Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AC Mobil Ternyata TakTerlalu Pengaruhi Konsumsi BBM, Ini Penjelasannya

Kompas.com, 26 Maret 2026, 11:12 WIB
Muh. Ilham Nurul Karim,
Aditya Maulana

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Penggunaan AC mobil kerap dituding sebagai penyebab utama borosnya konsumsi bahan bakar, terutama saat perjalanan jauh seperti mudik Lebaran.

Tidak sedikit pengendara yang sengaja mematikan AC demi menghemat BBM, meski harus mengorbankan kenyamanan selama di perjalanan.

Menurut Gunawan, pemilik Premium99 AC, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Ia menyebut, kontribusi AC terhadap konsumsi bahan bakar sebenarnya tidak terlalu signifikan jika dibandingkan faktor lain.

Baca juga: Mau Dapat Diskon Tarif Tol 30 Persen Saat Arus Balik, Ada Syaratnya!

“AC memang mengambil tenaga mesin, tapi tidak sebesar yang dibayangkan banyak orang. Jadi bukan faktor utama yang bikin BBM jadi boros,” kata Gunawan kepada Kompas.com, Rabu (25/3/2026).

Gunawan menjelaskan, dalam kondisi normal, sistem AC hanya memberikan tambahan beban ringan pada mesin. Artinya, selama komponen AC bekerja dengan baik, pengaruhnya terhadap konsumsi BBM masih dalam batas wajar.

Sebaliknya, konsumsi bahan bakar justru lebih dipengaruhi oleh kondisi perjalanan, seperti kemacetan, pola berkendara, hingga beban kendaraan. Saat mudik atau arus balik, misalnya, mobil biasanya diisi penuh penumpang dan barang, sehingga kerja mesin menjadi lebih berat.

Arus balik mudik lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah di ruas Tol Purbaleunyi mulai mencapai puncaknya pada H+3 Lebaran, Selasa (24/3/2026) sore.KOMPAS.com/BAGUS PUJI PANUNTUN Arus balik mudik lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah di ruas Tol Purbaleunyi mulai mencapai puncaknya pada H+3 Lebaran, Selasa (24/3/2026) sore.

“Kalau mobil bawa banyak barang, terus sering kena macet, itu jauh lebih berpengaruh ke konsumsi BBM dibanding AC,” ujarnya.

Selain itu, kondisi lalu lintas yang tidak menentu juga membuat pengemudi sulit menjaga kecepatan konstan. Padahal, efisiensi bahan bakar lebih mudah dicapai saat mobil melaju stabil, misalnya di jalan tol yang lancar.

Dalam situasi stop and go seperti macet panjang, mesin akan bekerja lebih keras karena harus berulang kali berakselerasi. Hal inilah yang membuat konsumsi BBM meningkat, bukan semata karena penggunaan AC.

Gunawan pun menyarankan agar pengendara tidak terlalu fokus mematikan AC demi menghemat bahan bakar, terutama saat perjalanan jauh. Menurutnya, kenyamanan selama berkendara juga penting untuk menjaga konsentrasi dan mengurangi kelelahan.

Baca juga: Arus Balik Lebaran 2026: 1,9 Juta Kendaraan Kembali ke Jabotabek

“Yang penting AC dalam kondisi sehat dan digunakan secara wajar. Jangan sampai karena ingin hemat, justru perjalanan jadi tidak nyaman dan berisiko,” kata dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau