Penulis
KOMPAS.com - Laporan terbaru Henley Passport Index 2026 kembali menyoroti ketimpangan mobilitas global antara negara-negara di dunia.
Tahun ini, dua negara tetangga Indonesia, yaitu Singapura dan Malaysia, kembali menunjukkan dominasinya dengan menembus jajaran 10 besar paspor terkuat.
Namun di tengah pencapaian itu, muncul pertanyaan: di mana posisi Indonesia?
Singapura kembali mempertahankan tahtanya sebagai pemegang paspor terkuat di dunia pada 2026.
Warga Singapura kini dapat menikmati akses bebas visa ke 192 negara dari total 227 negara dan teritori yang dinilai Henley Passport Index.
Baca juga: Awas Disuruh Pulang Saat Sampai Imigrasi, Cek Syarat Ganti Paspor dan Biayanya
Angka ini tidak hanya mencerminkan kekuatan diplomasi Singapura, tetapi juga stabilitas ekonomi dan reputasi global yang terus terjaga.
Dengan keunggulan tersebut, pemegang paspor Singapura mendapatkan keuntungan besar: perjalanan internasional lebih mudah, antrean imigrasi lebih singkat, dan fleksibilitas mobilitas global yang sulit ditandingi negara mana pun saat ini.
Tak hanya Singapura, Malaysia juga mencatat prestasi besar dengan menembus peringkat 9 dunia melalui akses bebas visa ke 180 negara.
Paspor Malaysia naik ke posisi tiga besar dunia.Dengan pencapaian ini, Malaysia menjadi satu-satunya negara Asia Tenggara selain Singapura yang masuk dalam daftar 10 besar paspor terkuat 2026.
Capaian tersebut dinilai merupakan hasil dari hubungan diplomatik Malaysia yang semakin kuat serta upaya konsisten dalam memperluas kerja sama internasional.
Tahun ini, negara-negara Asia kembali memperlihatkan dominasinya dalam indeks paspor global. Jepang dan Korea Selatan berbagi posisi kedua dengan akses bebas visa ke 188 negara.
Di posisi ketiga terdapat lima negara Eropa: Denmark, Luksemburg, Spanyol, Swedia, dan Swiss yang masing-masing mengantongi akses ke 186 negara.
Baca juga: E-Paspor Indonesia Kini Pakai Fitur Keamanan Baru, Apa yang Beda?
Tren ini menunjukkan bahwa Asia, khususnya Asia Timur dan Asia Tenggara, kini menjadi pusat kekuatan mobilitas global.
Sementara Asia semakin kuat, negara-negara Barat justru mengalami tren sebaliknya.
Inggris turun ke peringkat tujuh, hanya dengan akses bebas visa ke 182 negara, turun delapan destinasi dari tahun sebelumnya.