Hingga saat ini tidak banyak yang tahu, skateboard awalnya hanyalah aktivitas iseng bagi Zeefara Mahika Darmawan. Ia bermain sambil menyimpan pertanyaan polos di benaknya, ‘bisa nggak ya aku jadi kayak mereka, main di SEA Games?’.
Kini, pertanyaan itu terjawab, bergabung dengan timnas yang terasa seperti mimpi.
“Awalnya rasanya kayak baru kemarin saya mengimpikan bisa masuk tim nasional, main di SEA Games, Asian Games, dan lain-lain. Tapi alhamdulillah sekarang bisa terwujud,” tutur skateboarder berusia 14 tahun itu.
Seperti diketahui, ketertarikannya pada skateboard lahir dari rasa suka yang murni, tanpa latar belakang keluarga atlet.
“Karena aku suka. Awalnya lihat dari YouTube, terus minta mama dan papa beliin papan skate, tiba-tiba aja pengin main skate,” imbuhnya.
Sejak usia tujuh tahun, ia mulai serius menekuni skateboard dan bergabung dengan Bolang skate school di Malang. Keberaniannya diuji saat mengikuti kompetisi pertamanya di luar kota.
“Iya. Waktu itu trikku baru bisa ollie saja. Papa bilang, ‘Yang penting sudah bisa ollie.’ Dari situ aku ikut, dan dapat peringkat tujuh,” tuturnya lagi.
Seiring waktu, keberaniannya kian berkembang, termasuk mencoba street skating ekstrem, termasuk melompat dari atap bangunan setinggi sekitar dua meter di salah satu universitas di Malang.
“Iya, itu street skating. Ada spot drop sekitar dua meter dari atap. Saya coba aja. Terus saya upload di Instagram, ternyata banyak yang lihat,” kata salah satu peserta World Skate Games Italia 2024 yang berlangsung di Roma.
Kini di tengah karier yang menanjak, Zee tetap menjalani perannya sebagai pelajar. Selama tujuh bulan training center, ia mendapat dispensasi penuh dari sekolah.
“Saya benar-benar nggak sekolah. Saya izin, dan alhamdulillah sekolah mendukung.”
Namun, perjalanan atlet tidak selalu berjalan mulus. Di SEA Games pertamanya ini, ia nyaris meraih medali perunggu sebelum gagal di trik terakhir.
“Kemarin saya tipis banget buat dapat perunggu, tapi di trik terakhir saya nggak landing dengan baik. Itu bikin aku turun ke posisi empat,” sambungnya.
Dari kegagalan itu, ia memetik pelajaran berharga untuk latihan lebih giat lagi, menguatkan kaki setelah mengalami cedera dan lebih percaya diri.
Sebagai skateboarder yang tumbuh di Kota Malang, ia memahami betul keterbatasan fasilitas daerah. Seiring meningkatnya level kompetisi yang diikuti, kebutuhannya pun berubah.