Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Upacara Melasti, Ritual Penyucian Diri untuk Menyambut Nyepi

Kompas.com, 17 April 2024, 10:00 WIB
Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti,
Widya Lestari Ningsih

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menjelang Hari Raya Nyepi, umat Hindu melakukan serangkaian upacara, salah satunya Melasti.

Melasti adalah upacara penyucian diri dalam agama Hindu yang dilaksanakan tiga hari sebelum Hari Raya Nyepi.

Upacara ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali, dalam rangkaian Hari Raya Nyepi, tepatnya sebelum Tapa Brata Penyepian.

Makna upacara Melasti adalah sebagai proses pembersihan diri lahir batin manusia, alam, dan Pralingga atau alat-alat persembahyangan agar dapat suci kembali sebelum merayakan Nyepi.

Baca juga: Ngaben, Upacara Pembakaran Jenazah Umat Hindu di Bali

Tujuan upacara Melasti

Upacara Melasti juga sering disebut Melis atau Mekiyis. Rangkaian upacara Melasti dilakukan di pura yang berdekatan dengan sumber air kehidupan (tirta amertha), seperti laut, danau, atau sungai.

Melansir padangsambian.denpasarkota.go.id, Melasti mengandung makna mendalam, yakni "nganyudang malaning gumi ngamet tirta amerta", yang berarti menghanyutkan atau membuang segala kotoran menggunakan air kehidupan.

Kotoran yang dimaksud adalah segala dosa, baik dalam diri manusia (wan alit) maupun yang ada di dunia (wan agung).

Segala dosa tersebut dihanyutkan lewat perantara tirta amertha, yang dianggap sebagai sumber kesucian yang melambangkan Dewa Ruci.

Mengutip buleleng.bulelengkab.go.id, ada lima tujuan dari Melasti dalam Lontar Sunarigama dan Sanghyang Aji Swamandala, di antaranya:

  • Ngiring prewatek dewata, yakni memuja Tuhan dengan segala manifestasinya.
  • Anganyutaken laraning jagat, artinya menghayutkan penderitaan masyarakat.
  • Papa kelesa, artinya menuntun umat agar menghilangkan kepapanannya secara individual.
  • Letuhing Bhuwana, yakni menghilangkan sifat-sifat manusia yang merusak alam lingkungan.
  • Ngamet saringing amerta ring telenging segara, artinya mengambil sari-sari kehidupan di tengah lautan untuk membangun kehidupan spiritual untuk hidup yang lebih seimbang lahir dan batin.

Dalam Babad Bali, Melasti juga bertujuan untuk melebur segala macam kekotoran pikiran, perkataan dan perbuatan, serta memperoleh air suci (angemet tirta amerta) untuk kehidupan, yang pelaksanaannya dapat dilakukan di laut, danau, dan mata air yang disucikan.

Baca juga: Upacara-upacara dalam Agama Hindu

Tata cara Melasti

Dikutip kebudayaan.kemdikbud.go.id, sebelum melaksanakan ritual Melasti, umat Hindu melakukan persembahyangan yang dipimpin oleh seorang Romo dan Pinandita.

Romo dan Pinandita memimpin doa dan membacakan kitab yang akan didengar oleh seluruh umat Hindu.

Ibadah ini cukup dilaksanakan dalam satu kali gelombang peribadahan. Setelah itu, mereka menuju laut dengan membawa berbagai perlengkapan suci dan sesajen untuk melaksanakan ritual Melasti.

Setelah sampai di laut, pemimpin ritual akan melarung sesaji berupa hewan ternak (ayam dan bebek), serta bunga yang diletakkan di atas anyaman pandan sembari membacakan doa-doa.

Kemudian para Pinandita akan mengambil air laut yang akan digunakan untuk menyucikan umat Hindu dan aneka benda sakral milik Pura (Pralingga atau Pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya).

Benda-benda suci ini diarak mengelilingi desa, untuk menyucikan setiap sudut desa, kemudian dibawa menuju laut, danau, sungai, atau mata air lain yang dianggap suci.

Dengan melakukan upacara Melasti, umat Hindu berharap diberikan kekuatan dalam melangsungkan Hari Raya Nyepi dengan pikiran yang jernih dan jiwa yang suci.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Sejarah April Mop: Mengungkap Asal-usul Hari Prank Sedunia dan Lelucon Paling Ikonik dalam Sejarah
Sejarah April Mop: Mengungkap Asal-usul Hari Prank Sedunia dan Lelucon Paling Ikonik dalam Sejarah
Stori
Sejarah Kenapa Harga Batu Bara Bisa Mahal? Ini Faktor Global, Kebijakan, hingga Krisis Energi
Sejarah Kenapa Harga Batu Bara Bisa Mahal? Ini Faktor Global, Kebijakan, hingga Krisis Energi
Stori
Penangkapan Pangeran Diponegoro 28 Maret 1830, Akhir Perang Jawa yang Bersejarah
Penangkapan Pangeran Diponegoro 28 Maret 1830, Akhir Perang Jawa yang Bersejarah
Stori
Apa Itu Lebaran Ketupat? Ini Sejarah, Tradisi, dan Filosofinya di Bulan Syawal
Apa Itu Lebaran Ketupat? Ini Sejarah, Tradisi, dan Filosofinya di Bulan Syawal
Stori
Kenapa Iran Sering Disebut Negara Arab? Ini Fakta Sejarahnya
Kenapa Iran Sering Disebut Negara Arab? Ini Fakta Sejarahnya
Stori
Sejarah Pearl Harbor: Serangan Jepang yang Mengubah Arah Perang Dunia II
Sejarah Pearl Harbor: Serangan Jepang yang Mengubah Arah Perang Dunia II
Stori
Sejarah Halalbihalal di Indonesia: Dari Tradisi Jawa hingga Strategi Politik Soekarno
Sejarah Halalbihalal di Indonesia: Dari Tradisi Jawa hingga Strategi Politik Soekarno
Stori
Sejarah Hari Nyepi: Makna, Nilai, dan Rangkaian Upacara Tahun Baru Saka
Sejarah Hari Nyepi: Makna, Nilai, dan Rangkaian Upacara Tahun Baru Saka
Stori
Mengenal Tawur Kesanga, Upacara Sebelum Nyepi yang Sarat Makna dan Filosofi
Mengenal Tawur Kesanga, Upacara Sebelum Nyepi yang Sarat Makna dan Filosofi
Stori
Rudal Sejjil Iran: Sejarah Senjata Balistik yang Mengubah Kekuatan Timur Tengah
Rudal Sejjil Iran: Sejarah Senjata Balistik yang Mengubah Kekuatan Timur Tengah
Stori
Sejarah Sistem Teritorial TNI: Dari Perang Gerilya hingga Lahirnya Jabatan Kaster
Sejarah Sistem Teritorial TNI: Dari Perang Gerilya hingga Lahirnya Jabatan Kaster
Stori
Sejarah Rudal: Dari Batu Ketapel Kuno hingga Senjata Mutakhir Iran dan Hizbullah
Sejarah Rudal: Dari Batu Ketapel Kuno hingga Senjata Mutakhir Iran dan Hizbullah
Stori
Sejarah Istilah Mudik di Indonesia: Dari Tradisi Lama hingga Fenomena Sosial Lebaran
Sejarah Istilah Mudik di Indonesia: Dari Tradisi Lama hingga Fenomena Sosial Lebaran
Stori
Mengapa Lailatul Qadar Disebut Malam Kemuliaan? Ini 5 Alasan Keistimewaannya dalam Islam
Mengapa Lailatul Qadar Disebut Malam Kemuliaan? Ini 5 Alasan Keistimewaannya dalam Islam
Stori
Sejarah Lailatul Qadar: Malam Kemuliaan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Sejarah Lailatul Qadar: Malam Kemuliaan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Stori
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau