang tidak terkena api tetap relatif rendah, material lain di sekitarnya seperti rangka baja ringan atau elemen struktural tidak langsung mengalami kerusakan akibat panas ekstrem.
Setelah seluruh kandungan air dalam gypsum habis, material yang tersisa berupa kalsium sulfat masih berfungsi sebagai lapisan isolasi panas selama kondisinya tetap utuh.
Inilah yang membuat gypsum tidak hanya mampu menyerap panas, tetapi juga efektif dalam menahan penyebaran api.
Baca juga: Bingung Pilih Plafon Gypsum atau PVC? Ini Perbandingannya
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang