Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Setelah 20 Tahun Gratis, Inggris Kaji Tiket Masuk Museum untuk Turis

Kompas.com, 1 April 2026, 15:28 WIB
Devi Ramadhany,
Ayunda Pininta Kasih

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pemerintah Inggris tengah mengkaji kebijakan baru berupa pungutan biaya masuk museum bagi wisatawan asing.

Dilansir dari The Guardian, wacana ini muncul sebagai bagian dari upaya mencari sumber pendanaan baru untuk sektor seni yang tengah mengalami tekanan finansial.

Pemerintah menilai perlu ada solusi jangka panjang untuk menjaga keberlangsungan museum dan institusi budaya.

Baca juga: Ada Kota Bernuansa Inggris di China, Seperti Apa Bentuknya?

Selama ini, museum nasional di Inggris tidak memiliki biaya masuk, gratis bagi semua pengunjung sejak 2001.

Kebijakan tersebut dinilai berhasil meningkatkan jumlah kunjungan serta memperluas akses masyarakat terhadap seni dan budaya.

Namun, dalam evaluasi baru-baru ini terhadap sistem pendanaan seni melalui Arts Council England, muncul usulan agar wisatawan internasional dikenakan biaya masuk untuk koleksi permanen museum.

Baca juga: Makin Mudah, Orang Indonesia ke Inggris Kini Pakai Visa Elektronik

Langkah ini dinilai dapat membantu meningkatkan pendapatan sektor budaya yang selama ini bergantung pada dana publik.

Selain opsi tiket masuk, pemerintah juga mempertimbangkan alternatif lain seperti pajak turis melalui hotel (hotel levy) sebagai sumber pendanaan tambahan.

Bahkan, survei menunjukkan sekitar 72 persen masyarakat mendukung skema pajak turis untuk menjaga museum tetap gratis bagi publik.

Baca juga: Inggris Wanti-wanti Warga Negara yang Punya Paspor Ganda Mulai 25 Februari

Meski demikian, wacana ini menuai kritik dari sejumlah pihak.

Direktur Cultural Policy Unit, Alison Cole, menilai kebijakan tersebut bukanlah solusi yang tepat dan justru berpotensi merugikan sektor pariwisata.

Ia menilai pajak turis lebih efektif dibandingkan membebankan biaya langsung kepada pengunjung museum.

Baca juga: Jangan Salah! Ada Aturan Baru Liburan ke Inggris, 85 Negara Wajib ETA

Penolakan juga datang dari pelaku industri seni.

Mereka berargumen bahwa kebijakan tiket gratis selama ini berkontribusi besar terhadap reputasi internasional Inggris sebagai negara dengan akses budaya terbuka.

Selain itu, museum gratis dinilai mendorong wisatawan untuk tetap datang dan membelanjakan uang mereka di sektor lain seperti hotel, transportasi, dan restoran.

Baca juga: Tak Perlu ke Inggris, Diagon Alley Kini Ada di Jatim Park 3, Spot Favorit Potterhead

Di sisi lain, pemerintah menegaskan bahwa keputusan akhir belum diambil.

Opsi ini masih dalam tahap kajian bersama pelaku sektor museum untuk melihat potensi manfaat dan dampaknya secara menyeluruh.

Jika diterapkan, kebijakan ini akan menjadi perubahan besar dalam sistem akses museum di Inggris yang selama lebih dari dua dekade dikenal terbuka gratis bagi semua kalangan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Liburan Sambil Peduli Bumi, Ini 7 Wisata Ramah Lingkungan di Indonesia
Liburan Sambil Peduli Bumi, Ini 7 Wisata Ramah Lingkungan di Indonesia
Travel Ideas
Setelah 20 Tahun Gratis, Inggris Kaji Tiket Masuk Museum untuk Turis
Setelah 20 Tahun Gratis, Inggris Kaji Tiket Masuk Museum untuk Turis
Travel News
Berburu Jejak BTS di Korea Selatan, dari Gang Sempit hingga Pantai Ikonik
Berburu Jejak BTS di Korea Selatan, dari Gang Sempit hingga Pantai Ikonik
Travel News
Rekomendasi 7 Obyek Wisata di Bukit Sekipan Tawangmangu, Cocok Untuk Keluarga
Rekomendasi 7 Obyek Wisata di Bukit Sekipan Tawangmangu, Cocok Untuk Keluarga
Travel Ideas
Rekomendasi 7 Tempat Wisata di Malang Raya, Banyak Pemandangan Alam
Rekomendasi 7 Tempat Wisata di Malang Raya, Banyak Pemandangan Alam
Travel Ideas
Labuan Bajo Bakal Hening 9 Jam Saat Jumat Agung 2026, Apa Itu?
Labuan Bajo Bakal Hening 9 Jam Saat Jumat Agung 2026, Apa Itu?
Travel News
3 April 2026 Libur Apa? Bisa Lanjut Long Weekend
3 April 2026 Libur Apa? Bisa Lanjut Long Weekend
Travel News
Bandara Internasional Palm Beach akan Ganti Nama Jadi Bandara Donald Trump
Bandara Internasional Palm Beach akan Ganti Nama Jadi Bandara Donald Trump
Travel News
Daftar Libur April 2026, Ada Long Weekend
Daftar Libur April 2026, Ada Long Weekend
Travel News
Penumpang Trans Jatim Malang Raya Melonjak Saat Libur Lebaran, Kota Batu Jadi Favorit
Penumpang Trans Jatim Malang Raya Melonjak Saat Libur Lebaran, Kota Batu Jadi Favorit
Travel News
Jatiluwih Bali Panen Turis Saat Libur Lebaran 2026, Diserbu 7.983 Wisatawan
Jatiluwih Bali Panen Turis Saat Libur Lebaran 2026, Diserbu 7.983 Wisatawan
Travel News
Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO, Ini 8 Fakta Menarik Taman Nasional Komodo
Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO, Ini 8 Fakta Menarik Taman Nasional Komodo
Travelpedia
Ada dari Indonesia! Ini Daftar Pantai Terbaik Asia Tenggara Versi Conde Nast Traveler
Ada dari Indonesia! Ini Daftar Pantai Terbaik Asia Tenggara Versi Conde Nast Traveler
Travel News
Kasus Amsal Sitepu Picu Aturan Baru, Standar Biaya Kretif Desa Wisata Akan Diatur
Kasus Amsal Sitepu Picu Aturan Baru, Standar Biaya Kretif Desa Wisata Akan Diatur
Travel News
Lebih dari 100 Persen Tiket KA Jarak Jauh Terjual Selama Lebaran 2026
Lebih dari 100 Persen Tiket KA Jarak Jauh Terjual Selama Lebaran 2026
Travel News
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau