Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BMKG Ingatkan Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Kaltim Diprediksi Masuki Puncak Kering pada Agustus

Kompas.com, 27 Maret 2026, 09:05 WIB
Erik Alfian,
Aloysius Gonsaga AE

Tim Redaksi

BALIKPAPAN, KOMPAS.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait datangnya musim kemarau 2026 yang diprediksi tiba lebih awal dan bertahan lebih lama dari biasanya.

Fenomena ini diperkirakan melanda sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan Timur, dengan risiko utama berupa kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala BMKG Stasiun SAMS Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono, mengungkapkan bahwa pergeseran iklim ini membuat puncak kemarau di Kalimantan Timur pada Agustus 2026 akan terasa lebih kering dibandingkan rata-rata tahunan.

"Rerata klimatologinya menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau tahun 2026 lebih awal," jelas Djoko pada Rabu (25/3/2026).

Baca juga: 60 Persen Peluang La Nina Bergeser ke El Nino pada 2026, Waspada Cuaca Ekstrem

Dipicu berakhirnya La Nina lemah

Berdasarkan data resmi BMKG per 4 Maret 2026, perubahan pola musim ini dipicu berakhirnya fenomena La Nina lemah sejak Februari lalu.

Saat ini, indeks ENSO berada pada fase netral di angka minus 0,28. Namun, memasuki pertengahan tahun, terdapat peluang sebesar 50 hingga 60 persen munculnya El Nino kategori lemah hingga moderat.

BMKG mencatat, proses masuknya musim kemarau terjadi secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia.

Pada April 2026, sebanyak 114 zona musim (ZOM) atau sekitar 16,3 persen wilayah mulai memasuki periode kemarau.

Jumlah tersebut kemudian meningkat pada Mei menjadi 184 ZOM atau sekitar 26,3 persen wilayah.

Baca juga: Suhu Bumi Tetap Ekstrem Selama 11 Tahun Meski Ada La Nina

Selanjutnya pada Juni, sebanyak 163 ZOM atau sekitar 23,3 persen wilayah juga diperkirakan menyusul memasuki musim kemarau.

Secara akumulatif, 46,5 persen wilayah Indonesia, mulai dari Sumatra hingga Papua, akan merasakan awal kemarau yang lebih maju dari kondisi normal.

Puncak kekeringan secara nasional diprediksi terjadi serentak pada Agustus, mencakup 61,4 persen wilayah Indonesia.

Langkah mitigasi

Menghadapi proyeksi curah hujan yang berada di bawah normal bagi 64,5 persen wilayah Indonesia, BMKG mendorong langkah konkret di berbagai sektor.

Petani disarankan segera menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas yang hemat air.

Sementara itu, pengelolaan waduk dan distribusi air bersih harus dioptimalkan untuk menjaga ketahanan sumber daya air masyarakat.

Baca juga: El Nino dan La Nina Picu Kekeringan dan Banjir Ekstrem Bersamaan

Di sektor lingkungan, kewaspadaan terhadap karhutla dan penurunan kualitas udara menjadi prioritas, khususnya di wilayah rawan seperti Kalimantan.

Terkait maraknya istilah "Gorilla El Nino" yang sempat beredar di media sosial, Djoko menegaskan bahwa diksi tersebut bukan berasal dari otoritas meteorologi resmi.

Masyarakat diminta tetap tenang dan hanya merujuk pada data teknis yang dikeluarkan oleh BMKG.

"BMKG tidak mengenal istilah tersebut," tegas Djoko.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Remaja ODGJ di Jember Dipasung Keluarga, Sempat Mengamuk dan Cekik Ibunya
Remaja ODGJ di Jember Dipasung Keluarga, Sempat Mengamuk dan Cekik Ibunya
Regional
Geger Penemuan Kerangka Manusia di Lereng Gunung Muria Pati, Identitas Masih Misterius
Geger Penemuan Kerangka Manusia di Lereng Gunung Muria Pati, Identitas Masih Misterius
Regional
Fakta Pria di Kebumen Diduga Cabuli Belasan Anak di Bawah Umur
Fakta Pria di Kebumen Diduga Cabuli Belasan Anak di Bawah Umur
Regional
Aset BUMD Jateng Tembus Rp 118 Triliun, Ahmad Luthfi: Tidak Untung, Tidak Usah Jadi BUMD!
Aset BUMD Jateng Tembus Rp 118 Triliun, Ahmad Luthfi: Tidak Untung, Tidak Usah Jadi BUMD!
Regional
Gugur di Lebanon, Sosok Sertu Ichwan di Mata Eks Atasan: Prajurit Loyal dan Disiplin
Gugur di Lebanon, Sosok Sertu Ichwan di Mata Eks Atasan: Prajurit Loyal dan Disiplin
Regional
Pemprov Maluku Segera Terapkan WFH, Gubernur: Konsekuensi Kondisi Global
Pemprov Maluku Segera Terapkan WFH, Gubernur: Konsekuensi Kondisi Global
Regional
Eks Dirut BUMD Serang Dituntut 6 Tahun Penjara, Jaksa Ungkap Transaksi 'Kickback' di Parkiran Mal
Eks Dirut BUMD Serang Dituntut 6 Tahun Penjara, Jaksa Ungkap Transaksi 'Kickback' di Parkiran Mal
Regional
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Regional
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat 'Tagging'
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat "Tagging"
Regional
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Regional
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Regional
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Regional
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Regional
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Regional
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi 'Si Apik'
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi "Si Apik"
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
BMKG Ingatkan Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Kaltim Diprediksi Masuki Puncak Kering pada Agustus
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat