KOMPAS.com - Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono X merayakan tahun ke-80 pada 2 April 2026.
Sosoknya dikenal sebagai figur sentral yang menjaga keseimbangan antara tradisi Keraton dan Pemerintahan Yogyakarta.
Lahir dengan nama Bendara Raden Mas (BRM) Herjuno Darpito pada 2 April 1946, Sri Sultan Hamengku Buwono X merupakan putra tertua Sultan Hamengku Buwono IX dengan RA Siti Kustina (KRA Widyaningrum).
Sejak awal, ia telah dipersiapkan sebagai penerus tahta melalui gelar Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH) Mangkubumi.
Profil Sultan Hamengku Buwono X
Merujuk catatan Kompaspedia, Senin (22/6/2020), Sri Sultan Hamengku Buwono X pernah menempuh pendidikan di beberapa sekolah.
Saat masih belia, ia bersekolah di SD Keputran Yogyakarta. Setelah itu, Sultan Hamengku Buwono X melanjutkan pendidikannya ke SMP Negeri 3.
Sultan Hamengku Buwono X juga pernah bersekolah di SMA Negeri 6 Yogyakarta sebelum melanjutkan studi ke Jurusan Pemerintahan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.
Semasa muda, Sri Sultan Hamengku Buwono X dikenal sederhana dan tidak mau menunjukkan bahwa dirinya keturunan keraton.
Sri Sultan Hamengku Buwono X kemudian menikah dengan Tatik Drajat Supriastuti yang kemudian dikenal sebagai Gusti Kanjeng Ratu Hemas pada tahun 1973.
Setelah Sultan Hamengku Buwono IX mangkat, KGPH Mangkubumi dinobatkan sebagai Raja Ngayogyakarta Hadiningrat pada 7 Maret 1989.
Penobatan ini menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya dilakukan tanpa persetujuan Belanda sejak penobatan sebelumnya pada 1940.
Perjalanan Karier Sri Sultan Hamengku Buwono X
Meski menyandang status sebagai raja, Sri Sultan Hamengku Buwono X pernah menjalani beberapa profesi dan memangku jabatan di luar keraton.
Sri Sultan Hamengku Buwono X pernah menjabat sebagai anggota DPRD DIY dari Golkar hingga 1992.
Jabatan lain yang pernah diemban adalah Ketua DPD Golkar DIY periode 1983–1998.
Pengalaman politiknya juga terbentuk saat mendampingi ayahnya yang menjabat Wakil Presiden RI.
Selain itu, ia sempat menduduki sejumlah posisi di dunia usaha, seperti Komisaris PT Madu Baru pada 1977, Presiden Komisaris Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI) pada 1989, dan Presiden Komisaris PT Bank Mataram Dhanarta pada 1993.
Pada September 1998, Sri Sultan Hamengku Buwono X dilantik sebagai Gubernur DIY menggantikan Paku Alam VIII berdasarkan Keppres No 268/N/1998 yang ditandatangani Presiden B.J. Habibie.
Perjalanan status keistimewaan DIY sempat menjadi polemik hingga akhirnya disahkan melalui UU Keistimewaan DIY pada 2012.
Aturan ini menetapkan bahwa gubernur dan wakil gubernur dipilih melalui mekanisme penetapan.
Sri Sultan Hamengku Buwono X kemudian kembali dilantik sebagai Gubernur DIY periode 2012–2017 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan dilanjutkan untuk periode 2017–2022 oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 10 Oktober 2017.
Di tengah pandemi Covid-19, Jokowi kembali menetapkan Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Gubernur DIY periode 2022-2027.
Pelantikan tersebut menegaskan posisinya sebagai gubernur terlama dalam sejarah Indonesia melintasi berbagai era kepemimpinan nasional.
Kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono X
Merujuk Kompas.id, Minggu (14/1/2024), Keraton Yogyakarta tetap mampu mempertahankan jati diri di tengah perkembangan zaman di bawah kepemimpinan Sultan Hamengku Buwono X.
Nilai-nilai tradisi dan budaya yang diwariskan dari masa lampau masih terus hidup dan dapat dirasakan hingga kini, meskipun masyarakat telah memasuki era modern.
Keberlangsungan budaya tersebut tidak sekadar menjadi simbol, tetapi juga berperan penting dalam menjaga hubungan sosial antarwarga.
Tradisi yang terus dijaga menjadi perekat di tengah keberagaman latar belakang suku dan agama masyarakat Yogyakarta.
Nilai-nilai budaya itu turut membentuk sikap saling menghormati dan penerimaan terhadap perbedaan.
Pengaruhnya terasa dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menjaga toleransi antarumat beragama.
Selain dikenal sebagai penjaga tradisi, kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono X juga mendapat sorotan saat terjadi aksi demonstrasi besar pada Agustus 2025.
Kala itu, ia turun langsung ke Mapolda DIY pada Jumat (29/8/2025) malam di tengah massa aksi dan aparat yang berjaga untuk meredakan ketegangan yang terjadi.
https://yogyakarta.kompas.com/read/2026/04/01/112000078/profil-sri-sultan-hb-x--jejak-panjang-menjaga-keistimewaan-diy