KOMPAS.com - Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran membuat kunjungan wisatawan Timur Tengah cenderung menurun akibat keterbatasan penerbangan.
Saat ini, Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Agung Rai Suryawijaya (ARS), mengatakan, jumlah tamu Timur Tengah di hotel-hotel Bali tidak merosot, tapi juga tidak ada peningkatan.
"Biasanya tamu dari Timur Tengah, Amerika, dan Eropa, itu bagus ya. Sekarang ketika terganggu market ini, tentu kita punya strategi untuk mengupayakan promosi, mengganti market Middle East ini," ungkap ARS ketika dihubungi Kompas.com, Rabu (4/3/2026).
Baca juga: Update Terkini: Penerbangan dari Bali ke Timur Tengah Hari Ini Masih Terganggu
Selain Australia dan China yang sudah menjadi tamu andalan pariwisata di Bali, PHRI Bali juga berencana menargetkan tamu dari negara-negara Asia.
Di antaranya tamu-tamu dari Singapura, Malaysia, Thailand, Jepang, hingga Korea Selatan.
"Kami akan berusaha push seperti itu, tapi saya harapkan tamu-tamu Eropa juga. Kalau ke Bali tidak bisa melalui Doha, Abu Dhabi, atau Dubai, bisa juga melalui China atau Taipei," ungkap ARS.
Namun, ARS tidak menyangkal bila durasi perjalannya semakin panjang karena perlu melakukan transit sebanyak dua kali, demi menghindari wilayah udara Timur Tengah yang terdampak konflik AS-Iran.
Baca juga: Bali Jadi Destinasi Terbaik Dunia 2026 Versi Tripadvisor
Ia mengungkapkan bahwa turis asing paling besar di Bali berasal dari Australia, diikuti India dan China. Peringkat ini bisa berubah-ubah tergantung musim liburan.
Khusus pasar Timur Tengah, jumlah wisatawannya mencapai tujuh persen dari total turis asing di Bali.
Jika bicara soal kualitas, turis Timur Tengah berada di peringkat teratas berdasarkan pola pengeluaran, termasuk belanja, durasi menginap, dan perilaku selama berada di Bali.
Baca juga: Promo Lebaran 2026, Naik Transjakarta, MRT, dan LRT Cuma Bayar Rp 1
Demi menggaet kembali turis Timur Tengah ke Bali, ARS berharap konflik yang tengah terjadi bisa segera berakhir.
"Segeralah ada kesepakatan damai karena perang akan menyiksakan kehancuran dan juga dendam, merugikan ekonomi kita. Ini akan terjadi global, terpengaruh karena harga-harga juga enggak karuan nanti," pungkasnya.
Baca juga: Malaysia Airlines Kembali Operasikan Rute Jeddah-Madinah Hari Ini
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang