Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

13 Tokoh Sumpah Pemuda, Dari Ruang Kecil menjadi Api Persatuan 

Kompas.com, 25 Oktober 2025, 14:16 WIB
Serafica Gischa

Editor

KOMPAS.com - Hari Sumpah Pemuda bukan hanya peringatan di kalender nasional, tapi kisah tentang keberanian generasi muda yang menolak dijajah oleh perpecahan.

Pada malam bersejarah 28 Oktober 1928, tiga belas tokoh dari berbagai penjuru nusantara berkumpul di sebuah rumah di Jalan Kramat Raya, Batavia.

Dari ruangan sederhana itu, lahirlah Sumpah Pemuda, ikrar yang menyalakan semangat satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.

Baca juga: Isi Teks Sumpah Pemuda 28 Oktober dan Sejarahnya 

Tokoh Sumpah Pemuda 

Perumusan Sumpah Pemuda disahkan dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928, melibatkan sederet tokoh muda dari berbagai daerah. 

Mereka tidak hanya menjadi panitia kongres, tetapi juga berperan penting dalam merumuskan dasar dan semangat persatuan yang kemudian di kenal sebagai ikrar Sumpah Pemuda. 

Berikut 13 tokoh yang ikut menyalakan semangat persatuan Indonesia: 

1. Mohammad Yamin

Pemuda asal Sawahlunto ini dikenal sebagai sastrawan dan cendekiawan yang brilian. Laki-laki yang lahir pada 24 Agustus 1903, 

dalam Kongres Pemuda II, menjadi perumus utama teks Sumpah Pemuda.

Gagasannya menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan menandai lahirnya simbol identitas nasional.

Yamin percaya, bahasa adalah kekuatan moral bangsa. Bagi dia, Indonesia tidak mungkin bersatu tanpa memiliki satu bahasa yang menyatukan pikiran, perasaan, dan cita-cita.

Baca juga: Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober: Sejarah Kongres Pemuda I dan II beserta Tokohnya 

2. Soegondo Djojopoespito

Lahir di Tuban pada 22 Februari 1905, Soegondo Djojopoespito menjadi Ketua Kongres Pemuda II.

Dengan tenang dan tegas, ia memimpin sidang di tengah tekanan pemerintah kolonial yang mencurigai gerakan ini.

Soegondo-lah yang membacakan teks Sumpah Pemuda, mewakili suara ratusan anak muda yang hadir.

Ketika banyak yang takut pada pengawasan Belanda, Soegondo justru berdiri tegak, membuktikan bahwa keberanian bisa lahir dari ketulusan niat untuk bersatu.

Sunario SastrowardoyoWikipedia/Achmadmaulanaibr Sunario Sastrowardoyo

3. Soenario Sastrowardoyo

Sebagai penasihat Kongres Pemuda II, Soenario Sastrowardoyo membawa perspektif akademis dan hukum.

Ia menekankan bahwa perjuangan tidak bisa hanya dengan semangat, tapi harus dengan pengetahuan dan kesadaran hukum.

Soenario kemudian menjadi Menteri Luar Negeri Indonesia, meneruskan idealisme pemuda ke diplomasi dunia.

Dari ruang kongres hingga ruang perundingan internasional, semangatnya tetap satu, menjaga martabat Indonesia.

Baca juga: Sejarah Sumpah Pemuda: Tonggak Persatuan Bangsa

4. W.R. Supratman

Di tengah suasana tegang malam itu, Wage Rudolf Supratman memainkan lagu “Indonesia Raya” dengan biolanya.

Ia tahu, nada-nada itu bisa dianggap provokatif oleh Belanda, tapi ia tetap memainkan dengan keyakinan penuh.

Halaman:


Terkini Lainnya
Sejarah April Mop: Mengungkap Asal-usul Hari Prank Sedunia dan Lelucon Paling Ikonik dalam Sejarah
Sejarah April Mop: Mengungkap Asal-usul Hari Prank Sedunia dan Lelucon Paling Ikonik dalam Sejarah
Stori
Sejarah Kenapa Harga Batu Bara Bisa Mahal? Ini Faktor Global, Kebijakan, hingga Krisis Energi
Sejarah Kenapa Harga Batu Bara Bisa Mahal? Ini Faktor Global, Kebijakan, hingga Krisis Energi
Stori
Penangkapan Pangeran Diponegoro 28 Maret 1830, Akhir Perang Jawa yang Bersejarah
Penangkapan Pangeran Diponegoro 28 Maret 1830, Akhir Perang Jawa yang Bersejarah
Stori
Apa Itu Lebaran Ketupat? Ini Sejarah, Tradisi, dan Filosofinya di Bulan Syawal
Apa Itu Lebaran Ketupat? Ini Sejarah, Tradisi, dan Filosofinya di Bulan Syawal
Stori
Kenapa Iran Sering Disebut Negara Arab? Ini Fakta Sejarahnya
Kenapa Iran Sering Disebut Negara Arab? Ini Fakta Sejarahnya
Stori
Sejarah Pearl Harbor: Serangan Jepang yang Mengubah Arah Perang Dunia II
Sejarah Pearl Harbor: Serangan Jepang yang Mengubah Arah Perang Dunia II
Stori
Sejarah Halalbihalal di Indonesia: Dari Tradisi Jawa hingga Strategi Politik Soekarno
Sejarah Halalbihalal di Indonesia: Dari Tradisi Jawa hingga Strategi Politik Soekarno
Stori
Sejarah Hari Nyepi: Makna, Nilai, dan Rangkaian Upacara Tahun Baru Saka
Sejarah Hari Nyepi: Makna, Nilai, dan Rangkaian Upacara Tahun Baru Saka
Stori
Mengenal Tawur Kesanga, Upacara Sebelum Nyepi yang Sarat Makna dan Filosofi
Mengenal Tawur Kesanga, Upacara Sebelum Nyepi yang Sarat Makna dan Filosofi
Stori
Rudal Sejjil Iran: Sejarah Senjata Balistik yang Mengubah Kekuatan Timur Tengah
Rudal Sejjil Iran: Sejarah Senjata Balistik yang Mengubah Kekuatan Timur Tengah
Stori
Sejarah Sistem Teritorial TNI: Dari Perang Gerilya hingga Lahirnya Jabatan Kaster
Sejarah Sistem Teritorial TNI: Dari Perang Gerilya hingga Lahirnya Jabatan Kaster
Stori
Sejarah Rudal: Dari Batu Ketapel Kuno hingga Senjata Mutakhir Iran dan Hizbullah
Sejarah Rudal: Dari Batu Ketapel Kuno hingga Senjata Mutakhir Iran dan Hizbullah
Stori
Sejarah Istilah Mudik di Indonesia: Dari Tradisi Lama hingga Fenomena Sosial Lebaran
Sejarah Istilah Mudik di Indonesia: Dari Tradisi Lama hingga Fenomena Sosial Lebaran
Stori
Mengapa Lailatul Qadar Disebut Malam Kemuliaan? Ini 5 Alasan Keistimewaannya dalam Islam
Mengapa Lailatul Qadar Disebut Malam Kemuliaan? Ini 5 Alasan Keistimewaannya dalam Islam
Stori
Sejarah Lailatul Qadar: Malam Kemuliaan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Sejarah Lailatul Qadar: Malam Kemuliaan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Stori
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau