BANYUWANGI, KOMPAS.com — Kemacetan panjang kembali terjadi di lintasan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk.
Dari pantauan Kompas.com, antrean kendaraan dari jalur Situbondo menuju Pelabuhan Ketapang sempat mengular hingga sekitar 15 kilometer.
“Ini terjadi kemacetan sudah beberapa kali, masak iya masyarakat yang harus dipaksa terus-menerus untuk menanggung beban ini,” kata Ketua Asosiasi Sopir Logistik Indonesia (ASLI) Selamet Barokah, Selasa (31/3/2026).
Baca juga: Pasca-Lebaran 2026, Mengapa Pelabuhan Ketapang Masih Macet hingga 15 Kilometer?
Selamet menegaskan, antrean panjang di lintasan penyeberangan tersebut bukan lagi kejadian baru, melainkan persoalan berulang yang belum mendapat solusi nyata.
Ia menilai kondisi ini seolah dibiarkan, sementara masyarakat terus menanggung dampaknya.
Menurut Selamet, setiap kali kemacetan terjadi, masyarakat selalu berada di posisi paling dirugikan.
Waktu terbuang, tenaga terkuras, hingga biaya operasional meningkat tanpa kepastian kapan kondisi akan membaik.
“Kami masyarakat sudah banyak mengorbankan waktu, tenaga dan bahkan biaya dalam kondisi seperti ini,” ujarnya.
Para sopir logistik, pengguna kendaraan pribadi, hingga pelaku usaha harus menghadapi antrean panjang, ketidakpastian, dan minimnya kejelasan penanganan.
Baca juga: Puncak Arus Balik Ketapang-Gilimanuk Lewat, Antrean Kendaraan Masih Tersisa 12 Km
Selamet menilai pola kemacetan yang terus berulang menunjukkan persoalan di lintasan Ketapang-Gilimanuk bukan sekadar gangguan sementara.
Jika kondisi ini terus terjadi, dampaknya dikhawatirkan meluas hingga mengganggu aktivitas ekonomi.
Ia pun mendesak pemerintah untuk segera menghadirkan langkah konkret, bukan sekadar respons sementara setiap kali kemacetan muncul.
Tanpa solusi nyata, masyarakat dinilai akan terus menjadi pihak yang paling dirugikan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang