Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Yamaha Racing Indonesia Melahirkan Penerus Aldi Satya Mahendra

Kompas.com, 28 Februari 2026, 16:22 WIB
Muhammad Fathan Radityasani,
Aditya Maulana

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Yamaha Racing Indonesia terus menyiapkan regenerasi pebalap muda untuk mencari sosok penerus kesuksesan Aldi Satya Mahendra di level dunia.

Program pembinaan dilakukan melalui sistem berjenjang sejak usia sangat muda agar pebalap siap bersaing hingga ke kompetisi internasional.

Manager Motorsport PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) Wahyu Rusmayadi mengatakan, struktur tim balap saat ini memang dirancang sebagai jalur pembinaan jangka panjang.

Baca juga: Yamaha Pertahankan Skutik 125 cc Non-Hybrid Meski Permintaannya Turun

Aldi Satya Mahendra Foto: Yamaha Aldi Satya Mahendra

“Kami sangat percaya diri dengan formasi kami, dari Arai (World Sportbike), terus Wahyu, Faerozi di kelas 600 (ARRC). Sebagai pembinaan dan pembibitan di ARRC AP250, kita lakukan perjenjangan Candra, Fadhil, dan saat ini Sabian yang sudah bisa riding dengan R3 Blu Cru Asia-Pacific di bawah usia 15 tahun,” kata Wahyu di Jakarta, Jumat (27/2/2026).

Menurut dia, pembinaan tidak hanya fokus pada hasil balap, tetapi juga kesiapan teknik dan pengalaman bertahap sebelum naik kelas. Dengan sistem tersebut, pebalap muda dipersiapkan sejak dini agar terbiasa dengan motor berkapasitas lebih besar.

Assistant General Manager CS Division PT YIMM Johannes B.M. Siahaan menjelaskan, ajang Asia Road Racing Championship (ARRC) menjadi jalur utama menuju kompetisi dunia.

Baca juga: Efisiensi Biaya Jadi Pertimbangan Konsumen Daerah Beli Mobil Listrik

Tim Yamaha Racing Indonesia Siap Dominasi kejuaraan Asia dan duniaKOMPAS.com/FATHAN Tim Yamaha Racing Indonesia Siap Dominasi kejuaraan Asia dan dunia

“Kami lihat ARRC adalah jembatan ke arah lebih tinggi, seperti Aldi yang sekarang sudah sampai level dunia. Kalau dia berprestasi di ARRC, ini akan kita jadikan untuk tanding di tingkat dunia,” ujar Johannes.

Ia menambahkan, Yamaha secara konsisten merekrut pebalap usia muda agar memiliki karier panjang di balap internasional.

“Kita selalu memilih pebalap muda untuk bertanding di ARRC. Di AP250, kita mengambil pebalap usia lebih kurang 15-16 tahun, sehingga di usia 18 tahun harapan kami dia sudah bisa bermain di Eropa,” kata Johannes.

Bahkan, program pembinaan kini dimulai lebih awal dengan menyiapkan pebalap berusia 13 tahun sebagai investasi masa depan.

“Tahun ini kita persiapkan usia 13 tahun ya Sabian, itu untuk bibit kita nanti ke depan. Kita harapkan tim mengorbitkan rider lebih muda, supaya dia punya karir panjang untuk main di level dunia,” ujar Johannes.

Strategi tersebut terinspirasi dari keberhasilan Aldi Satya Mahendra yang menjadi juara dunia World Supersport 300 (WSSP300) dan baru-baru ini meraih podium kedua pada ajang World Supersport (WSSP) musim 2026.

Pencapaian itu menjadi bukti bahwa sistem pembinaan berjenjang Yamaha Racing Indonesia mampu mengantarkan pebalap nasional bersaing di panggung balap dunia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau