KOMPAS.com - Di Distrik Songjiang, Shanghai, China, ada sebuah kota yang dibangun dengan konsep serupa suasana desa di Inggris. Kota ini bernama Thames Town, jaraknya sekitar 19 mil dari pusat Shanghai.
Dikutip dari Express, kota ini berkonsep seperti kota-kota di Inggris. Lengkap dengan jalanan berbatu, ruang telepon berbentuk kotak warna merah, hingga deretan rumah bergaya Victoria, dan toko-toko di sudut jalan.
Nama Thames Town diambil dari Sungai Thames, yang mana bagian dari proyek pengembangan One City, Nine Towns. Protek ini diluncurkan pada tahun 2001, tujuannya untuk mengurangi kepadatan penduduk di Shanghai.
Baca juga:
Menambahkan dari Mirror, pembangunan kota vibes Inggris di China ini dilaporkan menelan biaya sebesar 530 euro.
Seorang Youtuber bernama Ben Morris sempat berkunjung ke sana, dan menurutnya kawasan tersebut seperti Milton Keynes.
Ben yang berasal dari Inggris, dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di Inggrs, mengaku saat berkunjung ke Thames Town, merasa dirinya benar-benar sedang berada di Inggris.
Baca juga:
Thames Town, kota rasa Inggris di China."Saya berasal dari Inggris, saya telah tinggal sebagian besar hidup saya di Inggris, dan saya merasa seolah-olah saya bisa berada di Inggris sekarang, kecuali plat nomor Cina dan kurangnya kejahatan," kata Ben, dikutip dari Mirror.
Kawasan Thames Tow juga menjadi spot yang banyak dicari oleh pasangan Tionghoa untuk menjadi landaskap foto pernikahan.
Selain suasana kota serupa di Inggris, di sana juga terdapat bangunan yang terinspirasi oleh gaya Tudor.
Di Thames Town juga ada sebuah gereja yang didasarkan pada Christ Church di Clifton, Bristol,sebuah toko ikan dan kentang goreng, gerai KFC, dan bahkan replika Costa Coffee.
Baca juga: China Larang Warganya Liburan ke Jepang, Batalkan 49 Rute Penerbangan
Properti hunian di sana dirancang dengan gaya arsitektur Georgia dan Victoria. Kata Ben, Thames Town dapat menjadi destinasi untuk pelarian dari kehidupan kota Shanghai yang hiruk pikuk.
"Jujur saja, kota ini jauh lebih bagus daripada banyak kota yang pernah saya kunjungi di Inggris. Saya tidak mengerti mengapa orang menyebut tempat ini kota hantu karena tempat ini penuh dengan aktivitas," ujarnya.
Untuk diketahui, di samping menariknya vibes Thames Town, kawasan ini juga kerap disebut sebagai kota hantu.
Pasalnya, banyak rumah dan kota yang tidak dihuni, hanya digunakan sebagai tempat singgah, temat liburan, dan taman rekreasi yang unik. Hal ini menciptakan suasana "kota hantu" yang agak menyeramkan.
Baca juga: Maskapai China Buka Penerbangan Terpanjang di Dunia, Melintasi 3 Benua
Menambahkan dari Far Out Magazine, sebagian besar wilayah tersebut kosong. Banyak properti tampaknya beroperasi sebagai rumah liburan atau benar-benar kosong.
Kondisi ini, bertolak belakang dengan tujuan awal pembangunan Thames Tonwn, yaitu untuk mengurangi masalah perumahan sosial dan kemacetan.
Sementara itu, populasi di Shanghai diperkirakan akan mencapai 25 juta jiwa dalam waktu dekat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang